Minggu, 26 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Usaha Penggilingan Gabah Terancam Bangkrut, Banyak Sawah Jadi Kebun Sawit

Banyak petani yang beralih tanam dan keterbatasan lahan, ditengarai menjadi penyebab sepinya masyarakat yang melakukan penggilingan padi (gabah).

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Fifi Suryani
Tribunjambi/Abdullah Usman
Penggilingan padi di Tanjab Timur terancam gulung tikar. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Banyak petani yang beralih tanam dan keterbatasan lahan, ditengarai menjadi penyebab sepinya masyarakat yang melakukan penggilingan padi (gabah).

Tidak dipungkiri, sejak tahun 2000-an kiblat masyarakat Tanjung Jabung Timur dari sektor bercocok tanam mulai berubah, dulunya masyarakat mengandalkan padi sebagai sumber penghasilan kini berubah drastis.

Ditambah yang dulunya masih banyak dijumpai hutan dan semak belukar, yang sejatinya merupakan lahan empuk bagi masyarakat untuk dibuka dan dijadikan lahan pertanian kini tidak lagi dijumpai.

Pemilik penggilingan gabah di Muara Sabak Timur, Ambok Intang mengatakan, bukan tanpa sebab industri penggilingan padi semakin sepi dan melemah. Karena usaha tersebut sangat bergantung pada padi yang dihasilkan para petani setempat.

"Kalau petani dak lagi nanam padi macam mana bisa kita bertahan, sekarang petani yang nanam padi jumlah besar itu sudah sulit," ujarnya.

"Banyak petani yang beralih tanaman sawit dan perkebunan lainnya. Bahkan permasalahan utamanya lahan yang bisa digarap petani itu tidak ada lagi," bebernya.

Sementara itu A Yani, warga Muara Sabak Timur menuturkan, para petani beralih tidak lagi bercocok tanam tersebut bukan tanpa alasan dan bukan karena kemauan melainkan karena keadaan.

"Dulu saat jaya-jayanya petani, dimanapun ada lahan kosong yang siap digarap, para petani mau membukanya untuk bercocok tanam meskipun harus berjalan menembus semak belukar. Kalau sekarang bukan tidak mau tempatnya sudah tidak ada lagi," ujarnya.

Kalau untuk di Sabak Timur khususnya Muara Sabak pada tahun 2010-2012 masih ada para petani yang menanam padi. Meski jumlah kecil dan seadanya masih ada.

"Itu pun harus tumpangsari dengan tanaman pinang yang baru ditanam. Hasilnya juga lebih dari cukup dan harus berbagi dengan hama," ujarnya.

"Kita bersyukur di wilayah lain masih ada petani yang bertahan hingga saat ini, dan itu perlu dukungan dari pemerintah," pungkasnya.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved