Grup Sialang Tuah Pertunjukkan Zikir Berdah Kesenian Tua Masyarakat Muarojambi

Grup Sialang Tuah Pertunjukkan Zikir Berdah Kesenian Tua Masyarakat Muarojambi. Zikir Berdah dipertunjukan pada saat acara syukuran.

Grup Sialang Tuah Pertunjukkan Zikir Berdah Kesenian Tua Masyarakat Muarojambi
Tribunjambi/Nurlailis
Zikir Berdah merupakan kesenian dari masyarakat Muarojambi. 

Grup Sialang Tuah Pertunjukkan Zikir Berdah Kesenian Tua Masyarakat Muarojambi

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Zikir Berdah merupakan kesenian dari masyarakat Muarojambi. Biasanya Zikir Berdah dipertunjukan pada saat acara syukuran, khitanan, pernikahan, pindah rumah, dibacakan saat ada orang sakit dan sebagainya.

Di daerah Desa Muaro Sebo, Muarojambi ada grup Zikir Berdah bernama Sialang Tuah. Di masing-masing desa ada kelompok untuk Zikir Berdah karena dulu ada orang yang mengajar di masing-masing desa.

Anggota Sialang Tuah, Jangci mengatakan kesenian ini tidak tahu pasti ada dari tahun berapa, yang jelas grup Sialang Tuah yang sekarang adalah generasi ke sembilan.

"Untuk grup kami belum ada regenerasi sampai saat ini. Anggota tertua kami berusia 65 tahun, yang lainnya kira-kira 45 tahunan," ungkapnya.

Baca: Program Kartu Nikah, Pemkab Tanjab Timur Tunggu Kabar dari Pusat

Baca: Amir Sakib Siap Bertarung untuk Menangi Pilkada Tanjab Barat 2020

Baca: Enam Terduga Pelaku Narkoba Diringkus, Ini Alasan Polres Mauraojambi Belum Tetapkan Tersangka

Baca: Bukan Karena Dendam, Ini Alasan Samsu Tebas Leher Rizki Rekan Sekerjanya

Yang dibacakan saat pertunjukan biasanya adalah syair-syair dari kitab Zikir Berdah. Ada 15 pasal dengan durasi yang berbeda.

"Durasi biasanya 25 menit satu pasal, 6 jam, bahkan lebih. Yang dibacakan adalah pasal-pasal dalam lantunan syair, untuk penampilan bisa ditampilkan beberapa pasal saja, tergantung durasi acara," jelasnya.

Dari dulu memang penampilan menggunakan alat musik yang dinamakan rebana juga ada gong kecil. Formasi pembaca juga bebas bisa 4 orang kurang atau lebih.

"Awal belajar ikut bapak sambil bermain dan belajar baca syairnya. Karena sering ikut makanya bisa. Selain itu juga belajar buat rebananya," ujarnya.

Untuk latihan biasanya seminggu sekali. Dalam seminggu sekali juga ada undangan untuk tampil.

"Arti dari berdah ini kami memang kurang tau. Yang jelas jaman dulu itu dibacakannya zikir ini untuk keselamatan, karena kami dulu tinggal berjauhan tidak seperti sekarang. Berdah itu pujian, yang kami nyanyikan itulah zikir berdah," jelasnya.

Penulis: Nurlailis
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved