Kopilot Lion Air Teriak Allahu Akbar, Pesawat Tidak Bisa Dikendalikan

Kopilot Lion Air PK-LQP yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat Oktober 2018 lalu sempat mengucap takbir sesaat sebelum pesawat Boeing Max 8

Kopilot Lion Air Teriak Allahu Akbar, Pesawat Tidak Bisa Dikendalikan
Capture youtube
Diduga mesin pesawat Lion Air JT610 

TRIBUNJAMBI.COM - Kopilot Lion Air PK-LQP yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat Oktober 2018 lalu sempat mengucap takbir sesaat sebelum pesawat Boeing Max 8 yang dikemudikannya mengalami crash. Hal tersebut terungkap dalam percakapan terakhir pilot dan kopilot JT 610 PK-LQP.

Seperti dilansir Reuters, Kopilot, Harvino berteriak takbir di detik-detik terakhir saat pesawat mengalami malfungsi dan terus menukik turun. Sumber anonim Reuters yang mengetahui isi cockpit voice recorder (CVR) juga mengatakan pilot asal India, Bhavye Suneja hanya terdiam saat pesawat hendak jatuh ke laut.

Sebelum jatuh masih berdasarkan Reuters, Bhavye dan Harvini sempat panik. Mereka berdua juga sempat mengecek buku panduan untuk mengendalikan pesawat nahas tersebut. Dalam percakapan tersebut sang pilot sempat meminta kopilot mengecek buku panduan dengan cepat.

Dalam 9 menit berikutnya, sistem pesawat memberi tahu pilot bahwa pesawat dalam kondisi stall dan mendorong hidung pesawat ke bawah sebagai responsnya. Pilot berusaha untuk menaikkan hidung pesawat tetapi komputer masih salah mendeteksi stall.

Akibatnya, hidung pesawat terdorong ke bawah oleh sistem trim pesawat. Normalnya, trim berguna untuk menyesuaikan permukaan pesawat sehingga tetap terbang lurus.

Sikap tenang juga terus diperlihatkan sang pilot sepanjang penerbangan tersebut mengalami masalah. Sementara kopilot sibuk mencari panduan di manual book.

Sekitar satu menit sebelum pesawat hilang dari radar, pilot meminta ATC untuk men-clear-kan lalu lintas sekitarnya di bawah 3.000 kaki dan meminta ketinggian 5.000 kaki yang kemudian disetujui. Sumber-sumber Reuters mengatakan ketika pilot masih berusaha menemukan prosedur yang tepat dalam buku pegangan, kopilot tidak dapat mengendalikan pesawat Lion Air PK-LQP itu.

"Kondisinya seperti ujian, di mana ada 100 pertanyaan dan ketika waktu habis, Anda haya bisa menjawab 75 pertanyaan. Kemudian Anda panik. Ini bagaikan kondisi time-out," kata sumber Reuters. 

Ada Pilot Lain di Kokpit

Sehari sebelum PK-LQP jatuh di perairan Karawang 28 Oktober 2018 pesawat maskapai Lion Air Boeing Max 8 sempat terbang dari Denpasar menuju Jakarta. Pesawat juga mengalami masalah yang sama ketika itu.

Namun diketahui dalam rekaman percakapan ada pilot lain yang berada di dalam kokpit saat itu. Pilot lain itu disebut berasal dari Batik Air, yang masih satu grup dengan Lion Air. Dia disebut berada di dalam kokpit dan membantu menyelesaikan masalah flight control yang muncul ketika penerbangan.

Keberadaan pilot lain ini pertama kali diungkap oleh Bloomberg. Preliminary report yang diterbitkan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebelumnya tidak menyebutkan soal pilot lain ini. Reuters sendiri tidak memiliki rekaman maupun transkrip dari isi CVR. Reuters telah meminta konfirmasi dari Lion Air, Boeing, hingga KNKT. Juru bicara Lion Air mengatakan semua data dan informasi telah diberikan kepada pihak yang meyelidiki serta menolak berkomentar lebih lanjut.

Boeing menolak berkomentar kepada Reuters karena investigasi sedang berjalan. Pekan lalu, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan laporan investigasi bisa dirilis pada bulan Juli atau Agustus. Pada hari Rabu (20/3) ini, dia menolak berkomentar soal isi CVR dan mengatakan bahwa isinya belum dipublikasikan. (Reuters/ria/wly)

Editor: awang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved