Neraca Perdagangan Diprediksi Defisit, Sejumlah Ekonom Berpendapat Beragam

Ekonom BCA memprediksi neraca perdagangan pada September 2019 akan kembali pada tren defisit, walau pada Agustus 2019

Neraca Perdagangan Diprediksi Defisit, Sejumlah Ekonom Berpendapat Beragam
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.
Kapal tunda memandu masuknya sebuah kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Agustus lalu. Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) pada Juni 2019, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus 200 juta dolar AS dengan nilai ekspor sebesar 11,78 miliar dolar AS, sementara impor mencapai 11,58 miliar dolar AS. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Ekonom BCA memprediksi neraca perdagangan pada September 2019 akan kembali pada tren defisit, walau pada Agustus 2019 sempat mengalami surplus. Meski begitu, beberapa ekonom memandang neraca perdagangan pada bulan tersebut masih surplus.

Menurut Ekonom BCA David Sumual, neraca perdagangan pada September 2019 akan mengalami defisit sebesar US$ 163 juta.

"Problemnya masih sama, ekspor agak melemah dan juga harga beberapa komoditas juga lemah," kata David kepada Kontan.co.id, Minggu (13/10).

David melihat ekspor akan mengalami penurunan sebesar 8% (yoy) di bulan September 2019 ini. Sementara impor, akan mengalami penurunan sebesar 5% (yoy).

Pelemahan harga komoditas sebagai faktor yang menyebabkan ekspor melemah, juga diungkapkan oleh Strategist Maybank Kim Eng sekuritas Luthfi Ridho.

Menurut Luthfi, harga komoditas yang memengaruhi, terutama, batubara dan CPO yang berada di level terendah pada bulan September 2019. Meski kondisi ekspor melemah, Luthfi memandang masih ada kemungkinan surplus sebesar US$ 50 juta.

Berbeda dengan Luthfi dan David, Head of Danareksa Research Institute (DRI) Moekti Prasetiani memandang bahwa harga komoditas ada peningkatan tipis, sehingga ini yang kemudian menjadi suntikan bagi kinerja ekspor untuk membaik pada bulan September 2019.

Untuk itu, pada bulan September 2019 nanti, Moekti memandang masih akan terjadi surplus sebesar US$ 108,4 juta.
Hanya saja, bila dilihat secara year on year, Moekti mencatat adanya penurunan ekspor sebesar 2,5% (yoy) dan penurunan impor yang lebih rendah, yaitu sebesar 1,2% (yoy).

Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved