Mengapa Prabowo Subianto Belum Mengucapkan Selamat pada Jokowi, Begini Kata Arief Poyuono

- Wakil Ketua Umum (Waketum) Gerindra, Arief Poyuono angkat bicara mengenai sikap Prabowo Subianto yang enggan memberikan ucapan selamat secara terbuk

Mengapa Prabowo Subianto Belum Mengucapkan Selamat pada Jokowi, Begini Kata Arief Poyuono
KOMPAS IMAGES
Arief Poyuono 

TRIBUNJAMBI.COM- Wakil Ketua Umum (Waketum) Gerindra, Arief Poyuono angkat bicara mengenai sikap Prabowo Subianto yang enggan memberikan ucapan selamat secara terbuka kepada Joko Widodo.

Diketahui, Prabowo hanya menggunakan kata 'menghormati' ketimbang memberi ucapan 'selamat kepada Joko Widodo.'

Arief Poyuono, sapaannya, menyebut kata 'menghormati' itu luas maknanya.

"Kan menghormati itu artinya luas. Dan diksi menghormati itu lebih tinggi dari pemberian 'selamat.' Ya artinya menghormati kemenangan pak Joko Widodo dan pak Ma'ruf Amin. Kan cukup dari saya selamatnya. Saya kan sudah mewakili. Selamat pak Joko Widodo, selamat bekerja, selamat memenangkan pesta demokrasi ini, selamat menuntaskan janji-janji pak Joko Widodo kepada rakyat," kata Arief Poyuono, pada acara ulang tahun kedua Suropati Syndicate, di Taman Suropati, Jakarta Pusat, Sabtu (29/6/2019).

Arief melanjutkan, pihak Gerindra telah menerima keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Baca: Diterpa Isu Miring, Ashanty Digugat Rp 4,5 Miliar,Dikabarkan Ingkari Perjanjian Kerja Secara Sepihak

Baca: Gerindra Punya Peluang Bergabung Dengan Koalisi Jokowi-Maruf, Simak Alasannya

Baca: Akan Dilantik Jadi Wapres usia 76 Tahun, Maruf Amin: Ya Allah, Memang Merasa Sudah Tidak Muda Lagi

Baca: Prabowo Cuma Kirim Utusan, KPU Tetapkan Jokowi-Maruf Sebagai Presiden & Wakil Presiden Terpilih

"Itu kan sudah dijalankan dengan cara-cara yang konstitusional. Artinya dukungan internasional ataupun pengadilan internasional kan kita mengakui karena kita meratifikasi. Indonesia meratifikasi Mahkamah Internasional. Jadi kami ya menerima juga keputusan MK," jelasnya.

Pihak Gerindra, sambungnya, belum memikirkan untuk berkoalisi dengan PDIP.

"Kita juga belum memikirkan akan masuk di koalisi PDIP atau tidak. Karena kalau kita tidak ada oposisinya kan juga bisa kebablasan. Artinya, kalau kita masuk pun jauh akan lebih baik sebetulnya," ujarnya.

"Kalaupun nantinya kami berkoalisi, bukan artinya kita meng-okekan semua program-program yang dilakukan oleh pak Joko Widodo. Kalau ada program-program yang tidak pro-rakyat, selama ini, tentu saja kita akan menolak di dalam pemerintahan itu. Misalnya seperti PP 78 yang mengelukan ekspert saya mengenai pengupahan yang tidak berpihak pada buruh dan pengusaha. Kalau kita di dalam pemerintahan, maka akan menolaknya," sambungnya.

Baca: Diterpa Isu Miring, Ashanty Digugat Rp 4,5 Miliar,Dikabarkan Ingkari Perjanjian Kerja Secara Sepihak

Baca: Gerindra Punya Peluang Bergabung Dengan Koalisi Jokowi-Maruf, Simak Alasannya

Menurut Arief, pihak Gerindra sebetulnya lebih dekat dengan Joko Widodo jika dibanding partai NasDem.

"Sebenarnya kan begini ya, kalau ditarik sejarahnya pak Jokowi itu lebih dekat dengan kami dibandingkan dengan NasDem, catat. Pak Joko Widodo itu lebih dekat dengan kami dibanding dengan Surya Paloh. Karena Surya Paloh itu mengambil yang sudah jadi," tuturnya.

"Tapi kami itu membentuk pak Joko Widodo sehingga dia menjadi pemimpin nasional. Bersama PDI Perjuangan lho. Jadi artinya, pak Joko Widodo tahu siapa kami. Dia lebih tahu daripada tokoh NasDem atau Surya Palohmengetahui kami," pungkasnya.

Editor: andika arnoldy
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved