Breaking News:

Sejarah Indonesia

Ayah Ani Yudhoyono Sampai Disingkirkan Soeharto, Padahal Mertua SBY Miliki Banyak Jasa: Apa Salahku!

Nama Sarwo Edhie Wibowo bahkan merupakan satu diantara Komandan Jenderal RPKAD (Kopassus) yang namanya melegenda.

Editor: Tommy Kurniawan
ist
Ayah Ani Yudhoyono Sampai Disingkirkan Soeharto, Padahal Mertua SBY Miliki Banyak Jasa: Apa Salahku! 

Suatu kali, Ani mendengar ayahnya berkata kepada ibunya, “Kalau aku memang mau dibunuh, bunuh saja. Tapi jangan bunuh aku dengan cara seperti ini. Apa salahku sampai aku harus dihentikan begini rupa?”

“Papi amat terpukul dengan keputusan pemerintah menempatkan dirinya di Rusia, selagi karier militernya sedang begitu cemerlang,” kata Ani.

Sarwo Edhie kemudian menghubungi teman-temannya di Jakarta. Dia mempertanyakan apakah tugasnya ke Rusia murni sebagai “takdir tugas” atau karena ada hal lain.

“Aku melihat-lihat lagi koran-koran yang pernah memuat berita tentang Papi, Sarwo Edhie Wibowo yang berprestasi menumpas PKI, dengan foto Papi mengenakan seragam RPKAD kebanggaannya. Aku bisa merasakan betapa hati Papi dibuat luruh ketika dia harus melepaskan seragam militernya dan menjadi seorang duta besar,” kata Ani.

Tidak berapa lama, datang kabar lagi dari Jakarta. Sarwo Edhie tidak jadi diberangkatkan ke Rusia, tapi dialihkan ke Irian Barat menjadi Pangdam XVII/Cenderawasih (1968-1970).

Soeharto saat dilantik jadi Presiden
Soeharto saat dilantik jadi Presiden (net)

Saat itu, di Irian Barat tengah terjadi pertempuran yang mengiringi Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969.

“Sebetulnya dibandingkan tugas di Moskow, tugas di Irian lebih mencuatkan risiko yang besar akan keselamatan. Jelas, tugasnya pun jauh lebih berat. Namun, Papi terlihat sangat bersemangat, berbanding terbalik dengan saat dia mendengar akan dikirim ke Moskow,” kata Ani.

Menurut Jusuf Wanandi, mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang anti-PKI, Sarwo Edhie dan Soeharto memang tidak pernah dekat.

Sarwo Edhie dekat dengan Ahmad Yani dan menganggapnya sebagai kakak.

Ketika Sarwo Edhie memimpin pasukan RPKAD ke Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menumpas PKI, ini lebih merupakan balas dendam pribadi.

Sarwo Edhie dekat dengan Yani karena sama-sama berasal dari Purworejo. Dan Yani yang mengangkat Sarwo Edhie menjadi komandan RPKAD (1964-1967).

“Pada pagi 3 Oktober 1965, Soeharto dipanggil ke Bogor... Soeharto berangkat ke Bogor pagi itu dan melihat Sarwo Edhie yang baru saja keluar dari pertemuan dengan presiden. Dia tidak pernah percaya kepada Sarwo Edhie sejak itu,” kata Jusuf dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1995-1998.

Menurut Christianto Wibisono dalam Jangan Pernah Jadi Malaikat: Dari Dwifungsi Penguasaha, Intrik Politik, sampai Rekening Gendut, di antara generasi jenderal yang menonjol, memang tidak ada yang dijadikan wakil presiden oleh Soeharto.

Semua yang berpotensi disingkirkan, termasuk Sarwo Edhie, yang hanya berputar dari Pangdam Bukit Barisan, Pangdam Papua, gubernur Akademi Militer, duta besar di Korea Selatan, inspektur jenderal Departemen Luar Negeri, kepala BP7, dan terakhir mengundurkan diri dari DPR sampai akhir hayatnya pada 9 November 1989.\

Komandan Pasca-G30S

Pagi buta 1 Oktober 1965, menurut Julius Pour dalam G30S: Fakta dan Rekayasa (2013), rumah Sarwo di Cijantung didatangi dua ajudan Menpangad.

Dua ajudan itu melapor kepada Sarwo soal Yani yang mengenaskan.

Tak tunggu lama, Sarwo Edhi segera menghubungi Komandan Batalyon I RPKAD, Mayor Chalimi Iman Santoso.

Setelah tahu pasukan Mayor Santoso di Senayan, Sarwo beri perintah: “Tarik semua, kembalikan segera ke Cijantung [markas RPKAD].”

Kebetulan, di Cijantung ada pasukan RPKAD dari Kandang Menjangan, Solo.

Salah satu kompinya dipimpin Letnan Satu Feisal Tanjung yang di dalamnya terdapat peleton yang dikomandani Letnan Dua Sintong Pandjaitan.

Sedianya, pasukan Kandang Menjangan akan dikirim ke Kalimantan dalam rangka operasi ganyang Malaysia.

Hari itu, pasukan tersebut ikut serta di bawah komando Sarwo.

Mereka dilibatkan dalam pembersihan G30S. Peleton pimpinan Sintong bahkan merebut RRI.

Setelah 1 Oktober itu, Sarwo bersama pasukannya bergerak ke arah pangkalan udara Halim Perdanakusumah.

“Kolonel Sarwo Edhie Wibowo masuk pertigaan HEK dengan menumpang APC FV603 Saracen Kompi B Kostrad yang berstatus B/P pada RPKAD,” aku Sintong dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009) yang disusun Hendro Subroto. Ketika bergerak maju, pasukan ini terlibat baku tembak dengan lawannya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved