Komentar Maruf Amin Tentang Doa Neno Warisman, Semoga Tidak Mabrur

Maruf Amin menjelaskan doa tersebut tidak layak disampaikan. Apalagi kondisi negara Indonesia saat ini tidak dalam keadaan perang.

Komentar Maruf Amin Tentang Doa Neno Warisman, Semoga Tidak Mabrur
Ist/Tribunnews.com
Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin berbicara kepada media di Tasikmalaya, Minggu (21/10/2018). 

TRIBUNJAMBI.COM- CALON wakil presiden nomor urut 01 Maruf Amin, ikut berkomentar soal doa yang dipanjatkan Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Neno Warisman.

Maruf Amin menjelaskan doa tersebut tidak layak disampaikan.

Apalagi kondisi negara Indonesia saat ini tidak dalam keadaan perang.

Maruf doa yang disampaikan Neno Warisman mirip doa yang dipanjatkan saat perang Badar.

Ketika itu, Umat Muslim bertempur habis-habisan karena kalah jumlah dengan kaum kafir. Ia menilai Pilpres 2019 berbeda dari perang Badar.

"Pilpres kok disamakan dengan perang badar? Perang badar itu antara Islam dan kafir. Itu perang hidup mati membela agama. Pilpres itu cari pemimpin terbaik. Pilpres tak sama dengan Perang Badar," tegasnya saat menghadiri Istigasah dan Salawat Kubro di Lapangan Dipati Ewangga Windusengkahan, Kuningan, Jawa Barat, Selasa (26/2/2019).

Baca: Berbicara Kekuatan Thailand vs Timnas Indonesia, Final Piala AFF U-22, Indra Sjafri Targetkan Menang

Baca: Lihat Karakter Dan Sifatmu Dari Hari Lahirmu

Baca: Lakukan Gerakan Tobat Plastik, Ini Rangkaian Program Massive Action Awardee LPDP Jambi di SDN 47

Mustasyar PBNU itu menyayangkan Neno Warisman yang mengklaim kelompoknya paling Islam. Sedangkan kelompok Jokowi-Maruf Amin dianggap lawan umat Muslim alias kafir. Hal ini dirasakannya tak etis.

Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin berbicara kepada media di Tasikmalaya, Minggu (21/10/2018).
Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin berbicara kepada media di Tasikmalaya, Minggu (21/10/2018). (Ist/Tribunnews.com)

"Mereka menisbahkan kelompok mereka Islam dan kelompok Jokowi-Amin sebagai kafir. Doa itu tak layak dan tidak pantas," tegasnya.
Ia berharap emosi masyarakat tak terpancing akibat doa Neno Warisman. Sebab, ia khawatir doa Neno Warisman menimbulkan gejolak di masyarakat.

"Jangan sampai masyarakat terprovokasi, mudah-mudahan doanya (Neno Warisman) tidak mabrur. Kalau sekarang doanya tepat minta Pilpres aman, Insyaallah doanya dikabul," tuturnya.

Sebelumnya, puisi yang dibacakan oleh aktivis sekaligus aktris lawas Neno Warisman dalam acara Munajat 212 pada Kamis (21/2/2019) lalu, menuai kontroversi dan viral.

Berikut ini isi lengkap puisi Neno Warisman yang viral tersebut.

Neno warisman membaca puisi saat malam munajat 212. di Monas, Kamis (21/2/2019)
Neno warisman membaca puisi saat malam munajat 212. di Monas, Kamis (21/2/2019) (tribunstyle.com)

Allahu Akbar
Puisi munajat kuhantarkan padamu wahai berjuta-juta hati yang ada di sini
Engkau semua bersaudara dan kita bersaudara tersambung, terekat, tergabung bagai kalung lentera di semesta
Sorot-sorot mata kalian bersinar, wahai saudara
Mencabik-cabik keraguan
Meluluhlantakkan kesombongan
Karena mata-mata kalian nan jernih mengabarkan pesan kemenangan yang dirindukan, Insyaallah, pasti datang
Allahu Akbar
Kemenangan kalbu yang bersih
Kemenangan akal sehat yang jernih
Kemenangan gerakan-gerakan yang berkiprah tanpa pamrih
Dari dada ini telah bulat tekad baja
Kita adalah penolong-penolong agama Allah
Jangan halangi
Jangan sanggah
Jangan politisasi
Sebab ini adalah hati nurani
Dari mulut-mulut kita telah terlantun salawat, zikir, dan doa bergulir
Mengalir searah putaran bintang-bintang bertriliun banyaknya
Tersatukan dalam munajat 212
Miliaran matahari itu saudaraku
Merekatkan diri menjadi gumpalan kabut cahaya raksasa di semesta
Bukti kebesaran Allah Azza Wa Jalla
Begitulah kita saudaraku
Harusnya kita saling merekat
Wahai para pejuang fisabilillah di dalamnya
Ayo munajat
Ayo rekatkan umat
Jadikan barisanmu kuat dan saling rekat
Rekatkan Indonesiamu
Rekatkan jiwa-jiwamu
Rekatkan langkah dan tindakanmu
Ya Allah
Berjuta tangan para pejuang agamamu ini mengepalkan tinju mereka
Berseru-seru mereka
Menderu-deru mereka
Di setiap jengkal udara hingga terlahir takbir kemenangan
Kemenangan di ujung lelah menggema takbir bersahut-sahutan
Berjuta sajadah akan kita hamparkan sebentar lagi, kawan
Berjuta kepala menangis bersujud bersyukur
Basah air mata dalam bahagia kemenangan sebentar lagi tiba
Allahumma inni a'uzubika min jahdil bala'i wa darkisy syaqa'i wa su'il qada'i wa syamatatil a'da'i
Jauhkan kami dari bala musibah yang tak dapat kami atasi
Lindungkan kami dari kegembiraan orang-orang yang membenci kami
Rekatkan jiwa-jiwa patriot kami dalam keikhlasan
Di nadi-nadi kami
Di jantung-jantung kami
Di pundak-pundak kami
Di jari-jari kami
Yang telah memilih untuk hanya selalu berdua
Kita dan Allah Azza Wa Jalla
Selalu berdua
Kita dan Rasulullah kekasih semesta
Selalu berdua
Kita dan saudara mukmin saling menjaga
Selalu berdua
Kita dan pemimpin yang membela hak-hak umat seutuhnya
Duhai Allah Rabb
Jangan kau jadikan hati kami bagai si penakut pengecut
Sebab kami terlahir di tanah para pahlawan pemberani
Yang rela mengorbankan jiwa raga harta dan segalanya
Jangan jadikan hati kami lalai dan gentar
Karena kami lahir dan besar dibimbing para ulama kami yang sabar
Menetap jantung-jantung kami untuk menjadi pendekar
Yang berani berpihak pada yang benar
Duhai Allah
Jangan kau jadikan hati kami dari tertutup
Dari cahaya terang kebenaran yang menyala di malam-malam munajat
Saat Engkau turun ke jagat dunia
Telah Engkau bersaksikan
Kami tegak berdiri, ya Allah
Kami meminta menangis hingga basah sekujur diri kepada-Mu
Seluruh harapan kami dambakan
Akan Kau tolong atau Engkau binasakan
Akan Kau menangkan atau Engkau lantakkan
Itu hak-Mu
Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka
Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami
Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu
Ya Allah
Izinkan kami memiliki generasi yang dipimpin
Oleh pemimpin terbaik
Dengan pasukan terbaik
Untuk negeri adil dan makmur terbaik
Takdirkanlah bagi kami
Generasi yang dapat kami andalkan
Untuk mengejar nubuwwah kedua
Wujud dan nyata
Dan lahirnya sejuta Al Fatih di Bumi Indonesia
Allah Rabb
Puisi munajat ini kubaca bersama saudara-saudaraku
Mujahid mujahidah yang datang berbondong-bondong dari segala arah
Maka inilah puisi munajat
Mengetuk-ngetuk pintu langit-Mu
Bersimpuh di pelataran keprihatinan
Atas ketidakadilan
Atas kesewenang-wenangan
Atas kebohongan demi kebohongan
Atas ketakutan dan ancaman yang ditebar-tebarkan
Atas kepongahan dalam kezaliman yang dipamer-pamerkan
Dalam pertunjukan kekuasaan
Yang mengkerdilkan Tuhan
Yang menantang kuasa Tuhan
Yang tidak percaya bahwa Tuhan pembalas sempurna.

Acara bertajuk Malam Munajat 212 yang berlangsung di Monas ini berlangsung pada Kamis (21/2/2019) mulai pukul 18.00 WIB sampai 23.00 WIB.
Kegiatan itu dihelat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta bersama Lembaga Dakwah Front dan Majelis Taklim se-Jabodetabek.

Baca: Dor, Tembakan Polisi Kena Pemilik Rumah, MY Lolos saat Penangkapan Mucikari di Sarolangun

Tema yang diusung dalam acara adalah 'Mengetuk Pintu Langit untuk Keselamatan Agama, Bangsa, dan Negara'.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh, baik ulama hingga politikus. Di antaranya, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Wakil Ketua

Baca: Begini Tanggapan Jokowi Yang Menohok Soal Emak-Emak Kampanye Hitam Viral Di Medsos

Baca: Fadli Zon Bantah Keterlibatan Tim BPN Prabowo-Sandi Dalam Kampanye Hitam

MPR Hidayat Nur
Wahid, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, Presiden Partai Keadilan Sosial (PKS) Sohibul Iman, Waketum Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, serta Aktivis Neno Warisman. (Chaerul Umam)

Editor: andika arnoldy
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved