Pilpres 2019

Rekonsiliasi Antara Prabowo dan Jokowi Bisa Saja Direstui Kubu 02, Namun Gerindra Ajukan Syarat Ini

Rekonsiliasi Antara Prabowo dan Jokowi Bisa Saja Direstui Kubu 02, Namun Gerindra Ajukan Syarat Ini

Rekonsiliasi Antara Prabowo dan Jokowi Bisa Saja Direstui Kubu 02, Namun Gerindra Ajukan Syarat Ini
Kolase TribunWow.com
Prabowo dan Jokowi 

Rekonsiliasi Antara Prabowo dan Jokowi Bisa Saja Direstui Kubu 02, Namun Gerindra Ajukan Syarat Ini

TRIBUNJAMBI.COM - Rekonsialiasi antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) dapat saja terjadi, namun ada pengajuan syarat yang diminta Gerindra saat rekonsiliasi itu terjadi.

Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Maher Algadri mengatakan Calon Presiden Prabowo Subianto akan menolak adanya rekonsiliasi.

Penolakan tersebut bukan tanpa alasan dan memberikan satu syarat.

Maher mengatakan proses rekonsiliasi tak akan pernah terjadi jika kubu Capres Joko Widodo (Jokowi) membahas soal koalisi.

"Kalau saya bilang jangan (bertemu), proses demokrasi itu adalah pemilihan," ujar Maher di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis tengah malam, (27/6/2019).

Baca: Terungkap Awal 2019 Song Hye Kyo Mulai Berubah, Berat Badan Turun 5 Kg, Upaya Selamatkan Pernikahan

Baca: Guru Besar Ini Minta Prabowo Tidak Jadi Bagian dari Pemerintah: Sebut Kekuasaan Bisa Ubah Orang

Baca: VIDEO: Sayangi Diri Sendiri dengan Menjauhi Narkoba, Yuk Dengerin Pesan Rahma Amelia

Baca: Partai-partai Koalisi Prabowo Gabung ke Jokowi, Pengamat: Rakyat Dipermainkan dengan Pilihan Politik

Baca: Hasil Putusan Sidang MK, Jokowi-Maruf Resmi Terpilih, Ahok BTP Bilang Begini Sebut Pancasila di NKRI

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menemui Presiden Jokowi di Istana Bogor Jawa Barat, Kamis (29/1/2015).
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menemui Presiden Jokowi di Istana Bogor Jawa Barat, Kamis (29/1/2015). (Tribunnews.com/Imanuel Nicolas Manafe)

Dalam negara demokrasi idealnya menurut Maher pihak yang menang berada di pemerintahan, sementara yang kalah menjadi oposisi.

Sehingga, ada check and balance dan menjalankan roda pemerintahan.

"Jadi yang kalah biar tetap kalah, yang menang, (tetap) menang. Biar yang kalah di luar menjadi oposisi, kalau enggak, bukan demokrasi. Masa semua pada kongko-kongko. Jangan, yang sehat dong. Selalu ada check and balance, jadi yang kuasa dikontrol oleh oposisi," katanya pada Tribunnews.

Apalagi menurutnya, Prabowo didukung oleh 45 persen pemilih di Indonesia. Jumlah tersebut bukan lah kecil. Amanat 45 persen pemilih tersebut yang harus tetap dijaga.

Baca: Pasukan Khusus Ini Diselamatkan Harimau Setelah Empat Hari Bertempur dan Berusaha Lolos Dari Musuh

Baca: Terjawab, Azka Anak Deddy Corbuzier Ikut Siapa Setelah Ayahnya Mualaf, Atta Halilintar Merinding!

Baca: Fakta Dibalik Mas Kawin 3 Butir Telur Ayam dari Pria yang Menikahi Kekasihnya di Lombok Tengah

Baca: Bupati Masnah Minta Perusahaan Ikut Perbaiki Jalan Rusak di Muarojambi

"Oposisi serius loh. 45 persen itu bukan kecil. Besar sekali, makanya, ini kan bukan masalah Prabowo atau apa, ini masalah 45 persen itu 70 juta lebih. Harus dihargai," katanya.

Halaman
12
Editor: ekoprasetyo
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved