PERNAH Bikin Malu Pak Harto saat di Militer, Nasib 3 Jenderal Ini Tragis: 1 Korban Penculikan

TRIBUNJAMBI.COM - Siapa sangka, ada 3 sosok Jenderal TNI yang pernah buat Pak Harto malu.

PERNAH Bikin Malu Pak Harto saat di Militer, Nasib 3 Jenderal Ini Tragis: 1 Korban Penculikan
Bung Karno diapit dua jenderal Angkatan Darat, AH Nasution (kiri) dan Soeharto. Ketiganya tertawa lebar saat bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, 1966. (Ade Sulaeman) 

 

TRIBUNJAMBI.COM - Siapa sangka, ada 3 sosok Jenderal TNI yang pernah buat Pak Harto malu.

Nasib tiga orang Jenderal TNI yang pernah mempermalukan Soeharto redup setelah Pak Harto berkuasa.

 

Bahkan satu diantara Jenderal yang pernah mempermalukan Pak Harto menjadi korban penculikan pada peristiwa berdarah G30S/PKI.

Mantan Wakil Perdana Menteri Indonesia di era tahun 1960-an, Soebandrio, menerbitkan memoar berjudul Kesaksianku Tentang G30S pada tahun 2000 lalu.

Baca: Ancam Bawa ke Mahkamah Internasional, Amien Rais: Wiranto Hati-hati Anda

Baca: Diduga Maling Kotak Amal Masjid, Pencuri Ini Menangis saat Dimandikan Seperti Jenazah

Dalam buku tersebut, Subandrio melancarkan serangan balik ke Soeharto.

Ia menuding Soeharto justru telah melakukan kudeta merangkak terhadap kekuasaan Soekarno.

Menurut Soebandrio, Soeharto punya rekam jejak yang buruk jauh sebelum peristiwa G30S.

Yang pertama, semasa di divisi Diponegoro, Soeharto menjalin relasi dengan pengusaha tionghoa, Liem Sioe Liong dan Bob Hasan.

Baca: Yayan Ungkap Keanu Reeves Minta Ada Dialog Bahasa Indonesia

Baca: Kronologi Massa Bakar 5 Alat Berat PT LAJ Tebo Jambi Menurut Polisi, Warga Tak Terima Land Clearing

Soebandrio menyebut orang-orang ini menjalankan bisnis penyelundupan berbagai barang.

Baca Juga:

Diserang Secara Kilat dengan Kopassus, Teroris Tak Berkutik, Media Thailand serta Dunia Tercengang

Pemkot Jambi Gelar Buka Puasa Bersama, Sekaligus Syukuran Hari Lahir Sy Fasha, Ini Pesan Penceramah

OKNUM Pramugari Tepergok Mesum di Toilet Pesawat, Tarif Sekali Layanan Spesial Rp 32 Juta

Komentari Penangkapan Pria yang Ancam Penggal Jokowi, Iwan Fals Sindir Polisi yang Tilang Dirinya

Kabar itu berhembus kemana-mana hingga ke telinga, Jenderal Ahmad Yani.

Kabarnya Ahmad Yani sangat marah.

Sampai-sampai, dalam suatu kejadian, Yani menempeleng Soeharto.

Soeharto dianggap mempermalukan korps Angkatan Darat (AD).

Ahmad Yani diculik dari rumahnya
Ahmad Yani diculik dari rumahnya 

Tak hanya itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal AH Nasution juga dikabarkan pernah memecat Soeharto sebagai Pangdam Diponegoro secara tidak hormat.

Soeharto dianggap telah menggunakan institusi militernya untuk mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah.

“Sebagai Penguasa Perang, saya merasa ada wewenang mengambil keputusan darurat untuk kepentingan rakyat, ialah dengan barter gula dengan beras. Saya tugasi Bob Hasan melaksanakan barter ke Singapura, dengan catatan beras harus datang lebih dahulu ke Semarang,” demikian pengakuan Soeharto dalam Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989).

Baca: Pesan Aneh hingga Tato Misterius Pada Penemuan Mayat, Korban Mutilasi di Pasar Besar Malang

Baca: SOSOK Istri Mantan Danjen Kopassus Beberkan Video Kecurangan Pilpres 2019, Ikut Sidak ke Kantor KPU

Namun Soeharto diselamatkan Mayjend Gatot Subroto.

Menurut Gatot, Soeharto masih bisa dibina.

Akhirnya, Soeharto pun disekolah di Seskoad di Bandung.

Akhir Hayat Jenderal Nasution yang Menyedihkan

Nasib Jenderal AH Nasution dan Jenderal Ahmad Yani berbeda sat terjadi peristiwa penculikan jenderal AD, 30 September 1965.

Ahmad Yani tewas sementara AH Nasution berhasil melarikan diri.

Baca: Ini Pernyataan Syafrudin Chan Wakil Ketua DPRD Merangin yang Baru Dilantik Gantikan Isnedi

Jenderal Abdul Haris Nasution dan Mayor Jenderal Soeharto berdoa di depan peti jenazah almarhum Jenderal Sutojo (kompas)
Jenderal Abdul Haris Nasution dan Mayor Jenderal Soeharto berdoa di depan peti jenazah almarhum Jenderal Sutojo (kompas) 

Baca Juga:

Rugikan Negara Rp3,1 Miliar, Direktur PT JJM Divonis 3 Tahun Penjara dan Denda Rp 6,2 Milyar

Penampakan Video War Room BPN Kubu 02, Karena Diterpa Isu Tak Blak-blakan soal Klaim Kemenangan

Promo Anniversary Ke-8 Mitra Bangunan, Potongan Harga Besar-besaran

Pelunasan BPIHB Tahap II di Tutup, 8 Orang CJH Provinsi Jambi Belum Melakukan Pelunasan BPIH

Namun Nasution harus kehilangan putrinya Ade Irma Suryani.

Nasution masih hidup hingga tahun 2000.

Selepas menjadi Ketua MPRS dan melantik Soeharto sebagai presiden ke-2 kariernya meredup.

Di orde baru Nasution nyaris tak kebagian peran mengurus negara.

Yang terjadi malah ia dicekal orde baru.

Nasution juga tidak boleh muncul dalam acara kenegaraan dimana ada Presiden Soeharto.

Bahkan sampai urusan mobil Holden Priemer tua lungsuran dari Hankam yang dipakai Nasution sehari-hari ikut ditarik dari kediamannya.

Baca: TRAGIS! Uang Gambar Soeharto Tak Laku Pedagang Takut Sial, Yang Terjadi Saat Soeharto Terjengkang

Sebuah cerita di penghujung hayatnya malah membuat banyak orang bersedih.

Kabarnya ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme.

Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi. 

Berstatus jenderal tapi mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya.

Kabarnya ada yang memutus aliran air PAM ke rumahnya.

Baca Juga:

Libatkan Warga Sekitar, Dishub Kota Jambi Atur Parkir Pasar Bedug

Pemerintah Jamin Stok Daging untuk Ramadhan & Lebaran Aman, Daging Beku Kuasai Pasar di Kota Jambi

Aiptu Zakaria Jacklyn Choppers Pernah Tertembus 11 Peluru, Kini Sergap Pria Pengancam Penggal Jokowi

Siapa Sebenarnya Aiptu Zakaria Choppers, Sosok Nyentrik yang Tangkap Pria Pengancam Penggal Jokowi

Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, Nasution terpaksa membuat sumur di belakang rumah.

Sumur itu masih ada sampai sekarang.

Nasib Kolonel Kawilerang

Dalam sejarah dunia militer Indonesia, sosok Alex Evert Kawilarang merupakan nama yang tak asing lagi dikenal.

Pria kelahiran Batavia (kini Jakarta), 23 Februari 1920 ini pernah menempeleng Presiden kedua Indonesia, Soeharto.

Baca: Taufik TP Beli Obat di Apotek Tapi Tak Balik ke Rumah, Ternyata Ditangkap Densus 88

Penempelengan tersebut terjadi ketika Kawilarang menjabat sebagai Panglima selaku atasan dari Letkol, Soeharto.

Sekitar tahun 1950-an, sebagai Panglima Wirabuana, Alex E Kawilarang melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.

Alex Evert Kawilarang
Alex Evert Kawilarang (grid)

Namun Soekarno justru menyodorkan sebuah radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar.

Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan kota Makassar saat itu juga dilaporkan telah mundur ke Lapangan Udara Mandai.

Mendengar radiogram tersebut, Kawilarang marah besar dan segera kembali ke Makassar.

Setibanya di lapangan udara Mandai, ia langsung memarahi Komandan Brigade Mataram, Letkol Soeharto, sambil menempelengnya.

Baca: Pesan Aneh hingga Tato Misterius Pada Penemuan Mayat, Korban Mutilasi di Pasar Besar Malang

Latar belakang Alex E Kawilarang

Alex E Kawilarang merupakan putera dari keluarga dengan latar belakang militer.

Ayahnya adalah A.H.H. Kawilarang, yang merupakan seorang mayor KNIL asal Tondano.

Ia lahir dari ibu bernama Nelly Betsy Mogot, yang berasal dari Remboken.

Alex E Kawilarang, juga merupakan sepupu dari Pahlawan Nasional, Daan Mogot.

Ia meninggal di Jakarta pada 6 Juni 2000 silam di usia 80 tahun.

Selain sebagai perwira militer yang termasuk dalam Angkatan '45, Alex E Kawilarang juga merupakan mantan anggota KNIL.

Baca: Ojek Online Beroperasi di Sarolangun Jambi, Buka Lowongan Kerja Driver, Cek di Sini Persyaratannya

Karier Militer Alex E Kawilarang

Alex E Kawilarang mengawali kariernya sebagai Komandan Pleton Kadet KNIL di Magelang pada tahun 1941-1942.

Kariernya melaju cepat seiring berjalannya waktu.

Pada 11 Desember 1945 ia telah menjadi perwira dengan pangkat mayor dan bertugas sebagai penghubung dengan pasukan Inggris di Jakarta.

Baca Juga:

Saat Misi Besar Selalu Ada Aiptu Zakaria Jacklyn Choppers, Rupanya Kisah Hidupnya Sangat Heroik!

Sinta Divonis 1,5 Tahun Penjara, Ditangkap Polisi Saat Hisap Sabu di Rumah Temannya

Rekan Kerja Sebut Gelagat Tak Biasa Vera Oktaria, Ngaku Izin Pulang, Ternyata Pergi ke Hotel

Sebulan kemudian, tepatnya pada Januari 1946 ia menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Infanteri Bogor Divisi II Jawa Barat, dengan pangkat letnan kolonel.

Tiga bulan setelah itu, pada April-Mei 1946, ia diangkat menjadi Komandan Resimen Infanteri Bogor.

Alex E Kawilarang (kiri), Soeharto (kanan)
Alex E Kawilarang (kiri), Soeharto (kanan) (kolase tribunnews)

Tiga bulan selanjutnya, yakni pada bulan Agustus 1946 hingga 1947 ia diberi kepercayaan sebagai Komandan Brigade II/Suryakencana - Divisi Siliwangi di Sukabumi, Bogor dan Tjiandjur.

Pada 1948-1949, Kawilarang menjabat sebagai Komandan Brigade I Divisi Siliwangi di Yogyakarta.

Di tahun yang sama, tepatnya pada 28 November 1948 ia juga menjabat sebagai Komandan Sub Teritorium VII/Tapanuli, Sumatera Timur bagian selatan.

Baca: Diduga Maling Kotak Amal Masjid, Pencuri Ini Menangis saat Dimandikan Seperti Jenazah

Setahun selanjutnya, pada 1 Januari 1949 pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), ia dipercaya sebagai Wakil Gubernur Militer PDRI untuk wilayah Tapanuli dan Sumatera Timur bagian selatan.

Di penghujung tahun 1949, tepatnya pada tanggal 28 Desember, ia dipercaya sebagai Gubernur Militer wilayah Aceh dan Sumatera Utara merangkap Wakil Koordinator Keamanan dengan pangkat kolonel.

Dua bulan kemudian, pada 21 Februari 1950, ia mendapatkan kepercayaan tambahan sebagai Panglima Tentara dan Territorium I/Bukit Barisan yang berkedudukan di Medan.

Pada 15 April 1950 ia diangkat sebagai Panglima Operasi Pasukan Ekspedisi.

Baca: Tanoto Foundation Adakan Media Gathering Dengan Wartawan dan Humas Pemerintah, Sampaikan Program

Saat itu ia ditugaskan untuk memimpin Pasukan Ekspedisi dalam Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Azis di Makassar, pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku, dan Pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.

Pada 1951-1956, Kawilarang diangkat sebagai Panglima Komando Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur (TTIT) di Makassar dan pada November tahun yang sama menjadi Panglima TT III/Siliwangi yang di kemudian hari diubah namanya menjadi Kodam III/Siliwangi.

Salah satu jasanya yang hingga kini sangat terasa kehadirannya adalah saat ia merintis pembentukan pasukan khusus TNI pada April 1951, dengan nama Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT-III) Siliwangi di Batujajar, Jawa Barat.

Baca: Mahfud MD Tiba-tiba Bercuit Tentang Menteri PU Basuki yang Rumahnya Kena Gusur Jalan Tol

Kesatuan ini merupakan cikal bakal dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sekarang.

Pada 10 November 1951 hingga 14 Agustus 1956, Kawilarang diangkat menjadi Panglima Komando Tentara dan Territorium III/Siliwangi yang berkedudukan di Bandung. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunjambi.com dengan judul Permalukan Soeharto saat Jadi Tentara, 3 Nasib Jenderal TNI Ini Berakhir Tragis, 1 Korban Penculikan
Editor: ekoprasetyo

Editor: ridwan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved