editorial

Kabinet Indonesia Maju, antara Profesional dan Keterwakilan

Berbeda dengan penunjukan menteri Kabinet Indonesia Kerja tahun 2014 lalu dengan koalisi partai yang ramping, koalisi kali ini lebih gemuk.

Kabinet Indonesia Maju, antara Profesional dan Keterwakilan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Menteri di jajaran Kabinet Indonesia Maju 

KABINET Indonesia Maju telah terbentuk. Komposisinya 38 menteri dan empat pejabat setingkat menteri yang dilantik pada Rabu (23/10) lalu.

Disusul 12 wakil menteri dilantik dua hari kemudian.

Berbeda dengan penunjukan menteri Kabinet Indonesia Kerja tahun 2014 lalu dengan koalisi partai yang ramping, koalisi kali ini lebih gemuk.

Pasca Pemilu pada 17 April lalu, koalisi pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno satu persatu melepaskan diri.

Puncaknya pernyataan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subiato untuk bergabung dengan pemerintah, hanya menyisakan PKS di posisi oposisi.

Kabinet telah terbentuk, di jajaran menteri dan pejabat setingkat menteri ada 21 profesional (55 persen) yang ditunjuk.

17 lagi mewakili partai, dari PDI-P, Golkar, Nasdem, PKB, Gerindra dan PPP. Sejumlah unsur partai pun menyusul pada posisi wakil menteri, seperti PSI dan Perindo.

Disengaja atau tidak keterwakilan profesional dan parpol tersebut juga mewakili daerah, ormas, jenis kelamin hingga usia.

Untuk alokasi 50 kursi, tentunya tidak mungkin harus mewakili semua daerah, semua partai, hingga ormas yang ada.

Bahkan untuk satu tujuan kemajuan, sebenarnya tidak ada keharusan semua elemen yang mendukung harus mendapatkan porsi.

Jika ini dijadikan acuan, bukan tidak mungkin para profesional terbaik justru harus tersingkir untuk menyumbangkan sumbangsihnya kepada negara.

Namun suara sumbang terkait ini masih menggema, komplain karena partainya tak terakomodir, ormasnya hingga penolakan atas penunjukan lawan politik.

Bukan hal mudah bagi Prabowo untuk menyatakan bergabung dengan koalisi pemerintah dan menjadi bawahan rivalnya.

Menelusuri Pura di Pedalaman Sarolangun, Sempat Dikabarkan Berusia Ratusan Tahun

Pertama di Indonesia, Capsule Bus Koja Trans Resmi Beroperasi, Fasha Luncurkan Bus Berbasis Digital

Mimpi Terakhir Soeharto Sebelum Meninggal Dunia, Ketemu Sinden Cantik Tapi Endingnya Bikin Tertawa

Bukan hal mudah juga bagi Jokowi memberikan kepercayaan kepada rivalnya untuk bergabung dalam kabinetnya, sehingga tidak mengakomodir pihak yang sudah berjuang bersama selama ini.

Pro kontra dihadapi kedua pihak, syukurnya banyak yang kemudian memahami opsi ini demi tercapainya cita-cita dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia ke depannya.(*)

Editor: deddy
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved