Siapa Sebenarnya Joanna Palani? Sniper Cantik Pembunuh Ratusan ISIS Ini Mahasiswi Denmark

Ternyata Joanna Palani bukanlah pasukan Denmark atau NATO. Dia mahasiswi yang memilih turut bertempur. Darah perang! Itulah yang mengalir dalam tubuhn

Siapa Sebenarnya Joanna Palani? Sniper Cantik Pembunuh Ratusan ISIS Ini Mahasiswi Denmark
thetimes.co.uk
Joanna Palani, mahasiswi Denmark yang menjadi sniper cantik pembunuh ISIS 

Manbijj adalah kawasan strategis di pinggiran Kota Alepo, salah satu basis militer terkuat ISIS.

Joanna Palani, sniper cantik yang diburu ISIS untuk dijadikan budak seks
Joanna Palani, sniper cantik yang diburu ISIS untuk dijadikan budak seks (Kolase The Times)

Di Timur Tengah, Joanna Palani juga bukan pasukan Amerika Serikat, NATO atau Suriah, melainkan anggota militan Kurdi yang ikut memerangi ISIS.

Palani menenteng senapan sniper SVD Dragunov dan 'senapan serbu Kalashnikov.

Bermodalkan dua senjata tersebut, Joanna dilaporkan allthatsinteresting.com berhasil membantai 100 orang milisi ISIS.

"Senjata saya buatan Rusia, jadi harus bersabar menggunakannya," kata Joanna Palani kepada MailOnline

Batalion YPG yang merupakan Angkatan Bersenjata Pemerintah Regional Kurdistan memberikan apresiasi luar biasa kepadanya.

Ketika beroperasi di lapangan, Joanna diketahui sering 'masuk kolam' pada malam hari untuk mencabut nyawa para milisi ISIS.

"Para kombatan ISIS adalah mesin pembunuh, namun sejujurnya amat mudah untuk menjatuhkan mereka," ungkap Joanna kepada Daily Mail.

Harga kepalanya Rp 13 miliar

Para pemimpin ISIS amat pusing menghadapi wanita satu ini.

Mereka bahkan akan membayar satu juta dolar atau Rp 14 miliar lebih bagi siapa saja yang bisa membunuh atau menangkap Palani.

"ISIS memang sangat ingin menangkap saya, lalu menjadikan saya budak seks," ungkapnya kepada Daily Mail.

Namun pada Desember 2016 lalu, justru Badan Intelijen Denmark yang berhasil menangkap Joanna.

Penangkapan ini tak lain adalah usaha Denmark untuk mengamankan keselamatan warganya itu agar tak jatuh ke tangan ISIS.

Tapi dia mengatakan kehidupan berjalan dengan berat setelah kepulangannya dari aksi heroik sebagai penembak jitu di Suriah dan Irak.

"Saya telah menyerahkan hidup saya dan kebebasan saya untuk menghentikan ISIS maju, sehingga semua orang di Eropa bisa aman. Itu adalah pilihan saya. Tapi saya dilihat sebagai teroris oleh negara saya sendiri."

Berbicara tentang pertempurannya dengan ISIS, mantan mahasiswa telah berbicara banyak tentang keberhasilannya.

"Pejuang ISIS sangat mudah dibunuh, tetapi tentara Assad (Presiden Suriah) sangat terlatih dan mereka mesin pembunuh spesialis."

Tertawa saat kepala hampir pecah

Kisah sniper wanita Kurdi satu ini di medan perang memang menjadi perhatian sendiri kalangan militer di Timur Tengah.

Sepereti juga laki-laki, mereka tak kenal takut, bahkan meski hampir terbunuh, mereka masih bercanda, seperti yang terjadi di Raqa, Suriah.

Sebuah video memperlihatkan seorang sniper perempuan anggota pasukan Unit Perlindungan Perempuan (YPJ) yang nyaris tewas akibat tembakan sniper ISIS.

Foto yang diambil dari YouTube ini memperlihatkan saat peluru (dilingkari) menghantam tembok di belakang kepala seorang sniper perempuan Kurdi yang bertempur di sekitar kota Raqqa, Suriah.
Foto yang diambil dari YouTube ini memperlihatkan saat peluru (dilingkari) menghantam tembok di belakang kepala seorang sniper perempuan Kurdi yang bertempur di sekitar kota Raqqa, Suriah. ((YouTube/Mirror))

Dalam video itu, perempuan anggota YPJ itu tengah mengincar sasaran lewat sebuah celah dari dalam sebuah gedung di dekat kota Raqa, Suriah.

Namun, setelah perempuan itu melepaskan tembakannya, sebuah peluru melesat dan menembus dinding, hanya beberapa sentimeter dari kepalanya.

Peluru yang kemungkinan besar dilepaskan seorang penembak jitu ISIS itu nyaris mengenai kepala sniper perempuan tersebut.

Meski kepalanya hampir pecah, perempuan itu tak sedikit pun terlihat takut.

Dia malah tertawa sambil menjulurkan lidahnya.

Saat dia menunduk, ia terlihat masih tertawa-tawa dengan rekan lainnya.

Rekaman video itu diunggah ke dunia maya oleh seorang jurnalis Kurdi yang meliput bersama pasukan YPJ.

"Para perempuan Kurdi tak mengenal rasa takut," ujar Hemze Hamza, sang jurnalis, lewat akun Twitter-nya, seperti dilansir Mirror.

"Manusia pada umumnya akan sangat ketakutan karena kematian begitu dekat dengan mereka, tetapi dia hanya tertawa," tambah Hemze.

YPJ adalah pasukan perempuan suku Kurdi yang merupakan bagian dari Unit Pelindung Rakyat (YPG).

Bernasib tragis di Denmark

Kini, setelah ISIS takluk dan Joanna Palani kembali ke Denmark, apakah ia bergabung dengan militer atau tetap menjadi mahasiswi yang cantik?

Setelah ditangkap oleh intelijen Denmark di Suriah, ternyata gadis cantik ini masuk penjara karena tuduhan ujaran kebencian terhadap ISIS.

Sniper Perempuan Yasidi Tembak Mati Komandan ISIS
Sniper Perempuan Yasidi Tembak Mati Komandan ISIS (www.americanmilitarynews.com)

Ia juga dicekal, tidak boleh berpergian karena alasan terorisme. Ia juga kehilangan rumahnya dan keluarganya, meskipun alasannya bertempur untuk menyelamatkan Eropa dari ancaman ISIS.

Apalagi, Joanna memang bandel. Saat mendapat hukuman larangan ke luar Eropa, September 2015, ia malah kembali lagi ke Suriah pada musim panas 2016.

Dus, militer Denmark kemudian memburunya hingga ke Suriah.

Apalagi, foto-foto, video dan kisah heroiknya terus bermunculan di berbagai medias sehingga Denmark perlu "melindungi" nyawa warga negaranya yang terancam.

"Saya menyesal telah melanggar larangan perjalanan, tetapi saya merasa tidak punya pilihan. Saya tidak berharap kehilangan hampir semuanya karena memperjuangkan keselamatan negara yang sama, yang sekarang mencoba untuk mengambil kebebasan saya," katanya.

"Saya tidak ingin ISIS mengancam negara-negara Eropa atau orang lain dengan cara yang sama yang mereka lakukan di Kurdistan dan Suriah."

Joanna dipenjara dua tahun karena melanggar larangan perjalanan dan bergabung dengan kelompok-kelompok yang berperang di Timur Tengah.

"Selama perang, aku mengenakan jilbab di atas kepalaku untuk menutupi rambut pirang. Di siang hari kami bertahan, pada malam hari berburu dan menembak."

Lalu, apa yang membuatnya kembali ke Suriah?

"Saya sedang melatih para pejuang wanita. Mereka terluka dan mereka terbunuh. Para pejuang yang telah saya latih tahun sebelumnya, kini tak ada yang tahu nasibnya. Itulah yang membuat saya kembali," kata Joanna.

Denmark mendapat cibiran karena telah memenjarakan Joanna Palani karena di sisi lain, negara liberal itu memperlakukan para simpatisan ISIS yang kembali bisa mendapat rehabilitasi.

"Sayang sekali. Kami adalah negara pertama di dunia yang menghukum seseorang yang telah berperang di pihak yang sama dengan koalisi internasional. Sangat munafik menghukumnya," kata pengacaranya, Erbil Kaya.

"Pemerintah Denmark sedang mencoba untuk memberikan contoh tentang saya di pengadilan. Mereka mengatakan di depan umum bahwa saya sama dengan ISIS, tetapi mereka tahu saya bukan penjahat."

“Saya akan menerima 10 tahun penjara demi menyelamatkan orang, tetapi saya tidak akan menerima satu hari penjara karena dituduh membahayakan Denmark. Saya tidak mengerti mengapa mereka (militer Denmark) akan memandang saya sebagai ancaman ketika saya berjuang untuk Eropa dan untuk wanita di mana-mana.

Sakitnya lagi, Joanna Palani kini hidup berembunyi di Kopenhagen karena di satu kelompok, ia dicap teroris, tetapi di kelompok lain, ia juga dilecehkan oleh para mualaf Denmark.

"Saya pernah diserang oleh empat pria Muslim di jalanan," katanya.

Kini, Joanna Palani, hidup seperti gelandangan, tanpa rumah.

Ia tidur di sofa milik teman, di toko-toko, mandi di rumah teman, dan kesehariannya bergantung pada belas kasihan.

“Saya tinggal di salah satu negara terbaik di dunia tetapi saya lapar dan kehilangan tempat tinggal dan kedinginan pada malam hari, meskipun saya bekerja penuh waktu. Saya tidak percaya siapa pun," keluhnya.

"Tapi semua sepadan dan saya tidak menyesalinya, karena itulah yang diinginkan seorang gadis kecil, kembali ke Kurdi."

Joanna Palani mengingat lagi ketika mendapat tawaran suaka dan pergi ke Denmark di saat berusia 3 tahun.

"Kami mendapat pesawat ke Denmark. Saya ingat duduk di sebelah jendela dan makan yoghurt. Tiba-tiba saya berada di atas kamp pengungsi di saat saya berada di pesawat menuju Eropa."

“Aku bersama ibu, ayah, dua kakak laki-laki, satu kakak perempuan dan satu adik perempuan. Saya ingat semua keluarga Kurdi lainnya. Salah satunya saya masih tahu."

“Saat meninggalkan kamp, kami naik bus dan aku ingat bibiku menangis karena mereka tidak bisa pergi."

"Aku ingat ayahku dalam pakaian panjang Kurdi dan ibuku dalam pakaian Islami. Saya ingat keluar dari pesawat dan memegang tangan kakak saya dan tanda besar, orang-orang PBB mengatakan 'Selamat datang'."

Meskipun tinggal di Eropa, keluarganya tetap mempertahankan tradisi Kurdi di rumah dan menjaga hubungan dekat dengan kerabat di Irak.

"Aku ingat tumbuh dengan satu kaki di Kurdistan dan satu kaki di Denmark," kenangnya.

“Saya tidak diizinkan melakukan hal-hal sebagai teman Denmark saya. Saya tidak diizinkan memiliki pacar, atau melakukan kontak dengan anak laki-laki. '

"Mereka selalu menyuruhku untuk berhenti bertingkah seperti anak laki-laki dan berperilaku seperti perempuan Muslim Kurdi tradisional."

Namun, di sisi lain, ia juga dididik sebagai bangsa Kurdi, perempuan harus mandiri dan keras seperti laki-laki.

Bahkan, Joanna yang mencintai alam bebas ketika masih anak-anak juga diajarkan kakeknya memegang senapan saat berusia sembilan tahun di Finlandia.

Letusan itulah yang terus menyuruhnya ke Kurdistan, menjadi bangsa pejuang, meskipun berakhir tragis. (Tribun Batam)

 Prediksi Mahfud MD tentang Bunyi Putusan MK di Sidang Sengketa Hasil Pilpres 2019, Bagian Diterima

 Jawaban Dukun Sakti dari Jambi Bikin Presiden Soekarno Kaget, Permohonan hanya Sederhana

 Kompi C Dikepung Peluru Sniper, Pertempuran Tak Terduga Gabungan Pasukan Elite TNI 1999

 Ingat Eka Frestya Polwan Cantik yang Viral Beberapa Tahun Lalu? Begini Kondisi Sekarang

 Cara Nekat Polwan Cantik Menyamar di Sindikat Perdagangan Wanita, Tak Sangka Ketemu Sosok Terkenal

Editor: duanto
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved