ANGGOTA Kopassus Pura-pura Mati 5 Hari Tidur di Tumpukan Jenazah Usai Tertembak, Sosok Ini Tiba

TRIBUNJAMBI.COM - Seorang anggota Kopassus (Komando Pasukan Khusus) pura-pura mati 5 hari.

ANGGOTA Kopassus Pura-pura Mati 5 Hari Tidur di Tumpukan Jenazah Usai Tertembak, Sosok Ini Tiba
Kolase/TribunJambi.com
Kopassus dan KKB 

TRIBUNJAMBI.COM - Seorang anggota Kopassus (Komando Pasukan Khusus) pura-pura mati 5 hari.

Diketahui, anggota kopassus pura-pura mati di tumpukan jasad rekan-rekannya selama 5 hari.

 

Seorang anggota kopassus pura-pura mati 5 hari saat anggota kopassus melaksanakan operasi Trikora atau Tri Komando Rakyat.

Sebut saja RPKAD yang kini dikenal dengan sebutan Kopassus.

Kisah nyata anggota RPKAD ini terjadi saat Operasi Trikora atau Tri Komando Rakyat di Papua.

Saat Letda Agus Hernoto yang dalam kondisi luka parah telah ditangkap, seorang anggota RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang bernama Kopassus) PU II Pardjo ternyata masih hidup.

Kondisi Pardjo sangat parah, tak bisa bergerak jauh.

Baca: AM Hendropriyono Sebut Massa Demo 22 Mei Kekuatannya Sudah Ompong, Analisis Mantan Kepala BIN

Dia harus bertahan hidup di antara jenazah teman-temannya yang menjadi korban penyergapan musuh.

Selama lima hari, Pardjo tidur di antara jenazah.

Tak ada obat-obatan dan makanan yang bisa digunakanannya.

Sejumlah anggota Kopassus melakukan atraksi beladiri usai pisah sambut  Danjen Kopassus dari Mayjen (TNI) Madsuni kepada Danjen Kopassus yang baru Mayjen (TNI) Eko Margiyono  di Markas  Kopassus Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (23/3).
Sejumlah anggota Kopassus melakukan atraksi beladiri usai pisah sambut Danjen Kopassus dari Mayjen (TNI) Madsuni kepada Danjen Kopassus yang baru Mayjen (TNI) Eko Margiyono di Markas Kopassus Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (23/3). (Warta Kota/Adhy Kelana)

Saat itu, Pemerintah Republik Indonesia melakukan Operasi Trikora

Satu di antara yang dilakukan dengan infiltrasi militer Indonesia melalui Operasi Banteng I.

Operasi itu melibatkan personel Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang saat ini bernama Paskhas, dan RPKAD yang sekarang bernama Kopassus.

Baca: Lowongan Kerja BUMN PT Taspen Batas Rekrut 31 Mei 2019, Siapkan Syarat dan Tata Cara Daftar Disini

Gabungan Kopassus dan Paskhas itu diterjunkan di tengah hutan belantara di Irian Barat.

Mereka masuk wilayah pertahanan Belanda dan mengacaukan konsentrasi pasukan musuh.

Prajurit yang siap tempur itu dibagi dua tim, yakni Banteng I di Fak-fak dan Banteng II di Kaimana.

Banteng I melakukan misi penerjunan di Fak-Fak, dipimpin Letda Inf Agus Hernoto.

Baca: Perkara Kasus Korupsi Bansos Muarojambi, JPU Nilai Berkas Tersangka Fathuri Belum Cukup Bukti

Banteng II di Kaimana dipimpin Lettu Heru Sisnodo.

Sambil menunggu perintah berangkat, pasukan memilih leyeh-leyeh di bawah sayap pesawat. Mereka berusaha tidur sekenanya untuk mengumpulkan tenaga.

Tiga pesawat Dakota yang dipimpin Mayor Udara YE Nayoan, Komandan Skadron 2 Transport, disiapkan untuk menerbangkan pasukan ke Fak-Fak.

Lengkapnya, operasi ini akan menerjunkan satu tim gabungan yang terdiri dari 10 prajurit PGT, 30 prajurit RPKAD ditambah dua orang Zeni.

Baca: LIVE STREAMING PSM Makassar vs Semen Padang - Semen Padang Tanpa 2 Pemain Andalan

Tim ini dipimpin Letda Agus Hernoto dari Kopassus.

Dihantam hujan deras

Sewaktu lepas landas dari Laha, hujan turun deras.

April hingga Juni memang musimnya penghujan di kawasan Indonesia Timur.

Dropping dilaksanakan di tengah temaramnya subuh di sebelah utara Fak-Fak.

Baca: Jadwal Final Liga Champions antara Tottenham Hotspurs vs Liverpool Live Streaming RCTI Nonton di HP

Ketika formasi pesawat dalam perjalanan pulang, terlihat di laut sebuah kapal yang lampunya berkelap-kelip.

Grup 1/Eka Wastu Baladika Kopassus Serang Banten
Grup 1/Eka Wastu Baladika Kopassus Serang Banten (Tribunnews)

Setelah Dakota pada posisi sejajar dengan kapal, diketahui dengan jelas bahwa ternyata kapal dimaksud milik angkatan laut Belanda.

Lampu yang terlihat berkelap-kelip ternyata tembakan dari kapal ke Dakota.

Formasi Dakota langsung berbelok ke kanan dengan arah menjauh.

Setelah konsolidasi di pagi hari itu, rombongan PU II Pardjo yang diterjunkan di Fak-Fak ternyata selamat dan satu anggota dinyatakan hilang.

Baca: KABAR Mengejutkan, Najwa Shihab akan Berhenti dari Mata Najwa, Mungkinkah Ada Tekanan?

Ilustrasi : Prajurit Kopassus. Identik dengan beret merah.
Ilustrasi : Prajurit Kopassus. Identik dengan beret merah. (Surya Malang)

Beberapa hari kemudian datang Marinir Belanda sehingga terjadi kontak senjata.

Sesuai instruksi sebelumnya, bila kekuatan tidak seimbang segera masuk hutan.

Setelah keadaan tenang mereka menyusup kembali ke kampung tersebut dan ternyata sudah kosong.

Rumah-rumah penduduk dibakar oleh Belanda dan penduduknya mengungsi entah ke mana.

Baca: Festival Beatrix, Lomba Pacu Perahu Tradisional Usai Lebaran di Sarolangun, Juga Ada Panjat Pinang

Tim Nanggala Kopassus
Tim Nanggala Kopassus (Tribun Bali)

Sementara pasukan yang diterjunkan di Fak-Fak, sekitar satu bulan bertahan di sekitar kampung Urere, kemudian mendapat perintah meninggalkan kampung.

Dalam kondisi sudah lemah karena kekurangan makanan, pasukan berhenti sejenak di kebun pala untuk istirahat.

Kemudian, secara tiba-tiba diserang pasukan Belanda dari arah seberang sungai.

Baca: TERKUAK Cak Nun Ungkap Alasannya Tak Pernah Mau Tampil di ILC, Singgung soal Media Massa

Dalam kontak senjata, lima anggota gugur yaitu KU I Adim Sunahyu, PU I Suwito, PU I Lestari, dua orang dari RPKAD yakni Sukani dan seorang lagi tak diketahui namanya.

Komandan Peleton Letda Agus Hernoto tertembak di kedua kakinya dan ditawan Belanda.

Sedangkan PU II Pardjo, kaki kanannya tertembak namun dengan sisa tenaganya berusah menyelinap.

Setelah Belanda pergi, Pardjo berusaha merangkak (karena tak sanggup berdiri) menuju tempat temannya yang gugur.

Baca: Dewan Pengurus KORPRI Kota Jambi Dikukuhkan, Dianto Ingatkan 3 Peran Utama ASN

Dia hanya sanggup berdoa dan tetap bertahan hidup di situ sekitar lima hari, di antara mayat teman-temannya yang mulai membusuk.

Sebuah kebetulan beberapa orang Papua lewat.

Mungkin kasihan melihat Pardjo yang terluka, ia digotong dan dibawa ke kampung terdekat.

Setelah beberapa hari dirawat, digotong lagi bersama-sama menyusuri pantai menuju rumah sakit angkatan laut Belanda di Fak-Fak.

Baca: Dewan Pengurus KORPRI Kota Jambi Dikukuhkan, Dianto Ingatkan 3 Peran Utama ASN

Pada saat penahanan itu ia mendengar melalui radio Belanda bahwa telah terjadi gencatan senjata.

Setelah menjalani interogasi, ia dikirim dengan kapal laut ke Biak dan dari sana dibawa ke penjara di Pulau Wundi.

Baca: THR PNS Cair 24 Mei, Cara Menghitung Besaran THR Karyawan Swasta dan Pekerja Lepas

Di sinilah akhirnya ia bertemu pasukan Resimen Pelopor, Kapten Kartawi dengan pasukannya, pasukan Peltu Nana, Serma Boy Tomas, Kapten Udara Djalaludin, Letnan Udara I Sukandar dan kru pesawat Dakota T-440.

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul KISAH NYATA! Anggota Kopassus Pura-Pura Mati 5 Hari di Tumpukan Jasad Rekannya

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Anggota Kopassus Pura-pura Mati 5 Hari Usai Tertembak, inilah yang Membuatnya Selamat

Editor: ridwan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved