Kasus OTT Pejabat BKD Muarojambi, Nasrul Mengakui Dimintai Uang Rp 100 Juta Jika Ingin Lolos CPNS

Nasrul Asmawan peserta tes CPNS Muarojambi mengaku dihubungi terdakwa Yusuf, dan dimintai uang jika ingin lulus CPNS.

Kasus OTT Pejabat BKD Muarojambi, Nasrul Mengakui Dimintai Uang Rp 100 Juta Jika Ingin Lolos CPNS
tribunjambi/syamsul
Kejari Muarojambi tetapkan Muhammad Yusuf, Pegawai BKD Muarojambi menjadi tersangka kasus penerimaan CPNS 2018. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kasus OTT Pejabat BKD Muarojambi disidangkan. Nasrul Asmawan peserta tes CPNS Muarojambi mengaku dihubungi terdakwa Yusuf, dan dimintai uang jika ingin lulus CPNS.

Pasca pengumuman kelulusan CPNS 2018 pada Desember lalu, Nasrul dihubungi melalui telepon bahwa nilainya tidak masuk untuk lolos menjadi CPNS.

“Saya disuruh menemuinya di rumah saudaranya, di daerah Talang Banjar,” kata Nasrul.

Ketika pertemuan Yusuf mengatakan kepada dirinya bisa meluluskan menjadi CPNS. Yusuf juga mengatakan bahwa ada empat bangku kosong.

Baca: KPU Bebaskan Parpol Kampanye di Wilayah Tanjab Barat, Asalkan Sesuai Jadwal dan Punya STTP

Baca: Nelayan di Tanjab Barat Mengaku Diusir Petugas DKP Tanjab Barat dari Perumahan Bantuan Pemerintah

Baca: Geger, Warga Koto Lebu Tenggelam di Sungai Batang Merao saat Cari Ikan, Pencarian Masih Dilakukan

Baca: BNNP Jambi Grebek Danau Sipin, Kota Jambi, Beberapa Orang Digelandang

“Karena nilai saya rendah tidak bisa masuk. Dia ngomong ada bangku untuk saya,” ungkapnya.

Namun rupanya, Nasrul Asmawan harus memberikan uang sebesar Rp 100 juta kepada Yusuf. Awalnya, Nasrul tidak ingin memberikan uang panjar. Tapi karena merasa tertekan ia pun akhirnya memberikan uang panjar sekitar Rp 20 juta.

“Dia minta bantu istrinya. Awalnya saya enggak mau pak. Berhubung hati saya gundah, galau dan waktu tinggal seminggu lagi saya menelponnya untuk bertemu,” beber Nasrul.

Dirinya juga merasa tertekan, sebab Yusuf mengatakan, bila dirinya tidak mau, maka jatah kursi tersebut akan diberikan kepada CPNS lainnya.

Padahal sebenarnya, Nasrul sendiri sudah lulus berdasarkan pengumuman BKN.

“Ya itu tadi pak saya tertekan. Saya takut kalau tidak memberikan uang, maka berkas saya tidak dikirim mereka ke pusat,” jelasnya.

Dirinya pun memberikan uang panjar tersebut, seminggu pasca pertemuan di Talang Banjar.

Ia pun mendatangi rumah Yusuf di Sungai Gelam, dan meletakkan uang dalam platik asoi di atas meja di dalam rumah Yusuf.

Baca: Tak Terima Dicoret dari DCT, 7 Caleg DPRD Sarolangun Ajukan Koreksi ke Bawaslu RI

Baca: Lima Hari Jelang Penutupan, Pelaporan SPT PPh Capai 95,7 Persen

Baca: 20 Ribu Surat Suara Rusak, KPU Tanjab Timur Juga Kekurangan Ratusan Logistik Pemilu

Baca: M Fauzi: Bupati Tanjab Barat Tak Perlu Kecewa

Nasrul mengaku tidak mengetahui adanya OTT yang terjadi sesaat setelah dirinya memberikan uang panjar tersebut. Sidang akan kembali dilanjutkan Rabu (3/4) mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi.

Sidang dipimpin Dedy Muchti Nugroho selaku ketua majelis hakim Dedy Mucthi Nugroho dan ditunda dua minggu lagi pada hari yang sama.

Sebelumnya perkara OTT yang dilakukan Kejari Muarojambi terkait proses penerimaan CPNS tahun 2018 yang menjerat Yusuf (52) warga Sungai Gelam, salah satu pegawai di Badan Kepegawaian Daerah (BKD).

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved