Sebentar Lagi Kopi di Sarolangun Jambi Panen Raya, Pembinaan Minim Banyak Petani Tak Bisa Olah Kopi

Hampir semua desa di Kecamatan Batang Asai, Sarolangun sudah memproduksi kopi.

Sebentar Lagi Kopi di Sarolangun Jambi Panen Raya, Pembinaan Minim Banyak Petani Tak Bisa Olah Kopi
tribunjambi/wahyu
Kabid Perindustrian, Disperindagkop Sarolangun, Adhim. 

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN-Hampir semua desa di Kecamatan Batang Asai, Sarolangun sudah memproduksi kopi. Namun sacara khusus, para petani belum mendapatkan binaan dari pemerintah maupun swasta untuk mengelola kopi.

Berbeda dengan Desa Lubuk Bangkar yang sudah bisa mengolah biji kopi yang dipanen, karena difasilitasi oleh Baznas.

"Di Sekaladi masih tradisional, penggorengan masih menggunakan wajan," kata Kabid Perindustrian, Disperindagkop Sarolangun, Adhim.

Lanjutnya, mereka (petani,red) tidak ada yang memfasilitasi, dengan berlatar belakang yang mereka rerata petani karet. Namun dengan adanya karet yang semakin murah, mereka (petani,red) di Batang Asai pada umumnya beralih ke kebun kopi.

Baca: Kepergok Datang ke Polda Jambi, Effendi Hatta Bantah Diperiksa KPK

Baca: Begini Kronologi Penangkapan Tiga Pengedar Sabu untuk Supir Truk di Jambi, Satu Bandar Asal Sumsel

Baca: Harga Cabai dan Daging Ayam di Pasar Angso Duo Jambi Hari Ini Turun

Baca: Terungkap, Pelaku Korupsi SMK Bagimu Negeri di Jambi Buat Stempel Palsu, Negara Rugi Rp1,1 Miliar

Maka dari itu pihaknya terus berupaya untuk menggenjot agar produk kopi Batang Asai bisa dikenal.

"Untuk di Sekaladi secara khusus belum ada binaan, baru kita yang dari Disperindagkop dan kita berusaha menggenjot dan menginginkan produk mereka bisa di pasarkan dan bisa mengangkat ekonomi mereka," katanya.

Untuk kapasitas produksi dengan waktu satu bulan bisa mencapai 1 ton. Berawal dari situ, pihaknya ingin membantu jikalau seandainya sudah memasuki panen raya nantinya.

Kata Adhim, dari pengakuan warga beberapa desa pada tahun 2019 sekitar bulan September hingga Desemer nanti mereka sudah mulai penen raya. "Kurang lebih sampai 4 hingga 6 ton," katanya.

Untuk penanaman kopi sendiri masing-masing kebun bervariasi, seperti di Desa Lubuk Bangkar kurang lebih 19 hektare. Namun yang baru mulai panen sekitar 4 hektare. Tidak menutup kemungkinan juga, selama ada lahan kosong dan tidak mengganggu hutan bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam.
"Bukan berupa kopi saja, tapi yang lain juga bisa," katanya.

Menariknya, Soal hutan desa ini Adhim sedikit menceritakan, bahwa kepala desa yang ada di Kecamatan Batang Asai itu mempunyai SK (surat keputusan) Menteri Kehutanan tentang hutan desa untuk mengelola hutan desa yang bisa dimanfaatkan. Dan mereka juga memanfaatkan dana P2DK (Program Percepatan Pembangunan Desa dan Kelurahan) seperti Desa Sekaladi.

"Nah mereka memafaatkan itu, untuk cocok tanam," katanya.

Baca: Kabar Gembira, 31 Tenaga Kesehatan Tidak Tetap di Muarojambi Akan Segera Terima SK CPNS

Baca: VIDEO: Gus Mus Sebut Tega Pelaku Pengedit Video Dirinya Komentari Tol Langit Maruf Amin

Baca: Melerai Pasukan Israel dan Lebanon Saat Saling Ejek, Dua Personel TNI Malah di Fitnah Media Lebanon

Baca: Saling Bertatap Muka, Sintong si Legenda Kopassus Terdiam Bertemu Suku Kanibal di Gunung Jayawijaya

Penulis: Wahyu Herliyanto
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved