Berita Tanjab Timur

Kelapa Dihargai Rp 700 Perbutir, Petani Kelapa di Tanjab Timur Mulai Beralih ke Tanaman Pinang

Kelapa Dihargai Rp 700 Perbutir, Petani Kelapa di Tanjab Timur Mulai Beralih ke Tanaman Pinang

Kelapa Dihargai Rp 700 Perbutir, Petani Kelapa di Tanjab Timur Mulai Beralih ke Tanaman Pinang
Tribunjambi/Abdullah Usman
Kelapa Dihargai Rp 700 Perbutir, Petani Kelapa di Tanjab Timur Mulai Beralih ke Tanaman Pinang 

Kelapa Dihargai Rp 700 Perbutir, Petani Kelapa di Tanjab Timur Mulai Beralih ke Tanaman Pinang

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Anjloknya harga kelapa sejak setahun terakhir, banyak para petani di Kabupaten Tanjung Jabung Timur beralih ke tanaman pinang.

Kondisi harga kelapa yang saat ini tidak mengalami peningkatan, mengakibatkan petani terpaksa beralih profesi dan berpindah ke tanaman lain.

Seperti yang terjadi di Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai, kini banyak beralih menjadi petani pinang.

Baca: Haji Bandu Mau Turunkan Kalau Ada Tawaran Rp 1000 per Butir, Kondisi Kelapa Kopra Jambi Terkini

Baca: 3 Besar Peserta Terbaik Diklat Kepemimpinan Pemkot Jambi, Bisa Ikut Program SCP ke Singapura

Baca: Wah, Ratusan Pedagang di Pasar Keramat Tinggi, Muara Bulian, Menunggak Sewa Kios Sejak 2004

Hal tersebut dikarenakan, harga kelapa yang saat ini mentok di Rp 700 per butir, dinilai tidak mampu menopang kebutuhan hidup yang semakin tinggi.  Selain itu besarnya biaya upah dan perawatan juga menjadi pertimbangan petani.

Dulunya warga Simpang Pandan, Desa Lagan Ulu, berkebun kelapa dan ada juga yang berkebun sawit.

Tetapi sejak harga jual kelapa dan sawit kian menurun, warga mulai mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca: Gegara Penundaan Final Piala Indonesia PSM vs Persija,Petisi Ratu Tisha Mundur Heboh di Whatsapp

Baca: Begini Kondisi Terbaru Egy Maulana Vikri Usai Dipukul Bek Polandia dan Harus Dirawat di Rumah Sakit

Baca: Kedalaman Gambut yang Tebakar di Muarojambi 4 Sampai 7 Meter, Petugas Kesulitan Padamkan Api

"Saat ini kebanyakan warga desa di sini beralih menjadi petani pinang. Karena di anggap hasil dari buah pinang lebih menjanjikan," ungkap Hasan Basri (75) petani kelapa di desa tersebut.

Selain dari harga yang jauh beda juga dalam pengolahan dan transport kata Hasan Basri, terbilang lebih ramah pinang jika dibandingkan kelapa.

Meski harus mengupah orang untuk mengerjakannya dengan harga jual saat ini masih dapat menutupi keuntungan.

Halaman
12
Penulis: Abdullah Usman
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved