Transaksi Non Tunai: Why Not?

Penggunaan instrumen pembayaran non tunai saat ini makin digandrungi oleh masyarakat modern, terutama generasi milenial dan generasi Z

Transaksi Non Tunai: Why Not?
istimewa
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi mengadakan Lomba Foto dan Penulisan Artikel dengan 2 kategori yaitu kategori pelajar SMA/sederajat serta kategori mahasiswa/i Perguruan Tinggi dan masyarakat umum (usia maksimal 30 tahun) dengan tema ”Transaksi Non Tunai: Why Not?”

Transaksi Non Tunai: Why Not?

TRIBUNJAMBI.COM-Penggunaan instrumen pembayaran non tunai saat ini makin digandrungi oleh masyarakat modern, terutama generasi milenial dan generasi Z yang cenderung melek teknologi dan senantiasa ingin mencoba hal baru. Sebagaimana diamanahkan dalam Pasal 8 Undang-Undang No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, salah satu tugas Bank Indonesia adalah mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Sistem pembayaran yang lancar, cepat, tepat, dan aman sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya sistem keuangan yang sehat, transparan, tepercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam rangka menjalankan amanah tersebut, sejak tanggal 14 Agustus 2014 Bank Indonesia mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan instrumen non tunai, sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang lebih memilih untuk menggunakan instrumen non tunai (less cash society) khususnya dalam transaksi kegiatan ekonomi bagi masyarakat, pelaku bisnis, dan lembaga pemerintahan di Indonesia. Penggunaan transaksi non tunai diyakini memberikan manfaat bagi masyarakat antara lain praktis, akses lebih luas, transparansi transaksi, efisiensi Rupiah, serta perencanaan ekonomi menjadi lebih akurat.

Instrumen pembayaran dibagi menjadi 2 (dua) jenis antara lain instrumen pembayaran tunai dan non tunai, antara lain berupa Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK), cek, bilyet giro, dan uang elektronik. APMK yang sering digunakan oleh masyarakat berupa kartu ATM/Debit dan kartu kredit. Mengacu pada PBI No.20/6/PBI/2018 tanggal 3 Mei 2018, uang elektronik didefinisikan sebagai instrumen pembayaran yang memenuhi unsur yaitu: (1) diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu kepada penerbit; (2) nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media server atau chip; dan (3) nilai uang elektronik yang dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai perbankan. Berdasarkan lingkup penyelenggaraannya, uang elektronik dibedakan menjadi 2 kategori yaitu closed loop (hanya dapat digunakan sebagai instrumen pembayaran kepada penyedia barang dan/atau jasa yang merupakan Penerbit uang elektronik tersebut) serta open loop (dapat digunakan sebagai instrumen pembayaran kepada penyedia barang dan/atau jasa yang bukan merupakan Penerbit uang elektronik tersebut). Contoh uang elektronik closed loop adalah uang elektronik yang dikeluarkan oleh PT Kereta Commuter Indonesia, kartu Timezone, dan kartu Starbucks sedangkan uang elektronik open loop adalah Flazz, Brizzi, e-money, TapCash, GoPay, Dana, OVO, dan LinkAja.

Bukan hanya instrumen pembayaran non tunai yang mengalami perkembangan. Kanal pembayaran pun juga tak ketinggalan. Dengan semakin maraknya penggunaan uang elektronik open loop berbasis server, kanal pembayaran berupa QR Code pun makin sering digunakan oleh masyarakat. Berkaitan dengan hal dimaksud, pada tanggal 17 Agustus 2019 yang lalu, Bank Indonesia meluncurkan QR Code Indonesia Standard (QRIS) secara serentak di Kantor Pusat dan 46 Kantor Perwakilan Dalam Negeri. QRIS adalah standar nasional QR Code pembayaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk digunakan dalam memfasilitasi transaksi pembayaran di Indonesia. Ketentuan berkaitan dengan QRIS dituangkan dalam PADG No.21/18/PADG/2019 tanggal 16 Agustus 2019 tentang Implementasi Standar Nasional Quick Response Code Untuk Pembayaran. QRIS mengusung tagline UNGGUL – UNiversal, GampanG, Untung, Langsung.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, dalam rangka meningkatkan pemahaman dan mendorong implementasi GNNT tersebut pada generasi milenial dan Gen Z, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi mengadakan Lomba Foto dan Penulisan Artikel dengan 2 kategori yaitu kategori pelajar SMA/sederajat serta kategori mahasiswa/i Perguruan Tinggi dan masyarakat umum (usia maksimal 30 tahun) dengan tema ”Transaksi Non Tunai: Why Not?”. Perlombaan dibuka sampai dengan tanggal 15 November 2019 dan pemenang akan diumumkan pada kegiatan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia pada awal bulan Desember 2019 untuk memperebutkan juara I, II, dan II untuk masing-masing kategori dan jenis lomba.

VIDEO: Detik-detik Septic Tank Meledak, Petugas Tewas

FOLLOW INSTAGRAM TRIBUN JAMBI:

.

Editor: nani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved