Penjual Rumah Fiktif di Jambi Divonis Hakim Lebih Berat

Hari si penjual rumah fiktif divonis 2 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jambi, pada Kamis (11/7) lalu.

Penjual Rumah Fiktif di Jambi Divonis Hakim Lebih Berat
Kementrian PUPR
ilustrasi 

Penjual Rumah Fiktif di Jambi Divonis Hakim Lebih Berat

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Hari si penjual rumah fiktif divonis 2 tahun penjara, pada Kamis (11/7) lalu.

"Menjatuhkan hukuman kepada Hari Handika Putra penjara 2 tahun," kata Arfa Yani selaku ketua majelis hakim Pengadilan Negeri Jambi.

Sebelumnya Diah selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) melayangkan tuntutan yang lebih rendah. "Menuntut pidana penjara selaa 1 tahun 6 bulan dikurangi waktu tahanan sementara sebelumnya," kata Diah seminggu sebelumnya.

Diketahui sebelumnya penipuan yang dilakukan Handika sudah diketahui korban. Namun, karena korban tidak punya itikad baik alias tidak mengembalikan seluruh uang yang dibayar Riduan selaku korban maka Hari dilaporkan ke kepolisian.

Semua bermula saat Februari 2016 setelah pertemuan pertama Hari dan Riduan. Hari memberi tahu bahwa ada rumah lelangan dan ditawarkan dengan harga Rp 160 juta.

Baca: Izin Jual Mendominasi Perkara Permohonan di PN Muara Bungo

Baca: Angka Perceraian ASN di Bungo Meningkat, Segini Jumlahnya Hingga Pertengahan 2019

Baca: Tim Palembang Ikut Bersaing Rebut Gelar Juara Cyber Game Tribun Jambi

Baca: Cuaca Jambi Diprediksi Tak akan Ganggu Pernerbangan Calon Jamaah Haji

Baca: Jambret Duit Rp 60 Juta dari Ibu-ibu, Kemas Diganjar Hukuman Tiga Tahun

Pada tanggal 14 Februari 2016 Hari kembali menghubuni Riduan dan akhirnya bertemu di dekat rumah sakit arah Kebu Jeruk. Hari kemudian menunjukkan fotokopi sertifikat hak milik rumah itu dan menyerahkanya pada Riduan sembari disaksikan Eriansyah.

Selanjutya Hari meminta Riduan agar membayar pada Hari sesuai aturan lelang dan bertahap. Riduan percaya saja. Pada 18 Februari Riduan kembali ditelpon Hari dan mengajak bertemu di dekat Bank Mandiri Pasar Jambi bersama rekannya. Riduan kemudian memberikan uang Rp 60 juta rupiah.

Agar meyakinkan Hari memberikan kuitansi dan slip Bank Mega Syariah yang sudah dibuat Hari. Selanjutnya transaksi dilaukan tanggal 1 Maret dengan ansuran setoran 10 juta rupiah. Kali ini ditransfer ke Bank BNI atas nama Hari.

Riduan kemudian bertanya pada Hari kapan rumah tersebut dilelang dan terdakwa Hari menjawab agar sabar menunggu antrean lelang dari BNI.

Selajutnya pada 4 April Riduan kembali dihubungi dan memberikan uang pada Hari 10 juta rupiah. Pembayaran terakhir ada pada tanggal 18 April 2016 sebanyak 10 juta rupiah. Riduan mengatakan total pembayaran yang dilakukannya ada 160 juta rupiah.

Namun pada suatu ketika saksi korban Riduan memeriksa rumah yang dibayarnya. Dia memeriksa ke KPKNL dan ternyata rumah tersebut tidak ada. Lantas Riduan melaporkan Hari ke polisi.

Hari Handika Putra kemudian dijerat pasal 378 KUHP dan menyebabkan Riduan mengalami kerugian sebesar 130 juta rupiah.

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved