Kisah Militer

3900 Prajurit Gagal Telak jadi Kopassus, Tak Terima, Ada yang Protes hingga Lepaskan Tembakan!

Dalam sejarah Kopassus, kesatuan baret merah TNI AD ini pernah melakukan seleksi ulang hingga membuat lebih dari 3000 prajuritnya dinyatakan tak lulus

3900 Prajurit Gagal Telak jadi Kopassus, Tak Terima, Ada yang Protes hingga Lepaskan Tembakan!
IST
3900 Prajurit Gagal Telak jadi Kopassus, Tak Terima, Ada yang Protes hingga Lepaskan Tembakan! 

3900 Prajurit Gagal Telak jadi Kopassus, Tak Terima, Ada yang Protes hingga Lepaskan Tembakan! 

TRIBUNJAMBI.COM - Beberapa kisah Kopassus menarik untuk diperbincangkan.

Untuk menjadi Kopassus bukan hal yang mudah.

Seleksi untuk bergabung menjadi tim kestuan baret merah TNI AD bisa mencapai titik batas maksimal kemampuan manusia.

Dalam sejarah Kopassus, kesatuan baret merah TNI AD ini pernah melakukan seleksi ulang hingga membuat lebih dari 3000 prajuritnya dinyatakan tak lulus.

Dilansir dari buku 'Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando', karya Hendro Subroto, saat itu Kopassus memang tengah melakukan perampingan organisasi besar-besaran, sehingga diadakan seleksi yang berat.

Seleksi yang berat itu membuat prajurit kopassus yang awalnya 6.400 orang, berkurang menjadi 2500 orang. Sehingga ada sekitar 3900 prajurit yang tak lulus.

Baca: Debat Seru Rocky Gerung Dikeroyok Adian Napitupulu & I Putu Bahas Misteri Banyak KPSS Wafat

Baca: Sempat Hidup Miskin, Dulu Sekolah Pakai Sepatu Rusak Ayah, Sunoto Kini Menjadi Penantang Juara Dunia

Baca: Jauh Kalahkan Gaji Presiden Jokowi, Gaji Pengasuh Anak Meghan Markle dan Pangeran Harry Miliaran!

Baca: Tampang Sangar, Mantan Preman Terminal Ini Kejutkan Petinggi Kopassus, 17 Kali Naik Pangkat

Dalam bukunya itu, Sintong Panjaitan bercerita betapa beratnya seleksi yang saat itu diadakan di Sukabumi.

Seleksi itu bertujuan menilai kemampuan fisik, mental, dan kecerdasan para prajurit kopassus.

"Di antara kegiatan latihan itu, harus menyeberangi berbagai jurang untuk latihan fisik dan mental, kurang waktu untuk tidur dan istirahat selama satu minggu, serta membaca peta dan situasi untuk uji kecerdasan," tulis Hendro berdasarkan kesaksian Sintong.

Halaman
1234
Editor: Tommy Kurniawan
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved