Pilpres 2019

Keluarga Farhan Syafero, Korban Tewas di Aksi 2 Mei Tolak Otopsi Rumah Sakit Karena Alasan Ini

Keluarga Farhan Syafero, Korban Tewas di Aksi 2 Mei Tolak Otopsi Rumah Sakit Karena Alasan Ini

Keluarga Farhan Syafero, Korban Tewas di Aksi 2 Mei Tolak Otopsi Rumah Sakit Karena Alasan Ini
Istimewa
Foto capture Farhan Syafero semasa hidup. 

Keluarga Farhan Syafero, Korban Tewas di Aksi 2 Mei Tolak Otopsi Rumah Sakit Karena Alasan Ini

TRIBUNJAMBI.COM - Keluarga dari korban meninggal dari Aksi 22 Mei, Farhan Syafero (30)--sebelumnya ditulis Farhan Safero-- menolak tawaran otopsi dari pihak RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Syafri Alamsyah (54), ayah Farhan, mengatakan, dirinya terpaksa menolak otopsi karena tidak ada pihak berwenang yang mendampingi.

"Awalnya saya kan minta surat kematian ke Cipto (RSCM--Red). Tapi katanya harus diotopsi dulu supaya tahu penyebab kematian. Ya, saya menolak karena kepentingannya apa," ujar Syafri kepada Warta Kota di rumah duka, Kampung Rawa Kalong, Jalan Pramuka RT 03/07, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, Rabu (22/5/2019).

"Kecuali ada lembaga yang mendampingi saya, yang peduli terhadap nyawa manusia, baru saya bersedia. Apakah Polri, Komnas HAM. Ini enggak ada," bilang Syafri.

Baca Juga:

Temuan Bawaslu, Pidana Pemilu di Sarolangun, Naik Ke Penyidikan

KPU Provinsi Jambi, Data Anggaran Pilkada Serentak, Honorarium dan Logistik Gelembungkan Anggaran

Pilkada Bungo, KPUD Ajukan Dana Rp33 Miliar ke Pemkab

MOBILNYA Hangus, Rumahnya Digedor Massa, Dharma: Kami Dipaksa Keluar, Diteriaki Macam-macam

Syafri pun meminta pihak berwenang dapat mengungkap penyebab kematian sang anak, sekaligus menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya.

"Jadi kalau ada yang mau mengungkap, saya bersedia membantu. Harapannya ya diungkap sampai sejelas-jelasnya siapa yang menyebabkan anak saya sampai seperti itu," katanya.

Dikatakannya, pihak RSCM tidak secara tegas mengatakan Farhan tewas akibat tertembak.

Pihak RSCM, lanjut Syafri, hanya berkata bahwa anaknya meninggal dunia secara tidak wajar.

"Cipto sih enggak bilang karena kena peluru, cuma mati tidak wajar katanya. Tapi itu kelihatan kok bekas tembakan di bawah leher tembus ke belakang. Darahnya aja masih netes," ungkapnya.

Farhan meninggalkan satu istri dan dua anaknya yang masih kecil. Menurut Syafri, anaknya bekerja serabutan di Jakarta, mulai dari sopir hingga penjual kitab-kitab agama.

Halaman
123
Editor: ekoprasetyo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved