Breaking News:

Citizen Journalism

EKOLOGI (BER)BAHASA, Catatan dari Festival Sastra Bengkulu (FSB) 2019

Masmuni Mahatma mengatakan sebuah realitas ekologis (ber)bahasa mulai kurang mengenakkan bagi kelangsungan bermasyarakat dan berbangsa. Seperti apa?

Tribunnews
Dr Masmuni Mahatma, MAg (Ketua PW GP Ansor Kepulauan Bangka Belitung dan Dosen (PNS) Fakultas Usuluddin UIN SGD Bandung) 

Fenomena tersebut yang oleh Joko Pinurbo, sekali lagi, dikategorikan sebagai salah satu wujud ekologi (ber)bahasa yang kurang sehat.

Ekologi (ber)bahasa yang tak patut dibiarkan mewarnai pola-pola maupun perilaku kehidupan sosial kebangsaan dan kenegaraan.

Setidaknya, apa yang ditampilkan dalam komunikasi publik antara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Djarum Foundation kemarin, menjadi contoh nyata.

Padahal dalam waktu yang cukup lama, penuh kesejarahan sampai kekinian, Djarum Fundation, telah nyata-nyata berbuat luhur bagi potensi serta masa depan generasi perolahragaan di Indonesia dan dunia.

Bahasa Puitik

Putu Fajar Arcana, Sang Redaktur Seni dan Budaya Harian KOMPAS, dengan lugas mengutip ungkapan John F. Kennedy, bahwa ketika bahasa politik semakin mengotori ruang-ruang publik, hanya bahasa puitik yang dapat membersihkan.

Bahasa politik, sebagaimana kita mafhumi, seringkali terlihat ambigu, diplomatis, dan sarat akan tarikan kepentingan berbasis kekuasaan.

Sedangkan bahasa puitik, disadari atau tidak, senantiasa beranjak dari kedalaman rasa dan kejernihan nurani menyikapi geliat realitas sosial yang semakin hari kian mengalami keruwetan.

Bahasa puitik, memang bukan satu-satunya alat komunikasi yang ideal dalam menjaga eksistensi dan kelangsungan kehidupan berbangsa.

Sebagai medium berinteraksi, bahasa puitik tidak jauh berbeda dengan bahasa politik, sama-sama alat menyampaikan pesan dan mengilustrasikan ide serta konsep berkehidupan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved