Berita Jambi

KKI WARSI Temukan Kejanggalan di Lokasi Kebakaran Gambut di Muara Medak, Musi Banyuasin

KKI WARSI Temukan Kejanggalan di Lokasi Kebakaran Gambut di Muara Medak, Musi Banyuasin

KKI WARSI Temukan Kejanggalan di Lokasi Kebakaran Gambut di Muara Medak, Musi Banyuasin
tribunjambi/samsul bahri
Kabut asap di Muarojambi. (17/8/2019). 

KKI WARSI Temukan Kejanggalan di Lokasi Kebakaran Gambut di Muara Medak, Musi Banyuasin

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, menilai ada ketidak tegasan dari pemerintah, dalam menyikapi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah gambut. 

Padahal sudah ada regulasi hukum yang jelas pasca kebakaran tahun 2015 melalui Peraturan Pemerintah nomor 57 tahun 2016, mengenai sekat kanal, menara pemantau, SDM pemadam api dan peralatan lengkap yang wajib dipenuhi setiap perusahaan. 

Baca: Banyak Areal Konsesi Perusahaan di Jambi Terbakar, KKI Warsi sebut Pemerintah Harus Cek Kepatuhan

Baca: Kejari Muarojambi Ungkap Peran Pasutri Spesialis Pencurian Sepeda Motor di Muarojambi

Baca: Kesulitan Air Bersih, Sumur-sumur Warga di Merangin Kering, Aktivitas Warga Mulai Beralih ke Sungai

Namun, menurut Sukma Reni, Manajer Komunikasi KKI Warsi, dilapangan banyak perusahaan pemegang konsesi justru tidak memenuhi regulasi hukum tersebut. 

Termasuk di lokasi kebakaran gambut di Muara Medak, Kabupaten Musi Banyu Asin (Muba) yang menjadi penyumbang kabut asap di Jambi.

"Gambut di Medak, kalau kita melihat ada ketidaktegasan dari pemerintah, karena regulasi hukum sudah cukup baik. Ada aturan baru PP nomor 57 tahun 2016 kenyataan di lapangan tidak," jelasnya. 

Baca: Bolehkan Minum Obat Pakai Jus Jeruk, Kopi, Teh atau Susu?

Baca: Daftar Peringkat 100 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Terbaik 2019 dari Kemenristekdikti

Baca: Ada AC, Laptop, Printer, dan Lainnya, Pemda Tanjab Timur Akan Lakukan Lelang Elektronik

Dari hasil penatauan Warsi di lapangan, tak hanya itu saja Warsi juga menemukan kejanggalan dilokasi kebakaran. Yakni, tanaman sawit di tengah hutan yang seharusnya tak boleh ada. 

"Temuan kami di lokasi kebakaran ada sawit yang terbakar padahal itu lokasi hutan. Sawit ditengah hutan kan tidak boleh," ujarnya. 

"Itu sawit perusahaan, Kita tidak lihat kerjasamanya tapi itu kenapa bisa ada sawit di areal hutan. Apakah skema kemitraan kehutanan untuk resolusi konflik. Ada juga lahan gapoktan, Itu masih kawasan hutan, idealnya kawasan hutan tidak ada sawit," katanya. 

Seperti diketahui, sebelumnya pemerintah kabupaten Muba menyampaikan permohonan maaf akibat kabut asap yang muncul dari kebakaran hutan di Muara Medak. 

Hariadi Karim, Staf Ahli Bupati Muba menyebut luas lahan terbakar di Muara Medak mencapai 3.290 hektar.

KKI WARSI Temukan Kejanggalan di Lokasi Kebakaran Gambut di Muara Medak, Musi Banyuasin (Dedy Nurdin/Tribun Jambi) 

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved