Harbolnas

Asosiasi Logistik Indonesia Prediksi Harbolnas 12.12 Tak Seramai Tahun Lalu

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memperkirakan pada Harbolnas 12.12 besok volume pengiriman barang akan meningkat

Asosiasi Logistik Indonesia Prediksi Harbolnas 12.12 Tak Seramai Tahun Lalu
Grafis TribunKaltim.co/Syaiful Syafar
1 hari Menjelang Harbolnas 2019, Promo 12.12 Birthday Sale, Berikut Tips Agar Tidak Kehabisan Diskon 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memperkirakan pada Harbolnas 12.12 besok
volume pengiriman barang akan meningkat dua kali lipat. Jumlah tersebut tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan Harbolnas tahun sebelumnya.

Zaldy Ilham Masita, Chairman ALI menyebut bahwa perbedaannya pada tahun ini aktivitas e-commerce di tanggal-tanggal cantik seperti 9.9, 10.10 dan11.11 sudah menggenjot volume. Oleh karena itu, dirinya menyatakan perusahaan logistik sudah siap mengantisipasi hal tersebut.

"Dulu Harbolnas 12.12 tidak ada saingannya sekarang ada 11.11 dan lainnya jadi cukup terbagi. Prediksi kami paling (volume) naik dua kali. Biasanya 3-4 kali dari harian. Jadi kalau hariannya 4jt paket per hari ya ini bisa 8 juta paket pas Harbolnas," ujarnya di Jakarta, Rabu (11/12)

Ia menyebut memang kendala saat lonjakan permintaan adalah keterlambatan pengiriman. Pasalnya, sebagian perusahaan logistik di Indonesia belum menerapkan mesin sortir otomatis sehingga keterbatasan tenaga pekerja menjadi hambatan ketikan pengiriman naik.

"Proses sorting manual, kalau semua numpuk di satu tempat kan kekunci barang jadi tidak bisa keluar dan masuk. Karena lokasi tidak pakai mesin automasi," lanjutnya.

Saat ini dari sekitar 2.000 perusahaan logistik menurutnya hanya ada satu sampai dua saja yang memiliki mesin sortir otomatis.

Untuk investasi mesin sortir otomatis saat ini menurutnya juga tidak terlalu mahal.

"Investasi sortir machine tidak mahal, paling minimal Rp 10 miliar sampai Rp 20 miliar tetapi memang percuma kalau dia baca dan kemudian reject karena tidak ada kode pos," tambahnya.

Penerapan teknologi tersebut di Indonesia menurutnya terkendala oleh belum rapinya infrastruktur pendukung. Misalnya terkait kode pos untuk pengiriman dan beberapa masalah lain yang membuat penerapan teknologi di sektor logistik terhambat.

Misalnya masih banyak alamat pengiriman yang menggunakan patokan tempat dan tidak presisi karena tidak terstandardisasi.

Hal ini yang belum memungkinkan pengiriman menggunakan drone dan teknologi lainnya bila belum terstandar dengan baik.

"Kita mungkin baru di industri 2.0 itu pun sudah terstandar. Standardisasi logistik di Indonesia kan tidak terjadi," tutupnya.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved