VIDEO - Pengungsi Afganistan Mengaku Betah di Indonesia, Di Negaranya Kematian Begitu Dekat

Afganistan sebagai negara konflik membuat warganya memilih mencari suaka ke negara lain, satu diantaranya Australia.

VIDEO - Pengungsi Afganistan Mengaku Betah di Indonesia, Di Negaranya Kematian Begitu Dekat
TRIBUNJAMBI/BERMAN SIBUEA
Warga Afganistan yang diamankan Polda Jambi, Jumat (28/6) 

TRIBUNJAMBI.COM - Afganistan sebagai negara konflik membuat warganya memilih mencari suaka ke negara lain, satu diantaranya Australia.

Sebelum menuju negara pemberi suaka, para pengungsi Afganistan singgah sementara di negara yang mau menampungnya satu diantaranya Indonesia.

Seorang pengungsi Afganistan menyebut lebih nyaman di Indonesia karena merasa lebih nyaman dibandingkan di negaranya.

Baca: Dekan Fakultas Keolahragaan Universitas Jambi Ini, Pernah Tempuh 60 KM Setiap Hari untuk Bisa Kuliah

Baca: VIDEO Siswi SMP Diperkosa 7 Pria Berawal Kenalan di Facebook, 5 Pelaku Sudah Diciduk Polisi

Baca: MOTIF Suami Bunuh Istri Terungkap, Dicekik Diseret ke Kamar Mandi, Korban Anggota DPRD Minta Cerai

Baca: Jambi Max Owner Berbagi, Ratusan Takjil Dibagi Gratis ke Pengguna Jalan

Baca: Gelar Aksi Syukuran dan Deklarasi, FPI Jambi Terima Hasil Pemilu di Jambi

Baca: Ayo Raup Penghasilan dengan Jadi Reseller Pakaian Lebaran Bayi dan Anak, Koleksi Bee Bee Mart Jambi

Meski hidup di tengah keterbatasan dan tanpa kepastian, Ali Reza (31) pengungsi asal Afghanistan menyebut lebih baik di Indonesia ketimbang di negaranya.

Hal itulah yang membuatnya tetap bertahan meski hidup di tenda beratap terpal di emperan sekitar Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta, Kalideres, Jakarta Barat.

"Lebih enak di sini meski tinggal di tenda karena di sini aman. Kalau di Afghanistan tinggal di rumah tidak tenang takut ada perang," kata Ali kepada TribunJakarta.com, Kamis (16/5/2019).

 
Ali bercerita bahwa kondisi konflik di negaranya memang cukup parah.

Tak sedikit anggota keluarga dan kerabatnya yang tewas akibat konflik tak berkesudahan itu.

"Kalau kita mau bepergian di jalan itu teroris tutup jalan lalu kita diturunin dari mobil. Dilihat kemudian kita diancam, dibawa dan dimatiin, sama sekali enggak bebas disana," kata Ali.

Bulan Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh kedamaian dikatakan Ali malah membuat konflik di negaranya kian memanas.

Baca: Ajak Anak Panti Keliling Naik Moge, Komunitas Moge ROC Berbagi di Bulan Ramadhan

Baca: Harga Kelapa Dalam di Tanjab Barat, Ramadhan 1440 H Mulai Membaik, Naik Rp700 Per Buah

Baca: Buaya Pemangsa Manusia Ditangkap, Warga Berencana Belah Perut Buaya Tapi Ternyata

Baca: PASUKAN AS Melongo di Depan Matanya Denjaka Demo Menembak Berhadapan Pakai Peluru Tajam

Baca: Harga Ikan Selama Ramadhan di Pasar Kuala Tungkal Naik, Rerata Naik Rp5 Ribu

"Justru kalau bulan puasa disana lebih parah. Disana kalau bulan puasa ada bom ratusan orang korbannya," kata Ali yang masih memantau perkembangan negaranya melalui pemberitaan.

Ali sendiri sudah sekitar enam tahun meninggalkan negaranya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih tenang.

Ia sudah tak mau lagi kembali ke tanah kelahirannya yang menurutnya sudah sangat mencekam.

Ia berharap bisa secepatnya mendapatkan suaka ke Australia, negara pemberi suaka yang lokasinya dekat dengan Indonesia.

"Aku sudah enam tahun di Indonesia. Sudah ke Jakarta, Bogor, Riau, Bandung. Kalau di Kalideres ini sudah setahunan," kata Ali.

Editor:
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved