NPL Kredit UMKM Melandai, Sektor Konstruksi jadi Perhatian Utama

Rasio kredit bermasalah segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) perbankan terus melandai.

NPL Kredit UMKM Melandai, Sektor Konstruksi jadi Perhatian Utama
ANTARA FOTO/ENIS EFIZUDIN
Ilustrasi usaha kecil menengah 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Rasio kredit bermasalah segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) perbankan terus melandai.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per Juni 2019 posisi NPL UMKM berada di level 3,71%. Rasio tersebut turun dari periode setahun sebelumnya 4,41% atau susut 70 basis poin (bps).

NPL yang menyusut tersebut juga diikuti dengan pertumbuhan kredit yang membaik. Sampai Juni 2019 kredit UMKM masih tumbuh 11,56% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1.019,77 triliun.

Beberapa bank pemain kredit UMKM pun mengamini NPL segmen ini terus melandai. Paling mencolok yakni PT Bank Mandiri Tbk yang mengungkap per Agustus 2019 NPL UMKM sudah menyusut ke level 2% dibandingkan periode Agustus 2018 yang menyentuh 3,3%.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan, perbaikan NPL tersebut sejalan dengan prinsip kehati-hatian yang terus ditingkatkan perseroan. Walau demikian, hal tersebut tidak melambat laju ekspansi Bank Mandiri di segmen UMKM.
Terbukti, hingga Agustus 2019 lalu, baki debet kredit segmen UMKM Bank Mandiri sudah mencapai Rp 87,1 triliun kepada 904.907 debitur. Realisasi tersebut tumbuh sebesar 12,2% secara yoy.

"Kualitas kredit segmen UMKM Bank Mandiri semakin membaik. Secara bankwide, realisasi penyaluran tersebut setara dengan 12,2% dari total kredit perseroan pada periode yang sama," katanya kepada Kontan.co.id, Selasa (17/9).

Senada, General Manager Bisnis Usaha Kecil PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Bambang Setyatmojo pun mengaku NPL kredit UMKM sudah melandai.

Menurut catatan Bambang, hingga Agustus 2019 BNI berhasil menjaga kualitas kredit UMKM di angka 2,3%. Walau tak merinci, pihaknya mengatakan posisi tersebut sudah lebih baik dibanding periode yang sama di 2018 dan lebih rendah dari rata-rata industri.

Adapun, bank berlogo 46 ini mengatakan sektor yang menyumbang NPL paling tinggi berada pada sektor perdagangan, hotel dan restoran.

"Namun secara kolektibilitas, sektor konstruksi yang saat ini menjadi perhatian utama kami," terangnya.

Halaman
12
Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved