Editorial

Pemberantasan PETI dan Kearifan Lokal, Terima Kasih Desa Guguk

Hasil dari PETI tampaknya sulit ditepis, apalagi bagi oknum-oknum yang ada di balik layar, yaitu para pemodal.

Pemberantasan PETI dan Kearifan Lokal, Terima Kasih Desa Guguk
IST
Hutan Adat di Desa Guguk, Merangin, Digarap Penambang PETI, Warga Kesal dan Lakukan Ini 

Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) sudah sangat meresahkan.

Dampak buruknya sudah dirasakan oleh warga, baik yang berdiam di sekitar kawasan tambang, maupun yang berada di lokasi yang jauh.

Itu karena dampak limbah PETI ilegal mengotori sungai, menyebarkan bahan kimia berbahaya ke sungai yang menyebabkan tercemarnya sumber air dan sumber makanan.

Belum lagi dampak buruk ikutan lainnya.

Alasan ekonomi menjadi penyebab aktivitas itu sulit dihentikan.

Pundi-pundi uang yang terus mengalir ke mana saja, hasil dari PETI tampaknya sulit ditepis, apalagi bagi oknum-oknum yang ada di balik layar, yaitu para pemodal.

Bagi mereka resiko tertangkap tidak ada dalam kamusnya. Dan terbukti bisa dibilang yang kena tangkap, dihukum, hanya kroco.

baca juga

Baca: Jejak Karier AM Hendropriyono, Profesor Intelijen Pertama di Dunia dari Kopassus The Master

Baca: Tercemar dan Menguning, Al Haris Rencana Revitalisasi Sungai Jika Merangin Bebas dari PETI

Para kroco inilah yang sulit ditumpas, karena bak pepatah, mati satu tumbuh seribu. Iming-iming mendapat uang dalam tempo singkat, menjadi insentif menggiurkan.

Resiko pun diterabas. Walhasil, aneka penertiban tak kunjung tuntas mengatasi PETI.

Halaman
12
Editor: deddy
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved