10 Kasus Hubungan Sedarah, Ayah Cabuli Anak sampai Melahirkan Hingga Istri Dipaksa Cabul dengan Ayah

Publik di Tanah Air digegerkan kisah seorang kakak yang menghamili adik kandungnya sendiri hingga memiliki dua anak.

10 Kasus Hubungan Sedarah, Ayah Cabuli Anak sampai Melahirkan Hingga Istri Dipaksa Cabul dengan Ayah
HO
Ilustrasi inses. 

TRIBUNJAMBI.COM- Publik di Tanah Air digegerkan kisah seorang kakak yang menghamili adik kandungnya sendiri hingga memiliki dua anak.

Bahkan saat ini, sang adik sedang hamil anak ketiga yang diduga hasil hubungannya dengan kakak kandungnya yang tinggal serumah di Kabupaten Luwu.

Sejak Januari 2019, beberapa kasus hubungan sedarah ayah yang mencabuli anaknya atau kakak dengan adiknya berhasil diungkap polisi.

Baca: TNI Gagalkan Penyelundupan Mobil Mewah, Paksa Porche Seharga Rp 3 Miliar Lewati Jalan Tikus

Baca: Ali Sera Usul Perampingan Besar-besaran Menteri Kabinet Jilid II, Jokowi: Peluang Besar Anak Muda

Baca: Menantu dan Anak Jokowi Disebut Bakal Maju Pilkada Sumut dan Solo, Pengamat Ingatkan Politik Dinasti

Di Garut, seorang ayah mencabuli anak kandungnya yang masih berusia 15 tahun hingga melahirkan.

Sedangkan di Kabupaten Pringsewu, seorang gadis keterbelakangan mental dilecehkan oleh ayah dan kakak serta adik kandungnya selama 2 tahun.

Sementara di Sumatra Barat, seorang oknum caleg ditangkap setelah menjadi buron kasus pencabulan terhadap anaknya sendiri selama 8 tahun.

Mellia Christia, psikolog dan juga staf pengajar bidang studi Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia saat dihubungi Kompas.com Rabu (17/7/2019) mengatakan inses atau hubungan seksual sedarah terjadi pada keluarga yang menganut patriarki tradisional, yang salah satunya adalah adanya peran dominan sosok ayah sebagai kepala keluarga.

“Inses banyak dilakukan oleh ayah pada anak perempuannya dan biasanya adalah anak perempuan pertama. Mengapa anak perempuan pertama? Karena dia akan mengambil peran sebagai ibu jika ibu kandungnya disabilitas, seperti sakit atau tidak ada di rumah karena bekerja, sehingga kurang perhatian, maka anak perempuan ini yang memgambil peran,” jelas Mellia.

Selain itu dia juga mengatakan pemahaman keluarga tentang peran gender juga memicu terjadinya inses. Mella juga mencontohkan inses banyak terjadi pada keluarga yang secara ekonomi dan pendikan rendah.

“Jadi ada ketidakberdayaan dan dominasi di sini. Ibunya penurut karena merasa tergantung secara ekonomi. Dan biasanya perilaku inses ini terjadi lama karena dianggap ini adalah urusan pribadi. Jadi ada yang dominan dan yang tidak berdaya, ya anak-anak dan perempuan jadi korban. Serta ada juga unsur pembiaran,” jelasnya.

Halaman
1234
Editor: andika arnoldy
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved