Anak Mantan Mendagri Ingin Pecahkan Rekor MURI, Datang ke Jambi Malah Dikira Mau Minta Sumbangan

Sumartini, wanita paruh baya penyandang tuna netra kunjungi Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk pecahkan Rekor MURI.

Anak Mantan Mendagri Ingin Pecahkan Rekor MURI, Datang ke Jambi Malah Dikira Mau Minta Sumbangan
Tribunjambi/Darwin
Sumartini, wanita paruh baya penyandang tuna netra kunjungi Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk pecahkan Rekor MURI. 

Anak Mantan Mendagri Ingin Pecahkan Rekor MURI, ke Tanjab Barat Malah Dianggap Mau Minta Sumbangan

TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL - Sumartini, wanita paruh baya penyandang tuna netra kunjungi Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk pecahkan Rekor MURI.

Misi itu dilakukan wanita berusia 61 tahun, bernama Dr Hj Sumartini SH MH, warga asal Tanggerang, Banten. Wanita paruh baya ini merupakan pensiunan dosen dari Universitas Negeri Jakarta tahun 2014 sebagai pengajar mata kuliah kewarganegaraan.

Selain untuk memecahkan rekor muri, tujuannya datang dari kabupaten ke kabupaten lain juga untuk melihat sejauh mana pelayanan publik terhadap penyandang disabilitas.

"Bagaimana pelayanan publik terhadap orang cacat," ujar wanita yang mengaku anak mantan Mendagri, Supardjo Rustam ini mengatakan misinya mengelilingi Indonesia, Senin (20/5/2019).

Dengan perjalanannya ini dia berharap pemerintah khususnya dinas sosial dapat memperhatikan penyandang disabilitas.

Baca: Harga Sawit Anjlok, Petani Tanjab Timur Berharap Ada Keajaiban Jelang Idul Fitri

Baca: Konflik Tapal Batas Kabupaten Muarojambi Batanghari Kembali Panas, Bupati Masnah Panggil Kepala BPN

Baca: Dua Minggu Mau Lebaran, Sumardi dan Jupri Ditangkap Polisi Gara-gara Curi Kerbau di Tebo

Baca: Bupati Kerinci Sindir Petinggi PDAM, 5 Tahun Belum Lihat PDAM Tirta Sakti Kerinci Kerja Maksimal

Baca: Baznas Bagikan Rp 2 Miliar Zakat untuk 8.000 Mustahik di Bungo

Selama perjalanannya sejak 2018 mengelilingi Indonesia, dia mengungkapkan tidak ada yang begitu berkesan atau cenderung sama saja perlakuan yang diterimanya.

Namun jika dibandingkan perlakuan yang diterimanya, penyambutan hangat itu lebih baik dari Indonesia bagian Timur daripada bagian Barat.

"Arah ke Timur bagus, kalau ke Barat susah," ungkapnya.

Dijelaskannya bahwa susah yang dimaksudkan tersebut daerah barat ini banyak yang menduga-duga, berpikir macam-macam terhadap orang lain.

Halaman
12
Penulis: Darwin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved