Buah Ciplukan Sering Disepelekan, Siapa Sangka Harganya Selangit dan Kaya Manfaat, Obat Diabetes

Kamu yang sering lihat buah satu ini? Kalau umumnya buah ini bernama Buah Ciplukan. Bagaimana di daerahmu?

IST
Buah ciplukan atau cape gooseberry (IST) 

TRIBUNJAMBI.COM - Kamu yang sering lihat buah satu ini? Kalau umumnya buah ini bernama Buah Ciplukan. Bagaimana di daerahmu?

Anda mungkin sudah tak asing lagi dengan buah satu ini.

Di sejumlah daerah, buah ini memiliki sebutan yang berbeda-beda.

Misalnya di Jawa Barat disebut Cecendet, di Jawa Tengah dikenal dengan istilah Ciplukan, atau di Madura dikenal dengan sebutan Nyor-nyoran.

Baca Juga:

Ini Dia Tol Langit Yang Akan Dibangun Jokowi, Sering Jadi Pembicaraan.

Perancang Busana Danny Satriadi Ungkap Detail Busana Lamaran Reino Barack dan Syahrini

Jadwal Siaran Langsung PSG vs Manchester United Leg 2 Liga Champions & Laga Munchen vs Liverpool

Promo Tiket TIX ID - Diskon 50 Persen untuk Pembelian Tiket Film Captain Marvel, Buruan Beli!

Dan masih banyak lagi istilah lainnya.

Buah ciplukan bisa tumbuh liar di pekarangan rumah, di lahan kosong dan tanah lainnya. Namun tahukah Anda bahwa buah ini sebenarnya memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Di Brunei sebijinya bisa dihargai Rp10 ribu. Sementara di mal di kota besar di Jakarta sekilonya mencapai Rp500 ribu.

Buah ciplukan atau cape gooseberry (IST)
Buah ciplukan atau cape gooseberry (IST) 

Terna semusim yang tingginya hanya 10-80 cm ini bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika tropika.

Ia didatangkan oleh orang Spanyol pada zaman penjajahan abad XVII, ketika orang VOC masih merajalela bersaing dengan orang Spanyol dan Portugis menjajah bangsa kita.

Diduga yang berkenalan pertama kali dengan tanaman bawaan ini ialah orang Maluku (yang menyebutnya daun boba), dan Minahasa (yang menyebutnya leietokan), karena merekalah yang pertama kali dilanda penjajah Spanyol dari Filipina.

Dari Maluku, ada yang kemudian mengenalkannya ke Jakarta (sebagai cecenet), Jepara (sebagai ceplukan), Bali (keceplokan), dan Lombok (dededes). Dari Jakarta baru diperkenalkan ke Sumatra Timur (sebagai leletop).

Jenis yang mula-mula datang ialah Physalis angulata dan Physalis minima, yang kemudian tumbuh merajalela sebagai gulma di ladang kering, kebun buah-buahan, di antara semak belukar, dan tepi jalan.

Buah ciplukan atau cape gooseberry (IST)
Buah ciplukan atau cape gooseberry (IST) 

Bersama dengan itu dimasukkan pula sebagai tanaman hias Physalis peruviana dari daerah pegunungan Peru.

Berbeda dengan jenis angulata dan minima, ceplukan Peru ini berupa terna menahun yang bisa hidup lebih dari satu musim.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved