Sejarah Indonesia

Penjaga Terakhir Soekarno Dikenal dengan Nama Den Harin, Satuan Kuat Lebih Mengerikan dari Kopassus

Penjaga Terakhir Soekarno Dikenal dengan Nama Den Harin, Satuan Kuat Lebih Mengerikan dari Kopassus

Kolase/Shutterstock/nepandseus.com
Ilustrasi Den Harin 

Penjaga Terakhir Soekarno Dikenal dengan Nama Den Harin, Satuan Kuat Lebih Mengerikan dari Kopassus

TRIBUNJAMBI.COM -Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno selalu berhasil meninggalkan cerita mengesankan hingga saat ini menarik untuk diulas.

Satu contohnya adalah cerita penjaga terakhir Soekarno yang jarang terekspos.

Cerita tentang para penjaga Soekarno sebelum kehebatan Kopassus dikenal dan diakui dunia.

GANGSTER Yakuza Kawal Presiden Soekarno saat Kunjungan ke Jepang: Soekarno Diancam Mau Dibunuh

Megawati Soekarnoputri Tantang Pengusung Khilafah

Kisah Soekarno Perintahkan Eksekusi Mati Sahabat Kecilnya, yang Ditanya Bagaimana Sorot Matanya

Kartini Manoppo Dipepet di Ruang Tamu, Pramugari Garuda Bikin Soekarno Jatuh Hati

Pasukan Den Harin ternyata sangat terkenal saat zaman Soekarno menjabat sebagai Presiden Indonesia saat itu.

erikut cerita lebih lengkapnya, seperti dikutip dari Tribun Jambi.

Aksi pasukan Den Harin sangat ditakuti seperti halnya pasukan elite saat ini, Kopassus.

Sebelumya, Presiden Soekarno lakukan Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, namun hal ini sulit untuk dilihat oleh masyarakat.

Khususnya oleh rakyat Sulawesi Selatan karena masih jarang yang memiliki radio.

Oleh karena itu, pasukan NICA dan KNIL yang sudah dibebaskan oleh pasukan Jepang dari tahanan memanfaatkan situasi minimnya informasi di Sulawesi Selatan itu untuk mengambil alih kekuasaan.

Pasukan NICA dan KNIl yang dengan cepat melakukan konsolidasi itu langsung memiliki pengaruh karena didukung persenjataan hasil rampasan dari pasukan Jepang yang sudah menyerah kepada Sekutu.

ILUSTRASI - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat dievakuasi pasukan Raider 300 Brajawijaya dalam simulasi pembebasan sandera di Pendopo Pemkab Purwakarta, Kamis (31/8/2017).
ILUSTRASI pasukan

Pada 24 September 1945, pasukan Sekutu (Australia-Belanda) mendarat di Makassar untuk melaksanakan misi pembebasan tawanan pasukan Belanda yang ditahan Jepang sekaligus melucuti persenjataan pasukan Jepang.

Pasukan Sekutu itu selain membawa pasukan Belanda juga membekali diri dengan “surat sakti”, yakni Perjanjian Postdam yang ditandatangani pada 26 Juli 1945.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved