Kenapa Ada Orang yang Tertarik Melakukan 'Jihad dengan Kekerasan'?

Ratusan, mungkin ribuan, calon jihadis menjadi bingung dan ingin pulang ke negara asal meskipun terdapat ketakutan akan ditangkap dan dipenjara.

Kenapa Ada Orang yang Tertarik Melakukan 'Jihad dengan Kekerasan'?
(RT News/AFP)
ISIS. (RT News/AFP). 

Di daerah pedesaan terpencil, banyak orang Afghanistan lebih menyukai sistem hukum keras dan kekuasaan yang dilakukan Taliban dari pada yang diterapkan pemerintah.

Kemiskinan yang parah, kurangnya kesempatan pekerjaan dan pemerintahan yang buruk atau tidak ada, semua hal ini membuat negara-negara Sahel yang berbatasan dengan Sahara menjadi tempat yang subur bagi berkembangnya kelompok jihadis.

Banyak orang bergabung, bukan karena alasan ideologi, tetapi hanya karena mereka menyaksikan ini adalah satu-satunya cara mengatasi kemiskinan.

Kewajiban agama

Perekrut al-Qaida, ISIS, Taliban dan lainnya sejak lama dapat menggunakan ketaatan pada agama untuk menarik anak muda laki-laki dan perempuan muda.

Ahli ekstremisme Dr Erin Saltman mengatakan kelompok ekstrem sering kali menyebarkan "pemikiran perjuangan, pengorbanan kepahlawanan dan kewajiban spiritual untuk menciptakan legitimasi dan berhubungan dangan orang-orang yang mungkin dapat direkrut".

Perlu dicatat bahwa setelah al-Shabab melakukan serangan terhadap hotel Nairobi, kelompok tersebut mengaitkannya dengan keputusan Presiden Trump memindahkan kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, tempat ketiga paling suci bagi umat Islam setelah Mekkah dan Madinah.

Yerusalem adalah tempat yang sangat dihormati bagi banyak orang di Timur Tengah dan al-Shabab kemungkinan berusaha menyebarkan daya tariknya ke luar Somalia.

Ideologi di balik "jihad dengan kekerasan" kemungkinan akan bertahan untuk sementara waktu, meskipun tidak didukung sebagian besar Muslim moderat di dunia.

Al-Qaida masih ada setelah meninggalnya Osama bin Laden dan masih memiliki perwakilan di Asia dan Afrika.

ISIS masih memiliki pengikut meskipun karena sekarang sudah tidak memiliki kehadiran fisik bagi kekhalifahannya, kelompok ini kemungkinan harus berjuang untuk merekrut dalam jumlah besar.

Di dunia, membatasi dan mengurangi "jihad dengan kekerasan" akan memerlukan upaya lebih dari sekedar intelijen dan kerja polisi yang baik.

Usaha ini akan memerlukan pemerintahan yang jauh lebih baik dan adil, menghilangkan hal-hal yang memicu orang melakukan kekerasan yang telah menghancurkan banyak aspek kehidupan.

Sumber : BBC Indonesia

Editor: suci
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved