Cerita Desa Rantau Kermas Peraih Kalpataru, Warga Sejahtera Kala Hutan Terjaga

Ahmadi mewakili masyarakat adat Desa Rantau Kermas untuk menerima penghargaan Kalpataru Kategori Penyelamat Lingkungan.

Cerita Desa Rantau Kermas Peraih Kalpataru, Warga Sejahtera Kala Hutan Terjaga
Tribunjambi/Dedy Nurdin
Ahmadi (tengah) ketua kelompok Pengelola Hutan Adat Depati Kara Jayo Tuo Desa Rantau Kermas, Kecamatan Serampas, Kabupaten Merangin saat berbincang dengan awak media Rabu (10/7/2019). Ahmadi mewakili desa Rantau Kermas untuk menerima penghargaan kalpataru di JCC pada Perigatan Hari Lingkugan Hidup. 

Cerita Desa Rantau Kermas Peraih Kalpataru, Warga Sejahtera Kala Hutan Terjaga

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Ahmadi, ketua Kelompok Pengelola Hutan Adat Depati Kara Jayo Tuo Desa Rantau Kermas, Kecamatan Serampas, Kabupaten Merangin, siang ini berangkat ke Jakarta untuk mengikuti peringatan hari lingkungan hidup tahun 2019 yang akan diselenggarakan besok, Kamis (11/7/2019).

Ahmadi mewakili masyarakat adat Desa Rantau Kermas untuk menerima penghargaan Kalpataru Kategori Penyelamat Lingkungan.

Namun sebelum berangkat ia menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan sejumlah awak media di kantor KKI Warsi.

Ahmadi merupakan satu dari sekelompok pemuda Rantau Kermas yang bertugas di Desanya untuk menjaga hutan adat. Hutan penyangga dengan luas 130 hektare dengan kontur tanah miring mengelilingi Desa Rantau Kermas.

Ia menyebutkan bahwa hutan adat menjadi pelindung sekaligus penentu agar Desa Rantau Kermas bisa tetap menjadi kampung yang memberi penghidupan.

"Kondisi hutan masih utuh tanpa ada gangguan," katanya.

Baca: VIDEO : Desa Rantau Kermas di Jambi Dianugerahi Kalpataru, Jaga Alam dengan Hukum Adat

Baca: Peringati HUT Bhayangkara ke-73, Polres Tanjab Timur Gotong-royong Bersihkan Rumah Ibadah

Baca: Mahasiswa Unja Akan Mengikuti Kompetisi Debat Tingkat Nasional

Baca: Begini Tanggapan Kadis Perkim Soal LPJU di Jambi Kecil yang Rusak

"Hutan desa dua arah di atas desa dan di sebelah desa, kemirigan tajam kalau tidak dikelolah bisa banjir dan longsor," sambungnya.

Karena itu lah, masyarakat adat Desa Rantau Kermas sangat mewanti-wanti kerusakan hutan termasuk dari ancaman pihak luar yang akan melakukan pengrusakan.

Nilai adat yang sudah ditanamkan sejak dari leluhur warga desa Rantau Kermas ini masih terus di jaga. Sebuah pengalaman pahit pernah dialami masyarakat Desa Rantau Kermas di tahun 1977.

Halaman
1234
Penulis: Dedy Nurdin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved