Ikan Kerambah Banyak Mati, Begini Cara Rusnita Dapatkan Untung

Banyaknya ikan nila yang mati membuat sejumlah ibu-ibu di Desa Muara Jambi harus berputar otak agar tidak merugi.

Ikan Kerambah Banyak Mati, Begini Cara Rusnita Dapatkan Untung
Tribunjambi/Samsul Bahri
Rusnita (kanan) bersama dengan warga lainnya memamerkan produk olahan ikan nila. 

Ikan Kerambah Banyak Mati, Begini Cara Rusnita Dapatkan Untung

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI-Banyaknya ikan nila yang mati membuat sejumlah ibu-ibu di Desa Muara Jambi harus berputar otak agar tidak merugi. Seperti itu lah yang disampaikan oleh sejumlah ibu-ibu RT 01 Desa Muara Jambi, Kecamatan Jaluko, Kabupaten Muarojambi.

Warga sekitar yang dekat dengan aliran Sungai Batanghari memanfaatkan aliran sungai untuk kerambah ikan nila. Seperti diungkapkan oleh Rusnita yang pusing dengan banyaknya ikan yang mati.

Ia mencoba mengolahnya menjadi ikan asin. Ternyata solusi tersebut cukup ampun untuk mengurangi kerugian yang selama ini dialami warga sekitar.

"Jadi di kerambah itu kan ikannya kadang ada yang mati. Awalnya dikit terus kesini-sini banyak dan sayang. Kalo yang kek mati itu kan dibeli murah samo orang," ujar Rusnita saat mengikuti pameran produk di acara penilaian posyandu tingkat Provinsi Jambi beberapa waktu lalu.

Baca: Desa Rantau Kermas di Jangkat, Provinsi Jambi Dapat Kalpataru, Gunakan Hukum Adat Untuk Konservasi

Baca: Terjerat Hutang, Pria Ini Tawarkan Istri ke Pria Hidung Belang di Media Sosial

Baca: Polres Sarolangun Gagalkan Pengiriman 800 Gram Sabu dan 392 Pil Ekstasi, Tiga Orang Diamankan

Baca: GEGER Kakak Nikahi Adik Kandung, Begini Hukum Pernikahan Sedarah Menurut Ustaz Abdul Somad (UAS)

Ia menambahkan bahwa dengan membuat ikan asin menjadikan ikan-ikan yang tidak begitu lama mati dapat langsung diolah menjadi ikan asin.

Untuk proses pembuatan butuhkan waktu sekitar tiga hari tergantung kondisi cuaca.

"Itu tergantung cuaca, kalo cuaca panas nian satu hari malahan ikan nya udah kering jadi bisa langsung di konsumsi," katanya.

Satu kilo ikan asin nila dihargai Rp 30 ribu. Sementara harga akan lebih murah jika membeli dalam skala banyak. Selama ini, Rusnita bisa mendapatkan omzet Rp 1 juta per bulan hanya dengan menjual ikan asin nila.

"Alhamdulillah adalah banyak yang beli. Tengkulak juga udah ada yang ngambil. Kalo konsumsikan lebih enak dari ikan asin yang biasa. Tidak banyak tulang juga," pungkasnya.

Selain mengolah ikan nila menjadi ikan asin, Rusnita dan warga setempat juga mengolah ikan nila yang mati tersebut menjadi kerupuk ikan Nila. Sekilo kerupuk ikan nila yang kering dijual dengan harga Rp 70 ribu.

Penulis: syamsul
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved