Sejarah Indonesia

Soekarno 'Tembak' Gadis Cantik dari Kalimantan, Romantisme Cinta Terakhir Bung Karno dengan Anak SMA

Soekarno 'Tembak' Gadis Cantik dari Kalimantan, Romantisme Cinta Terakhir Bung Karno dengan Anak SMA

Soekarno 'Tembak' Gadis Cantik dari Kalimantan, Romantisme Cinta Terakhir Bung Karno dengan Anak SMA
Soekarno 

“Nanti kau lenso sama aku ya. Sini, kau duduk dekat aku,” kata Presiden.

Saat menari lenso pun tiba. Heldy yang untungnya sering diajari kakaknya menari lenso, tahu harus melakukan apa. Tapi berlenso dengan Presiden? Oh, tidak.

Di hadapan banyak tamu penting, juga artis penghibur yang lebih senior seperti Titiek Puspa, Rita Zahara, dan Feti Fatimah, Heldy menyambut uluran tangan Presiden.

Dengan ragu ia memberikan telapak tangan kirinya yang dingin untuk digenggam Bung Karno, sementara ia harus meletakkan tangan kanannya di bahu kiri Bung Karno.

Ia menunduk, membiarkan pinggang kecilnya dipeluk Bung Karno yang terus-menerus menatapnya.

“Siapa namamu?” tanya Bung Karno sambil berbisik.

“Heldy,” jawabnya pelahan.

“Sekolahmu?”

“Kelas dua SKKA.”

“Berapa umurmu?”

“Delapan belas tahun.”

“Hm … cukup.”

“Boleh aku datang ke rumahmu?”

Heldy dihadapkan pada kenyataan seperti sering dicandakan para sepupu.

Kalau Presiden naksir, banyak gadis yang mau. Heldy tersudut pada keadaan tak bisa menolak, ia pun mengalami bukti nyata sesuatu yang dia anggap mustahil: presiden naksir anggota barisan Bhinneka Tunggal Ika.

Sejak acara menari lenso, keadaan langsung berubah bagi Heldy. Ia sering diamati, juga ada anggota Cakrabirawa, pasukan pengamanan Presiden, yang selalu menjaganya.

Akibatnya, mahasiswa yang naksir Heldy mundur teratur.

Tanggal 12 Mei 1965, Bung Karno berkunjung ke rumah Erham tempat Heldy tinggal.

Sebelumnya sejumlah “orang Istana” datang. Mereka antara lain meminta agar ketika Presiden datang, lampu teras dimatikan.

Presiden datang dengan penampilan yang sangat berbeda. Tanpa peci, celana panjang hitam, kemeja putih lengan pendek yang kancing atasnya terbuka, bahkan mengenakan sandal.

Presiden Republik Indonesia datang ke rumah Erham untuk mengunjungi adik bungsunya. Ini nyata.

Apalagi saat itu H. Djafar juga ada di Jakarta. Maka ayah Heldy yang berusia 65 tahun dan Bung Karno yang berusia 64 tahun pun bertemu.

Setelah saling mengucapkan salam, H. Djafar pun masuk. Heldy menghidangkan teh yang dibuatnya sendiri di dalam cangkir terbaik yang ada di rumah itu.

Hartini bersama Soekarno di Istana Bogor, Februari 1965.
Hartini bersama Soekarno di Istana Bogor, Februari 1965. (AFP Photo)

Bung Karno menyatakan ketertarikannya kepada Heldy, namun Heldy merasa masih terlalu muda.

Heldy meminta agar Bung Karno memilih perempuan lain saja. Tapi Bung Karno tidak marah. Ia tersenyum saja dan memberikan sebuah bungkusan kecil. Isinya jam tangan Rolex.

Kemudian Bung Karno mengajak pergi mencari makan malam. Heldy mendampinginya di jok belakang VW Kodok yang dikemudian Darsono dan didampingi ajudan Kolonel Parto.

Dalam perjalanan itulah Bung Karno berbicara lagi tentang ketertarikannya kepada Heldy.

“Dik, kau tahu. Kau tidak pernah mencari aku, aku juga tidak mencari engkau. Tapi Allah sudah mempertemukan kita.”

Bung Karno selalu memanggil Heldy dengan sebutan Dik, dan belakangan ia juga menolak Heldy memanggil Pak. Ia ingin Heldy memanggilnya Mas.

Setelah kunjungan pertama, kunjungan berikutnya makin sering.

Bung Karno selalu memberi uang yang jumlahnya tidak sedikit.

 Kisah Martunis, Korban Tsunami Aceh yang Jadi Anak Angkat Cristiano Ronaldo Berkat Kaus Portugal

Heldy
Heldy (Intisari)

Saat Hj. Hamiah ke Jakarta Bung Karno juga memberi uang. Belakangan Heldy diberi mobil Holden Premier warna biru telur asin. Heldy jadi sering ke Istana.

Orang makin tahu bahwa Heldy adalah kekasih Bung Karno.

Bulan Mei 1966, sudah hampir setahun Heldy menjadi kekasih Bung Karno. Itu waktu yang cukup bagi Bung Karno untuk meminta kesediaan Heldy menjadi istrinya.

“Yang aku cari bukan wanita yang cantik luarnya saja. Tapi juga dalamnya, dan itu ada dalam dirimu. Kau sungguh menarik bagiku, dan kau juga bisa beribadah dan mengerti baca Al Quran, ini yang aku cari sesungguhnya.”

“Saya tidak bisa menolak lamaran Bapak, hubungan kita sudah telanjur dekat. Saya mau menikah dengan Bapak,” jawab Heldy sambil menatap Bung Karno.

Tanggal pernikahan pun dipilih, 11 Juni 1966 alias lima hari setelah Bung Karno berulangtahun ke-65.

Artikel ini telah tayang di Tribunjatim.com dengan judul Kisah Cinta Terakhir Soekarno dengan Gadis Kalimantan, Sempat Tolak Akhirnya Luluh Diberi Jam Rolex

IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:

NONTON VIDEO TERBARU KAMI DI YOUTUBE:

IKUTI FANSPAGE TRIBUN JAMBI DI FACEBOOK:

Editor: ekoprasetyo
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved