Kisah Militer

Sepak Terjang Profesor Intelijen Kopassus, Merayap di Sarang Kobra hingga Pertarungan Pisau Komando

Banyak yang tidak mengetahui Indonesia memiliki profesor intelijen 'lulusan' Kopassus. Sosok ini pernah terlibat beberapa misi penting, bahkan melakuk

Sepak Terjang Profesor Intelijen Kopassus, Merayap di Sarang Kobra hingga Pertarungan Pisau Komando
Kolase/TribunJambi.com
AM Hendropriyono dan Kopassus 

Banyak yang tidak mengetahui Indonesia memiliki profesor intelijen 'lulusan' Kopassus. Sosok ini pernah terlibat beberapa misi penting, bahkan melakukan pertarungan satu lawan satu menggunakan pisau komando.

TRIBUNJAMBI.COM - Sederet nama besar lahir dari 'Kawah Candradimuka' pasukan elite TNI yang terkenal keras.

Di dunia intelijen Indonesia, ada 'raja intel' Beny Moerdani yang bergabung sejak Kopassus masih bernama RPKAD.

Ada juga Sintong Panjaitan, Danjen Kopassus yang mumpuni.

Tapi sebenarnya Indonesia memiliki profesor intelijen pertama di dunia, yaitu Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono.

Kisah Operasi Kopassus di Papua, Misi Bebaskan 5 Anggota Koramil yang Seminggu Dikepung Pemberontak
Kisah Operasi Kopassus di Papua, Misi Bebaskan 5 Anggota Koramil yang Seminggu Dikepung Pemberontak (IST)

Sosok yang dikenal sebagai mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini memiliki latar belakang Kopassus.

Pertarungan pisau komando

Pada masa mudanya, AM Hendropriyono merupakan ujung tombak pasukan elite Kopassandha (kini Kopassus).

Baca: Tour of Duty Kopassus, Praka Soerapto Soeprapto Diberondong Peluru Tapi Masih Nekat

Baca: Siapa Sebenarnya Dessy Alvionita? Penerjun Cantik dari Kopassus yang Pegang Rekor 10.000 Feet

Baca: Ternyata Ada 3 Orang Indonesia Terlibat Dalam Film Avengers: Endgame, Siapa Saja Mereka?

Baca: Ranty Maria Posting Ayat Kitab Suci, Dua Hari Jelang Pernikahan Ammar Zoni-Ibel, I’m just amazed

Baca: Intelijen Kopassus Ditempeleng Aparat, Penyamaran Tingkat Tinggi hingga Teman Sendiri Terkecoh

AM Hendropriyono pernah melakukan aksi heroik bertempur dengan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku).

Awalnya, pemerintah Soekarno sengaja membentuk pasukan gerilya saat konfrontasi Indonesia-Malaysia, pada 1963-1966.

Kedua pasukan itu dilatih secara khusus oleh TNI di Surabaya, Bandung, dan Bogor.

Namun, ketika kekuasaan Indonesia berpindah tangan pada Soeharto, anak asuh TNI itu justru berbalik menjadi musuh.
Soeharto memutuskan berdamai dengan Malaysia.

Ilustrasi Kopassus
Ilustrasi Kopassus (Capture/Film Merah Putih Memanggil)

Kemudian, pasukan gerilya itu diminta untuk menurunkan senjata.

Namun, PGRS dan Paraku mengabaikan permintaan itu.

Mau tak mau, TNI harus menertibkan aksi gerilyawan itu.

AM Hendropiyono bersama timnya bernama Sandi Yudha turun tangan bertempur di hutan rimba kawasan Kalimantan.

Sandi Yudha ini merupakan satuan intelijen tempur milik pasukan elite TNI AD yang kini bernama Kopassus.

Awalnya, AM Hendropriyono berusaha keras untuk mengambil hati lawan tanpa tindakan keras.

Tim Sandi Yudha ini beberapa kali berhasil mencuri simpati mereka.

Satu di antaranya, dengan Wong Kee Chok, komandan PGRS.

Namun, tak semua bisa diselesaikan secara baik-baik.

Pada akhirnya, pilihan terakhir pun dilakukan tim Sandi Yudha, yakni menggunakan tindakan keras.

Mulai dari penculikan dan interogasi, hingga melakukan perlawanan.

Perlawanan yang membekas diingatan AM Hendropriyono, yakni berduel dengan Hassan, komandan PGRS.

Delapan orang intai gubuk Hassan

Kala itu, AM Hendropriyono bersama tim kecil sebanyak delapan orang mengintai gubuk Hassan semalaman.

Sebelumnya mencapai gubuk, AM Hendropriyono yang saat itu masih berpangkat kapten harus merayap sejauh 4,5 kilometer.
Anggota Kopassus itu harus merayap melewati sarang ular Kobra.

Karena sudah terlatih menjinakkan ular, pasukan elite ini melewatinya dengan mudah.

Saat mencapai gubuk, ada penjaga musuh di sana.

Ilustrasi Kopassus
Ilustrasi Kopassus (Wallpaper/Film Merah Putih memanggil)

Secara hati-hati, seorang anggota timnya membunuh penjaga gubuk yang memegang senjata api menggunakan sangkur.

Kemudian, AM Hendropriyono berduel dengan Hassan di dalam gubuk. Pertarungan menggunakan pisau komando Kopassus terjadi 

Ia bahkan membanting tubuh Hassan menggunakan jurus bela dirinya.

Duel sengit satu lawan satu itu dilakukan AM Hendropriyono untuk menumbangkan lawan.

Paha dan jari-jarinya terluka parah karena terkena sangkur Hassan.

Serangan Hassan itu bahkan nyaris mengenai dada AM Hendropriyono.

Pertempurannya di Kalimantan ia tulis dalam buku berjudul Operasi Sandi Yudha: Menumpas Gerakan Klandestin.

 Jadi Kepala BIN

Keandalannya dalam berbagai operasi pertempuran, membuat AM Hendropriyono dipercaya sebagai Kepala BIN.

Tidak hanya mengurus bawahannya di BIN, ia pun membetuk regenerasi melalui pendirian Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).

Selain sekolah, AM Hendropriyono pun menggagas Sumpah Intelijen, Mars Intelijen, hingga logonya.

Dalam pendidikan, AM Hendropriyono bahkan menerangkan intelijen sebagai ilmu.

Sepak terjangnya ini menjadikan AM Hendropriyono menjadi tokoh militer dan intelijen ternama.

Ia bahkan dinobatkan sebagai guru besar intelijen pada 2014.

Hal itu membuat AM Hendropriyono menjadi profesor intelijen pertama di dunia.

Sosok AM Hendropriyono

Jenderal (Hor) TNI (Purn) Prof  Dr Drs Abdullah Mahmud Hendropriyono, SE, SH, MBA, MH, atau sering disebut AM Hendropriyono, lahir di Yogyakarta, 7 Mei 1945.

Anggota Kopassus
Anggota Kopassus (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Hendropriyono merupakan Kepala Badan Intelijen Negara pertama. Dia dijuluki the master of intelligence karena menjadi "profesor di bidang ilmu filsafat intelijen" pertama di dunia.

Pendidikan

- Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang (lulus 1967)

- Australian Intelligence Course di Woodside (1971)

-United States Army Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Amerika Serikat (1980)

- Sekolah Staf dan Komando ABRI (Sesko ABRI), lulus terbaik pada 1989 bidang akademik dan kertas karya perorangan dengan mendapat anugerah Wira Karya Nugraha

- Kursus Singkat Angkatan VI Lembaga Ketahanan Nasional (KSA VI Lemhannas). 

- Keterampilan militer: Para-Komando, terjun tempur statik, terjun bebas militer (Military Free Fall) dan penembak mahir.

- Sarjana dalam bidang adminiatrasi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara (STIA-LAN)

- Sarjana Hukum dari Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM)

- Sarjana Ekonomi dari Universit as Terbuka (UT) Jakarta

- Sarjana Teknik Industri dari Universitas Jenderal Achmad Yani(Unjani), Bandung.

- Magister administrasi niaga dari University of the City of Manila, Filipina

- Magister di bidang hukum dari STHM

- Doktor filsafat di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan predikat cum laude.

- Guru Besar di bidang ilmu filsafat intelijen dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara. Satu-satunya dan pertama di dunia yang menjadi Guru Besar Intelijen.

Jejak karier militer

- 1968-1972 - Komandan Peleton Komando Pasukan Khusus TNI AD di Magelang

- 1972-1974 - Komandan Kompi Prayuda Kopasandha (Komando Pasukan Sandi Yudha)

- 1981-1983 - Komandan Detasemen Tempur 13

- 1983-1985 - Wakil Asisten Personel Kopasandha merangkap sebagai Wakil Asisten Operasi

- 1985-1987 - Asisten Intelijen Kodam V/Jaya

- 1987-1991 - Danrem 043/Garuda Hitam Lampung

- 1991-1993 - Direktur D Badan Intelijen Strategis ABRI

- 1993-1994 - Direktur A Badan Intelijen Strategis ABRI

- 1993-1994 - Panglima Kodam V/Jaya

- 1994-1996 - Komandan Kodiklat TNI AD

Baca kisah-kisah Kopassus dan pasukan elite TNI di Tribunjambi.com.(*)

Baca: Perbedaan Kopassus dengan Satuan Infanteri Lain, Cukup Kirim Beberapa Prajurit Misi Kelar

Baca: Kenangan Pahit Valentino Rossi di MotoGP San Marino Tahun Lalu

Baca: Polwan Cantik Pulang Pagi Pakai Pakaian Seksi, Lapor Pak RT Dulu, Ternyata Penyamaran Tingkat Tinggi

Baca: Siapa Sebenarnya Dessy Alvionita? Penerjun Cantik dari Kopassus yang Pegang Rekor 10.000 Feet

Baca: Ramalan Zodiak Senin 29 April 2019, Taurus Hari Ini Harus Hati-hati, Leo Kamu Harus Menahan Diri

 
 

Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved