Banyak Laporan Pungli di Sekolah Jambi, Ombudsman Siap Bongkar Praktik Koruptif Sekolah

Praktik pungutan liar di sejumlah sekolah menjadi kasus yang paling banyak diadukan ke Ombudsman Perwakilan Jambi.

Banyak Laporan Pungli di Sekolah Jambi, Ombudsman Siap Bongkar Praktik Koruptif Sekolah
Tribunjambi/Zulkifli
Ombudsman Perwakilan Jambi. 

Banyak Laporan Pungli di Sekolah Jambi, Ombudsman Siap Bongkar Praktik Koruptif Sekolah

TRIBUNJANBI.COM, JAMBI - Praktik pungutan liar di sejumlah sekolah menjadi kasus yang paling banyak diadukan ke Ombudsman Perwakilan Jambi. Lembaga Negara Pelayanan Publik itu bersiap mengusut.

Kepala Ombudsman Perwakilan Jambi, Jafar Ahmad mengatakan, sepekan ini Ombudsman telah menerima sejumlah aduan praktik pungli di sekolah. Semua pengadu adalah wali murid. Ada yang melapor lewat lisan, ada pula yang datang langsung membuat laporan resmi. "Mereka datang membawa bukti lengkap," ujarnya, Senin (19/8).

Atas aduan itu, kata Jafar, Ombudsman telah membentuk tim untuk melakukan penyelidikan. Sehingga dalam beberapa hari ini, timnya akan turun mengusut laporan tersebut. Namun Jafar merahasiakan nama sekolah yang dilaporkan. Karena menurutnya, Ombudsman akan membukanya ke publik ketika kasus ini sudah tuntas.

"Namun, nanti kita lihat lagi. Untuk kepentingan publik, bisa saja kita buka, agar menjadi pelajaran bagi yang lain, supaya mereka tidak ikutan melakukan praktik yang sama. Tunggu saja, kalau ada info, segera kami kabari," paparnya.

Baca: Samsiran Sebut Penderita ISPA di Jambi Tak Naik Signifikan

Baca: Taman Nasional Berbak Sembilang Terbakar, Satgas Kirim Helikopter untuk Water Bombing

Baca: Wabub Sarolangun Klaim Kondisi Kabut Asap Belum Menghawatirkan

Baca: Pemkab Muarojambi Segera Koordinasikan Perbaikan Jalan di Simpang Sungai Duren

Baca: Satgas Jambi akan Bantu Pemadaman di Musi Banyu Asin, Dansatgas: Jarak hanya 50 Km dari Jambi

Secara resmi, Jafar menyebut baru ada satu sekolah yang diterima laporannya secara lengkap dan timnya akan fokus dulu ke satu sekolah ini. "Tapi, secara lisan, sudah banyak juga yang melapor ke kita. Ini barangkali seperti fenomena gunung es. Sedikit tampak di permukaan, padahal sejatinya besar," ungkapnya.

Jafar mengingatkan para kepala sekolah bersegera berhenti melakukan praktik pungli di sekolah. Selain karena sangat memberatkan orang tua murid, utamanya warga tak mampu. "Pungli jelas merupakan praktik koruptif yang bisa dipidana," tegasnya.

Lebih lanjut, Doktor jebolan Universitas Indonesia itu mengatakan, tak ada satupun aturan yang membolehkan pungutan di sekolah. Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah menegaskan hal itu.

"Setiap pungutan dalam bentuk apapun tidak diperbolehkan. Kendati demikian, sekolah boleh menerima sumbangan dari wali murid, tapi hanya melalui komite sekolah. Nah, sumbangan di dalam Permendikbud itu hanya boleh dilakukan jika memenuhi beberapa syarat, antara lain jika dilakukan tanpa adanya paksaan atau suka rela. Selanjutnya tidak boleh ditentukan jumlahnya dan tidak boleh menentukan batas waktu. Itulah yang disebut dengan sumbangan, bukan iuran. Inilah yang mesti dipahami," sampainya.

Kalaulah ada sekolah masih menarik pungutan, Jafar memastikan perbuatan itu salah. "Regulasinya sudah jelas kok, bentuk pungutan seperti apapun sudah tidak boleh. Kalau alasannya berdasarkan kesepakatan, itu cara berpikir yang salah, tuturnya.

Oleh karenanya, Jafar berharap para Kepala Dinas Pendidikan dan Inspektorat agar mempelajari regulasi tentang pungutan. Juga melakukan pembinaan kepada kepala sekolah, terlebih lagi saat ini pemberantasan pungli sedang giat-giatnya.

"Diperlukan pendampingan dan bimbingan ke kepala sekolah terkait larangan pungutan ini," kata Jafar.

Dijelaskannya bahwa pungutan yang tanpa dasar hukum, tanpa kewenangan oleh pemungut, itu pasti masuk ke ranah pungli. Regulasi jelas-jelas melarang pendidik dan tenaga pendidikan, baik perseorangan maupun kolektif melakukan pungutan kepada peserta didik.

"Karena itu, kami meminta sekolah-sekolah yang sudah terlanjur memungut (meskipun lewat komite, red), untuk segera mengembalikan uang kepada siswa. Dan tidak menarik pungutan apapun lagi dari orang tua. Karena itu merupakan tindakan pidana," tandasnya.

Baca: Jarak Pandang Jambi sempat Turun 2,6 Km, Kabut Asap Datang dari Muba

Baca: 4 Alasan Gus Dur Dicintai Warga Papua, Pernah Sumbang Rp 1 Miliar dan Sempat Izinkan Kibar Bendera

Baca: UPDATE 40 Titik Panas Muncul di Jambi, Terbanyak Ada di Tanjab Timur

Baca: Jadwal Lengkap MotoGP Inggris 2019 Minggu Ini, Berikut Klasemen Sementara Setelah Race Austria

Penulis: Zulkifli
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved