Harga Komoditas Kelapa Sawit Terus Merosot, Pemerintah Gandeng Swiss Bidik Kerjasama Berkelanjutan

Merosotnya komoditas harga kelapa sawit berimbas pada petani sawit di seluruh Indonesia, pemerintah pun bergerak mencari solusi.

Harga Komoditas Kelapa Sawit Terus Merosot, Pemerintah Gandeng Swiss Bidik Kerjasama Berkelanjutan
kompas.com
Petani menaikkan tandan buah segar kelapa sawit ke atas truk 

TRIBUNJAMBI.COM - Merosotnya komoditas harga kelapa sawit berimbas pada petani sawit di seluruh Indonesia, pemerintah pun bergerak mencari solusi.

Satu diantara solusi yang diupayakan pemerintah adalah menggandeng pemerintah Swiss dalam kerjasama terkait produksi kelapa sawit dari Indonesia.

Pemerintah Swiss juga telah memberikan lampu hijau terkait komoditas kelapa sawit Indonesia dalam pengembangan industri jangka panjang.

Dalam paparan di harian Kompas Sabtu 11 Mei 2019, disebutkan kerjasama ini akan meningkatkan standar mutu kelapa sawit Indonesia di masa yang akan datang.

Petani menaikkan tandan buah segar kelapa sawit ke atas truk
Petani menaikkan tandan buah segar kelapa sawit ke atas truk (kompas.com)

Menteri Perdagangan Enggiartiasto Lukita menyebut komitmen pemerintah Swiss tersebut akan diwujudkan dalam sejumlah kajian terkait perkebunan dan industri kelapa sawit.

Pemerintah Indonesia dan Swiss juga sepakat mempercepat perjanjian yang akan dilakukan ratifikasi di parlemen kedua negara.

Petani sawit di Sungai Bahar, Muarojambi mengeluhkan harga buah sawit yang murah.
Petani sawit di Sungai Bahar, Muarojambi mengeluhkan harga buah sawit yang murah. (Tribunjambi/Samsul Bahri)

Dilansir Kemlu.go.id beberapa waktu lalu KBRI Bern bekerjasama dengan ETH Zurich dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia cabang Jakarta menyelenggarakan forum diskusi membahas isu kelapa sawit. Kegiatan ini diadakan di kampus ETH Zurich Selasa 23 April 2019. ETH Zurich adalah salah satu perguruan tinggi terkemuka dan tertua di Swiss.

Kegiatan diskusi ini dihadiri oleh sekitar 80 undangan dari Swiss baik dari kalangan akademisi, industri yang berkaitan dengan sawit, LSM bidang sawit, badan sawit berkelanjutan atau RSPO, KADIN Swiss, Kedutaan Besar negara penghasil sawit seperti Malaysia, Kamerun dan Kolumbia dan sejumlah wakil lembaga pemerintah Swiss. Dari pihak Indonesia hadir puluhan anggota Ikatan Sarjana Ekonomi cabang Jakarta yang terdiri dari pimpinan sejumlah perusahaan, lembaga keuangan serta akademisi dari IPB dan Universitas Prasetya Mulya.

Baca: Niat dan Tata Cara Salat Dhuha, Tunaikan Selama Ramadan, Raih 6 Manfaat Luar Biasa Insya Allah

Baca: Arief Poyuono Minta Demokrat Keluar Dari Koalisi, Sandiaga Uno dan Ferdinand Hutahean Beraksi Keras

Dalam sambutannya, Duta Besar RI Bern Muliaman Hadad menyatakan bahwa tujuan penyelenggaraan forum diskusi untuk menyamakan pandangan mengenai isu yang dihadapi dalam industri minyak sawit. “Diharapkan tercipta peluang bekerjasama dalam membangun masa depan industri sawit yang berkelanjutan”ujar Muliaman.

Selanjutnya semua peserta terlibat dalam suatu permainan yang diciptakan oleh mahasiswa ETH Zurich dalam proyek OPAL (Oil Palm Adaptive Landscape) mengenai tantangan yang dihadapi para pemangku kepentingan sawit seperti pemerintah, perusahaan sawit, LSM serta petani sawit dalam pengembangan sawit yang berkelanjutan. Permainan yang mirip dengan permainan monopoli ini dimainkan dengan antusias oleh para peserta. Dua pembicara dari ISEI yaitu Prof.Dr Bustanul Arifin dari ISEI dan Dr. Fadhil Hasan dari Asian Agri memaparkan tantangan dan potensi kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan.

Baca: Andi Arief Tuding Loyalis Prabowo Kivlan Zen Sekali Tak Pro Islam, Sering Gunakan SARA

Baca: VIDEO: Gratis, Masjid Jogokariyan Setiap Hari Sediakan Buka Hingga 2.500 Piring, Warga Tumpah Ruah

Para pemeran dalam permainan menyampaikan sejumlah saran dan masukan agar pengembangan sawit di Indonesia yang berkelanjutan tidak hanya memenuhi harapan Pemerintah namun juga para pemangku kepentingan lain seperti pengusaha sawit, LSM, petani sawit dan lainnya. Perhatian yang lebih besar diperlukan untuk membantu petani sawit terutama terkait dengan akses modal, akses pasar yang lebih mudah dan luas dan bantuan teknis agar dapat meningkatkan kualitas produksinya.

Permainan ini telah memberikan pemahaman mendalam mengenai isu yang dihadapi dan inisiatif yang harus diambil. Para peserta menyimpulkan bahwa menjadi petani kelapa sawit tidaklah mudah. Diskusi ini sangat bermanfaat untuk memahami berbagai masalah yang dihadapi masing-masing pemangku kepentingan dalam industri sawit ditengah kampanye negatif sawit di luar negeri.

Baca: VIDEO: Gratis, Masjid Jogokariyan Setiap Hari Sediakan Buka Hingga 2.500 Piring, Warga Tumpah Ruah

Baca: Kultum Ramadan Amar Makruf Nahi Munkar, Cocok Dibacakan Jelang Tarawih, Hati Sejuk Saat Ramadan

Topik kelapa sawit menjadi isu hangat setelah diskriminasi yang dilakukan Uni Eropa terhadap ppenggunaan kelapa sawit, tepatnya setelah kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II Delegated Act disahkan oleh parlemen Eropa. “Swiss menjadi tempat ideal untuk membahas masa depan kelapa sawit mengingat Swiss bukan anggota Uni Eropa, dan memiliki pemikiran yang lebih terbuka terhadap isu ini” ujar Dubes Muliaman.

Para tamu juga disuguhi kopi dari Anomali Coffee dan Pipiltin Chocolate yang ikut dalam rombongan ISEI dalam kunjungan ke Swiss. Anomali Coffee mendapatkan tawaran dari pengusaha Swiss untuk menjadi agen penjualan produk mereka di Swiss.

Penyebab Harga Kelapa Sawit Anjlok

Dilansir cnbcIndonesia Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) anjlok pada perdagangan Rabu (24/4/2019) siang, menyusul kekhawatiran pelaku pasar akan penurunan permintaan.

Pada pukul 11:30 WIB, harga CPO kontrak pengiriman Juni di bursa Malaysia Derivatives Exchange terperosok hingga 1,2% ke posisi MYR 2.144/ton, setelah ditutup melemah 0,09% pada hari Selasa (23/4/2019).

Selama sepekan, harga CPO sudah turun 2,77% secara point-to-point. Sedangkan sejak awal tahun masih tercatat menguat 1,08%.




Malam kemarin, Uni Eropa mengumumkan nilai impor minyak sawit periode 1 Juli 2018 - 21 April 2019 sebesar 5,2 juta ton, yang mana sama dengan periode yang sama satu tahun sebelumnya. Disamping itu, impor kedelai pada periode tersebut naik 10% menjadi 11,8 juta ton.

Artinya permintaan minyak sawit, terbilang stagnan . Tak ada pertumbuhan permintaan. Kampanye negatif atas sawit yang sudah merebak di Eropa sejak tahun lalu diduga membuat minyak sawit kalah dengan saingan-saingannya.

Buktinya impor kedelai masih bisa meningkat, yang menandakan kebutuhan minyak nabati masih tumbuh di Benua Biru. Sebagai informasi, minyak kedelai merupakan produk substitusi dari minyak sawit yang saling memperebutkan bagian di pasar minyak nabati global.

Apalagi diketahui bahwa Uni Eropa merupakan importir minyak sawit terbesar di dunia. Pada tahun 2018, jumlah impor CPO uni Eropa mencapai lebih dari 3 juta ton, hanya kalah dari India yang lebih dari 7 juta ton.

Terlebih penggunaan minyak sawit sebagai campuran bahan baku biosolar di Uni Eropa sudah mulai dikurangi.

Pada bulan Maret, Komisi Eropa telah memutuskan untuk menghapus secara bertahap penggunaan bahan bakar nabati/BBN (biosolar) berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) hingga 2030.

Dengan begitu, permintaan minyak sawit dari Uni Eropa juga akan terganggu. Meskipun peraturan tersebut belum berlaku sepenuhnya dan masih melalui proses uji coba, namun importir akan mengambil langkah yang konservatif.

"Negara-negara Eropa bisa memperketat impor minyak sawit," kata pialang di Kuala Lumpur yang biasa memasok minyak sawit ke eropa, mengutip Reuters. "importir tampaknya akan enggan untuk mengambil risiko."

Selain itu pelaku pasar juga masih menanti hasil rekap produksi, ekspor, dan stok akhir minyak sawit Malaysia periode April.

Sejauh ini beberapa investor memandang produksi meningkat hingga 2%-5% sepanjang bulan April.

Bukan kabar yang baik di saat dua surveyor kargo mengatakan bahwa peningkatan ekspor periode 1-20 April hanya meningkat 1,5%-2,2%. Bahkan satu surveyor kargo mencatat adanya kontraksi ekspor sebesar 1,8% pada periode tersebut.

Bila stok meningkat pesat di bulan April, maka sulit untuk membayangkan keseimbangan fundamental (pasokan-permintaan) akan menjadi kurus. Alhasil pelaku pasar banyak melepas kontrak sawit guna menghindari kerugian yang besar. 

Artikel telah tayang di cnbcindonesia dengan judul 'https://www.cnbcindonesia.com/market/20190424113145-17-68522/permintaan-dari-eropa-tak-tumbuh-harga-cpo-anjlok'

Penulis: heri prihartono
Editor: heri prihartono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved