Harga CPO

Optimis 2020 Tren Positif Harga CPO 

Pelaku industri kelapa sawit optimis penjualan minyak kelapa sawit memiliki prospek yang baik di tahun 2020.

Optimis 2020 Tren Positif Harga CPO 
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj.
Pekerja memasukkan Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke dalam truk di salah satu tempat penampungan di Desa Seumantok, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Sabtu (7/12). Salah satu komoditi pertanian yang naik di tingkat petani adalah sawit, di Jambi harga hasil pertanian naik 1,41 persen sehingga berimbas pada NTP. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Pelaku industri kelapa sawit optimis penjualan minyak kelapa sawit memiliki prospek yang baik di tahun 2020.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono mengatakan mandatori biodiesel 30% (B30) akan meningkatkan serapan konsumsi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO)pada tahun depan.

Di sisi lain, musim kemarau berkepanjangan yang terjadi pada tahun 2019 berpotensi menyebabkan terjadinya perlambatan laju pertumbuhan produksi CPO pada tahun 2020 mendatang.

“Nampaknya kenaikan produksi baik di Indonesia maupun Malaysia tidak setinggi (pertumbuhan) produksi di tahun 2019 dibandingkan dengan 2018,” ujar Mukti kepada Kontan.co.id (30/12).

Sebagai gambaran, menurut Juru Bicara GAPKI Tofan Mahdi, produksi CPO di tahun 2018 tercatat sebesar 47 juta ton.

Sementara itu, estimasi produksi CPO di tahun 2019 diperkirakan akan mencapai 50 juta ton, atau naik tipis sekitar 6,38% dibanding produksi CPO tahun 2018.

Mukti berharap kedua faktor ini diharapkan mampu menahan harga rata-rata CPO di atas US$ 700 per ton. Sebagai gambaran, Mukti mencatat harga rata-rata CPO berada di level US$ 500 per ton ketika harga CPO tertekan pada beberapa waktu lalu.

Di tengah kondisi yang demikian, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) menargetkan produksi Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan inti perseroan bisa bertumbuh sebesar 5% dibanding produksi perkebunan inti tahun 2019 yang diproyeksikan mencapai 1,40 juta ton pada tahun 2020.

Untuk menunjang realisasi dari target tersebut, SGRO menganggarkan dana sebesar Rp 400 miliar atau setara dengan ? dari anggaran belanja modal tahun depan (capital expenditure/capex) untuk pemeliharaan dan pengembangan asset perkebunan seperti misalnya pembelian pupuk, pemeliharaan tanaman, dan sebagainya.

Tidak hanya itu, SGRO juga akan terus melakukan intensifikasi guna mendongkrak produksi TBS. “Caranya yakni dengan pemupukan, water management, dan pemeliharaan kebun yang mengadopsi praktik agronomi terbaik,” kata Sekretaris Perusahaan PT Sampoerna Agro Tbk, Michael Kesuma kepada Kontan.co.id (30/12).

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved