Hasil Investigasi: Terungkap Cara Kerja Buzzer Hoax dan Propaganda Isu Papua, Miliaran Rupiah

"Berdasar temuan dari investigasi ini, kami menduga bahwa tujuan kampanye menggunakan media sosial untuk mempengaruhi opini dunia internasi..."

Hasil Investigasi: Terungkap Cara Kerja Buzzer Hoax dan Propaganda Isu Papua, Miliaran Rupiah
Kolase Istimewa
Cara kerja buzzer hoax dan propaganda isu Papua 

TRIBUNJAMBI.COM - Hasil investigasi gabungan BBC dan Australian Strategic Policy Institute (ASPI) menemukan keberadaan jaringan bot dan informasi palsu ( hoax) hingga "propaganda" mengenai isu Papua dan Papua Barat.

"Berdasar temuan dari investigasi ini, kami menduga bahwa tujuan kampanye ini adalah menggunakan media sosial untuk mempengaruhi opini dunia internasional mengenai Papua," kata Elise Thomas, periset dari International Cyber Policy Center di ASPI.

"Kampanye seperti ini khususnya akan menjadi lebih efektif dalam konteks Papua yang hanya punya sedikit akses pada media yang independen".

Baca Juga

 Spoiler One Piece Chapter 959, Ada Banyak Kejutan dengan Kapal-kapal di Pelabuhan Udon

 Kisah Amiruddin Dampingi Anak-anak Terdampak Karhutla, Saya Turun Seperti Ini dari 1988

 Pembantu yang Lahir Jumat Kliwon Digaji Rp 5 Juta Ternyata Dipakai, Link Cerita Horor Sewu Dino

Beberapa bulan terakhir Papua menjadi pusat perhatian karena rangkaian peristiwa yang berujung pada kerusuhan di Wamena yang menewaskan puluhan orang.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka pun terus menuntut referendum untuk menentukan masa depan Papua.

Elise khawatir misinformasi dan disinformasi ini berpotensi mempengaruhi kebijakan pemerintah negara lain dan forum internasional seperti PBB.

"Jika ada yang bersedia menghabiskan waktu berbulan-bulan, dan menghabiskan ratusan ribu dolar untuk iklan di Facebook, mereka pasti berusaha mencapai suatu tujuan. Dalam kasus ini, nampaknya tujuannya adalah menyebarkan pengaruh pada audiens internasional, termasuk pembuat kebijakan, aktivis pro-kemerdekaan dan jurnalis," kata Elise.

Salah satu contoh post yang diiklankan di Facebook, yang kemudian dihapus oleh Facebook karena melanggar kebijakan iklan di situs itu. (BBC)

Penelusuran investigasi BBC dan ASPI atas bot ini berujung pada jaringan akun yang "tidak otentik dan diotomatisasi" yang tersebar di setidaknya lima platform, yaitu website, Facebook, Twitter, Youtube dan Instagram.

Mereka mempublikasikan video berkualitas tinggi dalam bahasa Inggris dan Indonesia, dan mempublikasikan konten dalam dua bahasa.

Halaman
1234
Editor: duanto
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved