Ditemukan 150 Sumur Minyak Ilegal di Sarolangun, Lingkungan Sekitar Sudah Tercemar Minyak Mentah

Petugas gabungan Kabupaten Sarolangun lakukan penyisiran area penambangan minyak ilegal atau illegal drilling di Kecamatan Pauh

Ditemukan 150 Sumur Minyak Ilegal di Sarolangun, Lingkungan Sekitar Sudah Tercemar Minyak Mentah
TRIBUNJAMBI/TOMMY KURNIAWAN
ilustrasi sumur minyak ilegal 

SAROLANGUN, TRIBUN -  Petugas gabungan Kabupaten Sarolangun lakukan penyisiran area penambangan minyak ilegal atau illegal drilling di Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun.

Dari penyisiran yang dilakukan beberapa hari ini, para petugas terkejut, mereka menemukan banyak sekali lokasi penambangan minyak ilegal.

Kabid Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup  Sarolangun Sohari Sohan mengatakan beberapa lokasi penambangan itu merupakan anak sungai dan area darat atau perkebunan sawit. Semuanya berubah menjadi ratusan sumur-sumur bor minyak yang bervariasi.

"Anak sungai ada dua, dari pantauan, sumur-sumur galian bor lebih kurang posisi sekarang 150 sumur. Berkedalam bervariasi, 25 sampai 100 meter," katanya. 

Dari aktivitas yang sudah tidak wajar ini, menurutnya pencemaran dan kerusakan lingkungan sudah terjadi.

Akibat sumur ilegal, tanah dan air sudah terkontaminasi dengan minyak mentah yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Katanya,  dari ratusan sumur bor itu memang ada yang masih aktif dan ada yang tidak aktif.   "Semua bekas sudah tercemar oleh minyak mentah," katanya.

Pada saat penyisiran lokasi, para penambang minyak ilegal sudah tidak berada di lokasi, hanya meninggalkan sisa pengerjaan dan banyak sumur belum tertutupi.  

Menurut pantauannya, aktivitas itu sudah ada sejak tahun 2017 silam. Dan para penambang waktu itu masih sedikit, sehingga hanya dilakukan penertiban secara persuasif saja.

"Sudah ada dari dulu, cuma muncul lagi, ilang lagi," katanya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, penting sekali kesadaran dan keseriusan masyarakat sekitar untuk menutup aktivitas itu.

"Masyarakat, stop aktivitas karena sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Kalau mau dilakukan pemulihan, ini dananya miliaran rupiah," ujarnya (cwa)

Editor: awang
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved