Festival Mandi Safar 2019

Ribuan Orang Ngumpul di Pantai Air Hitam Laut Ikut Festival Mandi Safar 2019, Meriah

Dari berbagai kalangan, usia dan jenis kelamin, membaur menjadi satu untuk memeriahkan acara budaya yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

Ribuan Orang Ngumpul di Pantai Air Hitam Laut Ikut Festival Mandi Safar 2019, Meriah
Tribun Jambi/Abdullah Usman
Ribuan orang memadati Pantai Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjab Timur, Jambi, Rabu (24/10) pagi. 

Ribuan Orang Ngumpul di Pantai Air Hitam Laut Ikut Festival Mandi Safar 2019, Meriah

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Ribuan orang memadati Pantai Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjab Timur, Jambi, Rabu (24/10) pagi.

Mereka datang untuk menghadiri acara puncak Festival Mandi Safar 2019.

Pantauan Tribunjambi.com, masyarakat mengalir datang perorangan maupun berkelompok.

Dari berbagai kalangan, usia dan jenis kelamin, membaur menjadi satu untuk memeriahkan acara budaya yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

Baca Juga

Marah-marah Sepulang Kerja, Freddy Hajar Pembantunya yang Sedang Sakit Dengan Pipa Paralon dan Sapu

Dulu Miskin Jadi Sopir Angkot, Perjuangan Bahlil Lahadalia Kini Jadi Menteri Presiden Jokowi Jilid 2

Resmi! Ini Daftar Lengkap 34 Menteri/Pembantu Jokowi-Maruf Amin, Sikap Prabowo Saat Namanya Disebut

Seorang pengunjung Festival Mandi Safar 2019, Mila (28), mengatakan sengaja datang dari Kota Jambi untuk mengikuti kemeriahan festival tahunan ini.

"Ini kali kedua saya mengikuti festival ini. Memang ada nilai tersendiri sehingga menarik untuk diikuti selain unik juga hal seperti ini terbilang langka," ujarnya.

Sementara itu, Ketua MUI Tanjab Timur Asad Arsyad menuturkan, kegiatan festival ini sebagai ajang pelestarian budaya dan tradisi masyarakat.

Adapun penggunaan ikat kepala dan lembaran daun bertuliskan doa merupakan sebagai inisiasi melambangkn kesucian.

"Makanya kita letakan di kepala karena dalam daun tersebut terdapat doa. Bagi wanita diletakan di lengan kanan. Ini sudah kita lakukan sejak tahun 2005 lalu," ujarnya.

Mengapa menggunakan daun?

Mengingat pada tahun-tahun sebelumnya ditulis menggunakan kertas, setelah selesai acara berserakan dan terinjak injak dari situlah penulisan menggunakan media daun diterapkan.

"Karena tinta yang menempel di daun jika terkena air akan luntur sebab itulah median daun digunakan," pungkasnya. (Abdullah Usman / Tribunjambi.com)

Edhie Prabowo Jadi Menteri Kelautan, Begini Kabar Terbaru Susi Pudjiastuti, Netizen Kehilangan

Kelakuan Nakal Jennifer Jill Berani Lakukan Aksi Ini di Mobil, Mendadak Ngaku Kawin Lagi

Penulis: Abdullah Usman
Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved