WASPADA, Potensi Gempa dan Tsunami di Pantai Selatan Jawa, BMKG: Indonesia Memang Rawan

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono menanggapi soal viral kabar

WASPADA, Potensi Gempa dan Tsunami di Pantai Selatan Jawa, BMKG: Indonesia Memang Rawan
Dok. Istimewa/kompas.com
Awan seperti gelombang tsunami terekam di langit Kota Makassar, Selasa (1/1/2019) sore. 

TRIBUNJAMBI.COM- Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono menanggapi soal viral kabar potensi gempa dan tsunami di wilayah Pantai Selatan Jawa.

Seperti diketahui, beberapa hari belakangan media sosial dihebohkan dengan kabar potensi gempa dan tsunami Selatan Jawa.

Viralnya kabar ini karena dalam narasi yang beredar ada potensi gempa besar mencapai magnitudo 8,8 dan tsunami di Yogyakarta mencapai 20 meter.

Baca: Tessy Srimulat Syok Nunung Ditangkap, Ungkap Perilaku Nunung Beberapa Bulan Terakhir

Kabar tersebut meresahkan warga yang tinggal di wilayah Pantai Selatan Jawa.

"Jawaban saya adalah bahwa kita harus jujur mengakui dan menerima kenyataan bahwa wilayah kita memang rawan gempa dan tsunami," ungkap Daryono melalui pesan singkat, Sabtu (20/07/2019).

"Khususnya wilayah selatan Jawa, keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat sehingga wajar jika wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami," tegasnya.

Baca: EMPAT Komedian Ini Bergelimang Harta, Dulu Hidup Mereka Sulit: No 4 Pernah jadi Sopir Angkot

Untuk diketahui, wilayah Samudra Hindia selatan Jawa memang sudah sering kali terjadi gempa besar dengan kekuatan di atas M 7,0.

Daryono juga mencatat sejarah daftar gempa besar seperti gempa Samudra Hindia.

Dalam catatan BMKG, gempa besar di Selatan Jawa pernah terjadi tahun 1863,1867, 1871, 1896, 1903, 1923, 1937, 1945,1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994, dan 2006.

"Sementara itu tsunami Selatan Jawa juga pernah terjadi pada tahun 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006," ujar Daryono. "Ini bukti bahwa informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar bukanlah berita bohong," tambahnya.

Meski begitu, Daryono menegaskan bahwa besarnya magnitudo gempa yang disampaikan para pakar adalah potensi bukan prediksi.

Halaman
12
Editor: andika arnoldy
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved