MAYJEN TNI Kena Tilang Polantas, Kapolda Turun Tangan Minta Maaf, Poniman Bilang 'Saya yang Salah'

TRIBUNJAMBI.COM--Hukum memang harus mengatur semua orang tanpa pandang bulu.

MAYJEN TNI Kena Tilang Polantas, Kapolda Turun Tangan Minta Maaf, Poniman Bilang 'Saya yang Salah'
Kolase/Wikipedia
Mayjen TNI Poniman dan Widodo Budidarmo 

Bambang Sugeng yang waktu itu berpangkat Mayor Jenderal menurut saja saat diberhentikan seorang anggota polisi.

Dilansir dari buku 'Panglima Bambang Sugeng, Panglima Komando Pertempuran Merebut Ibu Kota Djogja Kembali 1949' karya Edi Hartoto dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2012.

Berawal dari Bambang Sugeng yang berkendara sepeda motor di jalanan Yogyakarta pada tahun 1952.

Saat itu Bambang yang getol naik sepeda motor sedang berkunjung ke Yogyakarta, Ia pun meminjam sepeda motor milik Haryadi seorang pelukis di Jogja.

Baca: Berkat Anjing Pelacak, Terduga Pelaku Mutilasi di Malang Tertangkap, 100 Meter dari Tempat Kejadian

Tanpa menggunakan seragam dan hanya berpakaian sipil Bambang lalu jalan-jalan melaju menggunakan sepeda motor pinjaman tersebut.

Sampai di Perempatan Tugu, di sekitaran Jalan Malioboro Bambang tak sengaja melanggar lampu lalu lintas.

Waktu itu lampu lalu lintas menyala kuning, disangkanya sehabis kuning lampu hijau yang akan menyala.

Baca: Neraca Dagang April 2019 Alami Defisit Hingga US$ 2,5 Miliar.  Terbesar Sejak Juli 2013

Bambang pun melajukan kendaraannya, namun bukannya lampu hijau yang menyala ternyata malah lampu merah.

Tak ayal seorang petugas kepolisian yang bertugas di lokasi tersebut langsung menyetop Bambang.

Meski seorang Jenderal dan orang nomor satu di TNI AD namun Bambang menyadari kesalahannya menurut saja saat polisi tersebut menasehatinya.

Usai panjang lebar menasehati Bambang Soegeng, polisi itu lalu meminta Bambang Sugeng menunjukkan SIM miliknya.

Baca: Zona 4G Plus Kuat IM3 Ooredoo, Hadir di Pasar Bedug Kosera, Ini Harga Paket Internet yang Ditawarkan

Saat ditunjukkan betapa terkejutnya polisi tersebut mengetahui identitas pria yang disetopnya tersebut merupakan Jenderal TNI AD.

"Siaap Pak!" si polisi spontan langsung berdiri tegak memberi hormat.

Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya ketika dirinya mengetahui yang diberhentikan dan diceramahinya seorang Kepala Staf TNI AD.

Namun bukannya marah, Bambang Soegeng malah mengaku salah dihadapan anggota polisi tersebut.

Bambang Sugeng juga tak lalu menggunakan kekuasaannya supaya lolos dari hukuman karena melanggar aturan lalu lintas.

Baca: Polisi Tangkap Terduga Pelaku Mutilasi, Ditemukan Tulisan Mirip di Lokasi Penemuan Jenazah Korban

"Memang saya yang salah. Saya menerima pelajaran dari Pak Polisi," kata Bambang Sugeng.

Bahkan kabar tentang Bambang Soegeng yang ditilang polisi tersebut keesokan harinya masuk berita di sebuah koran di Yogyakarta.

Bambang Sugeng merupakan sosok perwira TNI yang memberikan teladan untuk selalu taat aturan dan tidak mentang-mentang berkuasa.

Endang Ruganika, putri sulung Bambang Soegeng mengisahkan hal lain soal kepatuhan ayahnya berlalu lintas.

Baca: Jadi Calon Kuat Ketua DPR RI, Segini Harta Puan Maharani Selama Menjadi Menteri Jokowi-Jusuf Kalla

Saat itu Bambang Soegeng hendak pergi ke Jawa Tengah. Namun saat sampai Cirebon, dia baru sadar SIM ketinggalan.

"Bapak menyuruh pembantu pulang ke Jakarta untuk mengambil SIM," tulis Endang dalam buku tersebut.

Dikutip dari Wikipedia, Bambang Sugeng lahir di Tegalrejo, Magelang, 31 Oktober 1913 dan meninggal di Jakarta, 22 Juni 1977 pada umur 63 tahun.

Selain berkarier di dunia militer, Bambang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Vatikan, Jepang, dan Brasil.

Baca: PENSIUNAN PNS Tinggal Bersama Mayat Istri yang Membusuk: Dijaga Adiknya Tanpa Busana di Kamar

3. Jenderal TNI Dibentak Bintara Karena Salah Parkir

Identitas merupakan hal utama yang harus dirahasiakan oleh seorang intelijen, meskipun pangkatnya jenderal TNI sekalipun

Pengalaman menarik pernah dialami mayor jenderal (Mayjen) TNI Benny Moerdani yang kala itu tergabung dalam intelijen TNI

Benny Moerdani yang saat itu berpangkat mayor jenderal TNI, harus menjaga kerahasiaan identitasnya dari personel TNI lain

Seperti dilansir dari buku 'Pada buku Benny: Tragedi Seorang Loyalis' yang ditulis Julius Pour

Cerita itu bermula ketika Benny Moerdani pergi ke Markas Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

Baca: 4.158 Calon Mahasiswa Telah Mendaftar di UIN STS Jambi, Tersisa Satu untuk Jalur Reguler

Benny Moerdani mengendarai mobilnya tanpa mengenakan seragam dinas.

Dia berkendara ke kantor yang terletak di kawasan Medan Merdeka Barat. Setiba di lokasi, ia langsung memarkirkan kendaraannya di lokasi terdekat dari pintu masuk.

Lokasi parkir itu merupakan tempat khusus bagi perwira tinggi militer.

Tanpa pikir panjang, seorang penjaga berpangkat bintara yang berasal dari satuan marinir menghardiknya.

Penjaga itu meminta Benny memindahkan mobilnya ke lokasi parkir lain.

Bagaimana respon Benny Moerdani?

Benny Moerdani diam saja.

Baca: THR & Gaji ke-13 ASN, TNI serta Polri Kemungkinan Tidak Cair di Tanggal 24 Mei 2019, Ini Alasannya

Dia tidak marah dan hanya diam mengikuti perintah marinir tersebut.

"Mungkin memang salah saya sendiri, kok waktu itu pakai pakaian preman," ujar Benny Moerdani.

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Kisah 2 Jenderal TNI Ditilang Polisi Lalu Lintas, Kapolda Metro Jaya Sempat Telepon Cek Kebenaran,

Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Dimarahi Gegara Parkir, 2 Jenderal TNI Ditilang Polisi Lalu Lintas, Ini yang Terjadi,

Editor: ridwan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved