Info BPJS Kesehatan

Beri Pemahaman Theraphy Pasien Diabetes Melitus di FKTP saat Puasa Ramadan Via Mentoring Spesialis

BPJS Kesehatan Cabang Jambi bersama dokter spesialis penyakit dalam RSUD Abdul Manap melaksanakan mentoring spesialis ...

Beri Pemahaman Theraphy Pasien Diabetes Melitus di FKTP saat Puasa Ramadan Via Mentoring Spesialis
Istimewa
BPJS Kesehatan Cabang Jambi bersama dokter spesialis penyakit dalam RSUD Abdul Manap melaksanakan mentoring spesialis dengan mengusung tema "Penatalaksanaan Theraphy Pasien Diabetes Melitus selama Ramadhan". Acara bertempat di aula Kantor BPJS Kesehatan Cabang Jambi (29/4). 

Beri Pemahaman Theraphy Pasien Diabetes Melitus di FKTP saat Puasa Ramadan Via Mentoring Spesialis

TRIBUNJAMBI, JAMBI - BPJS Kesehatan Cabang Jambi bersama dokter spesialis penyakit dalam RSUD Abdul Manap melaksanakan mentoring spesialis dengan mengusung tema "Penatalaksanaan Theraphy Pasien Diabetes Melitus selama Ramadhan". Acara bertempat di aula Kantor BPJS Kesehatan Cabang Jambi (29/4).

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh perwakilan dokter umum di seluruh FKTP mitra BPJS Kesehatan di Kantor Cabang Jambi.

Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Primer, Liza Syafriani, saat ditemui tim Jamkesnews menyampaikan bahwa mentoring spesialis merupakan kegiatan rutin yang wajib dilaksanakan BPJS Kesehatan, sebagai upaya meningkatkan komitmen pelayanan kesehatan di FKTP dalam pengelolaan peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis).

“Mentoring spesialis diharapkan mampu meningkatkan komitmen pelayanan kesehatan di FKTP khususnya terhadap peserta Prolanis. Tidak hanya itu, bagi rumah sakit mentoring spesialis merupakan bagian dalam continuing learning dokter spesialis penanggung jawab pasien prolanis termasuk salah satunya dokter spesialis penyakit dalam sebagai DPJP untuk pasien diabetes melitus,” terang Liza.

Untuk diketahui peserta Program JKN-KIS dengan diagnosa penyakit kronis ketika kondisinya sudah dalam keadaan stabil, maka dokter spesialis atau sub spesialis di rumah sakit wajib mengembalikan pasien tersebut ke pihak FKTP.

Kemudian, pasien yang dalam kondisi stabil tersebut menjadi tanggung jawab pihak FKTP, dalam hal kontrol ulang dan pemeriksaan rutin yang merupakan Program Rujuk Balik (PRB).

Liza menegaskan, PRB inilah yang menjadi acuan terhadap kompetensi dokter umum di FKTP dalam melakukan penanganan penyakit kronis.

“Pada kesempatan hari ini BPJS Kesehatan fokus pada salah satu dari 9 diagnosa penyakit kronis yang termasuk dalam kriteria PRB, yakni diabetes melitus," tuturnya.

"Apalagi dalam beberapa hari ke depan kita akan menghadapi bulan Ramadan sehingga peserta diabetes melitus yang biasanya memiliki pola jumlah asupan makanan yang disesuaikan dengan kadar gula darah dalam tubuh pada hari biasa, diminta untuk dapat menyesuaikan asupan makanannya pada saat berpuasa," tambah Liza.

Dr Ridwan SpPD, sebagai satu di antara dokter penanggung jawab pasien penderita diabetes melitus yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan tentang diabetes.

"Penderita diabetes dianjurkan untuk lebih banyak mengonsumsi makanan yang menghasilkan energi secara lambat. Seperti gandum, kacang-kacangan, nasi, dan semolina, juga menghindari makanan dengan kandungan asam jenuh yang tinggi," kata Ridwan.

Dia menjelaskan porsi makanan saat puasa juga disesuaikan, yaitu 50% saat sahur, 40% saat berbuka dan 10% setelah tarawih.

"Pastikan juga asupan cairan saat berpuasa tercukupi dengan baik setelah buka puasa dan tarawih," tuturnya.

Menurut Ridwan, pasien diabetes melitus dikategorikan dalam empat kondisi.

Pertama, kondisi risiko rendah (Kadar HbA1C < 7% ), diizinkan berpuasa,
Kedua, risiko sedang (Kadar Hba1C <8%), diizinkan berpuasa dengan diet dan short control insulin. Ketiga, pasien risiko tinggi (kadar Hba1C 8 – 10%) diperbolehkan tidak puasa.

"Keempat, pasien risiko sangat tinggi (kadar Hba1C >10%), sangat tidak direkomendasikan untuk berpuasa," tambah Ridwan.

Untuk diketahui bersama, HbA1c (hemoglobin A1c) atau glycated hemoglobin adalah hemoglobin yang berikatan dengan glukosa (gula) di dalam darah, secara alami glukosa akan saling mengikat dengan hemoglobin yang berada di dalam sel darah merah, yang mana jumlah HbA1c memang seimbang dengan kadar gula darah yang mana ketika semakin tinggi kadar gula darah, maka kadar HbA1c akan semakin meningkat.

Peserta Program JKN-KIS dengan diagnosa penyakti Diabetes Melitus, diberikan kesempatan untuk melaksanakan pemeriksaan Hba1C pada laboratorium yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Apabila pasien tersebut telah menjadi peserta prolanis pada FKTP tempat peserta tersebut terdaftar, kesempatan pemeriksaan tersebut diberikan sebanyak 1 kali dalam kurun waktu 6 bulan.

"Dengan adanya mentoring spesialis hari ini, dokter umum di FKTP diharapkan dapat menangani penyakit diabetes melitus ini sampai pada tahap maksimal, kalau sudah bukan kapasitas dari FKTP dan sudah tidak mampu ditangani oleh dokter baru dirujuk," tutur Liza. (aa/adv)

Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved