Cerita Penyelam Dislambair dan Kopaska TNI AL di Dasar Laut Menemukan CVR Lion Air PK-LQP

Seorang petugas dari Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) TNI AL Koarmada 1, Serda Satria Margono Susanto, menjadi orang pertama yang mengangkat

Cerita Penyelam Dislambair dan Kopaska TNI AL di Dasar Laut Menemukan CVR Lion Air PK-LQP
Kompas.com
Serda Satria Margono (tengah), penyelam Dislambair Koarmada I TNI AL yang menemukan black box berisi CVR Lion Air di perairan Karawang, Senin (14/1/2019) 

TRIBUNJAMBI.COM - Black Box CVR Lion Air PK-LQP atau kotak hitam pesawat naas yang jatuh di perairan Karawang akhirnya ditemukan.

Benda penting yang berisi percakapan terakhir pilot Lion Air tersebut diharapkan mampu menguak penyebab jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP rute Jakarta - Pangkal Pinang tersebut.

Penemuan black box di dasar laut ini dilakukan oleh para penyelam TNI AL, diantaranya Kopaska dan Dislambair.

Pasca ditemukannya black box tersebut para penyelam bercerita bagaimana black box tersebut bisa ditemukan.

Seorang petugas dari Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) TNI AL Koarmada 1, Serda Satria Margono Susanto, menjadi orang pertama yang mengangkat black box rekaman suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR) Lion Air PK-LQP dari dasar laut Tanjung Karawang.

Baca: Kondisi Terkini Titi Wati, Wanita Berbobot 220 Kg di Palangkaraya, 8 Dokter Didatangkan Dari Bali

Baca: Maling Lagu Jogja Istimewa Diganti Lirik Dukung Prabowo, Kill The DJ Ancam Bawa ke Ranah Hukum

Tepat pukul 8.48 WIB Senin (14/1/2019) pagi ini, Serda Satria melakukan penyelaman di titik pencarian CVR, yakni pada koordinat 05 48 46,503 S - 107 07 36,728 T.

Dipimpin Katim Kapten Laut (T) Iwan Churniawan, Serda Satria bersama tiga orang penyelam lainnya dari Dislambair melakukan penyelaman sejak pukul 8.26 WIB hari ini.

Mereka menyelam dengan metode melingkar, di mana satu orang berada di titik yang sudah ditentukan sementara tiga orang lainnya mengitari.

Metode itu dilakukan selama 20 menitan, di mana Satria lah yang pertama kali menemukan keberadaan CVR di lumpur sedalam 20 sentimeter di dasar laut dengan kedalaman 35 meter.

"Pencarian 20 menitan. Kendalanya ya jarak pandang saja. Arusnya juga cukup deras," kata Satria di atas KRI Spica.

Pasukan Kopaska TNI AL lakukan pencari CVR pesawat Lion Air JT 610
Pasukan Kopaska TNI AL lakukan pencari CVR pesawat Lion Air JT 610 (Tnial.mil.id)

Awalnya, Satria tak menduga bahwa barang yang sempat ia temukan adalah black box CVR. Ia menduga apa yang ia temukan hanyalah puing-puing pesawat biasa.

Namun, sesuai instruksi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan arahan pimpinan, Satria pun akhirnya mengangkat benda berwarna oranye yang ia temukan.

"Kemarin dari KNKT diberitahu warnanya oranye. Nah setiap warna oranye ya kita angkat aja. Ternyata itu CVR. Pertama kali diangkat belum tau kalo itu CVR, hanya tahunya puing pesawat saja," kata Satria.

Satria mengaku tak memiliki persiapan khusus dalam penyelaman pagi tadi.

Yang ia lakukan sejatinya hanya beristirahat cukup dan mendengarkan instruksi komandan, serta informasi dari KNKT.

"Banyak istirahat cukup terus ikuti instruksi. Sampai CVR ketemu kita latihan fisik terus pemanasan alat setiap pagi," kata Satria.

Baca: Satu Gigi Buaya Copot, Meronta-ronta saat Anggota TNI AD Duduk di Atas Badannya

Baca: Pesawat Hawk 109/209 TNI AU Nyaris Tembak Jatuh F-18 Australia, Duel Pesawat TNI Halau Penyusup

Baca: Kritik Presiden PKS, Pidato Kebangsaan Prabowo Terlalu Lama dan Tak Fokus, Fahri: Maaf Bapak Gagal

Kapten Iwan menjelaskan, jumlah penyelam dari Dislambair yang ikut di atas KRI Spica berjumlah total 25 penyelam.

Mereka ikut di atas kapal bernomor lambung 934 itu sejak pencarian lanjutan dilakukan Selasa (8/1/2019) lalu.

Adapun fokus pencarian pada titik koordinat yang telah disebutkan di atas sudah ditentukan sejak 3 hari lalu.

"Udah ditentukan dari 3 hari yang lalu. Ditentukan dari KNKT, lalu kita fokus di situ," kata Iwan.

Iwan menjelaskan penyelaman sudah dilakukan selama 7 hari.

Menurutnya, kondisi bawah laut selama penyelaman sepekan terakhir berubah-ubah, dengan kondisi terparah pada Minggu (13/1/2019).

"Kemarin paling parah. Visibilitynya 0 ya kemarin," kata dia.

Serda Satria Margono (tengah), penyelam Dislambair Koarmada I TNI AL yang menemukan black box berisi CVR Lion Air di perairan Karawang, Senin (14/1/2019)
Serda Satria Margono (tengah), penyelam Dislambair Koarmada I TNI AL yang menemukan black box berisi CVR Lion Air di perairan Karawang, Senin (14/1/2019) (Kompas.com)

Pencarian lanjutan merupakan intensi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam menemukan CVR yang cukup krusial untuk mengetahui kondisi dalam kokpit pesawat Lion Air PK-LQP sebelum jatuh di perairan Tanjung Karawang pada Senin (29/10/2018) lalu.

KNKT mengawali pencarian Selasa (8/1/2019) lalu, dengan menggandeng Pushidrosal TNI AL.

Pushidrosal pun mengerahkan KRI Spica-934 yang dilengkapi sistem mutakhir, salah satunya magnetometer untuk mendeteksi logam di bawah laut.

Sebelumnya, usai operasi SAR dihentikan pada Oktober 2018 lalu, KNKT sempat melakukan pencarian di perairan Tanjung Karawang menggunakan kapal MPV Everest mulai 19 Desember 2019.

Namun, karena tak membuahkan hasil, pencarian dengan kapal yang didatangkan dari Singapura itu dihentikan.

Pesawat Lion Air PK-LQP tipe B737-8 Max dengan nomor penerbangan JT 610 hilang kontak pada Senin (29/10/2018) pagi sekitar pukul 6.33 WIB.

Pesawat dengan rute Jakarta-Pangkalpinang ini dinyatakan jatuh di perairan Tanjung Karawang pada koordinat 05 46.15 S - 107 07.16 E.

Adapun black box rekaman data penerbangan atau flight data recorder (FDR) pesawat Lion Air PK-LQP sudah ditemukan pada Kamis (1/11/2018) lalu.(*)

Videonya di Bawah Ini

Ditemukan Tak Jauh Dari Pesawat

Penyelam Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL dan dari Dislambair temukan Black Box Lion Air yang jatuh di perairan Karawang. 

Black Box voice recorder tersebut ditemukan pada, Senin (14/1/2019) sekitar pukul 09.10 WIB. 

Black box berisi cockpit voice recorder (CVR) pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, ditemukan.

Kepala Dinas Penerangan Komando Armada I TNI AL Letkol Laut (P) Agung Nugroho mengatakan, black box ditemukan penyelam TNI AL pada Senin (14/1/2019) pagi.

"Iya, ditemukan pukul 09.10 oleh penyelam Kopaska dan Dislambair," kata Agung kepada wartawan, Senin.

Agung menuturkan, black box tersebut ditemukan tidak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat.

Namun, ia tidak bisa menyebut lokasi persis penemuan.

Baca: Kopaska dan Dislambair Temukan Kotak Hitam Lion Air JT 610, Ini Kemampuan Spesial Manusia Katak

Baca: Aktor Robby Tumewu Indap Stroke, Kenali Gejala & Pencegahannya, Semua Usia Berpotensi!

Black box, kata Agung, kini sudah diangkat ke kapal TNI AL sebelum dibawa ke Jakarta.

"Sekarang sudah dipegang, sudah diangkat ke kapal (CVR-nya). Kapal apanya saya belum tahu," ujar Agung.

Pekan lalu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama TNI AL melanjutkan kembali pencarian black box berisi CVR yang sempat terhenti.

Black box disimpan ke dalam kotak berair. Black box ditemukan, di lokasi berjarak 400 meter dari lokasi terakhir hilangnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan kedalaman 30 meter, oleh penyelam TNI AL, Sertu Hendra, Kamis (1/11/2018). (TRIBUNNEWS.COM/IRWAN RISMAWAN)
Black box disimpan ke dalam kotak berair. Black box ditemukan, di lokasi berjarak 400 meter dari lokasi terakhir hilangnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan kedalaman 30 meter, oleh penyelam TNI AL, Sertu Hendra, Kamis (1/11/2018). (TRIBUNNEWS.COM/IRWAN RISMAWAN) (TRIBUNNEWS.COM/IRWAN RISMAWAN)

Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018) pagi.

Pesawat itu mengangkut 181 penumpang dan 8 awak.

Semua penumpang dan awak diduga tewas dalam kecelakaan itu. Video Pilihan

Kerahkan KRI Spica

KRI Spica milik TNI yang dikerahkan mencari black box berisi cockpit voice recorder Lion Air PK-LQP JT 610 mempunyai teknologi magnetometer.

Kepala Pushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro mengatakan, magnetometer dapat mendeteksi keberadaan logam yang tertimbun setinggi 60 meter.

"Magnetometer yang dimiliki KRI Spica itu yang paling tajam. Mudah-mudahan bisa ketemu karena itu bisa mampu untuk mendeteksi logam terpendam itu sampai 60 meter," kata Harjo di Dermaga JICT 2, Jakarta Utara, Selasa (8/1/2019).

Harjo menuturkan, teknologi magnetometer juga terpasang di unit Remotely Operated Vehicle yang dibawa.

Namun, jarak deteksinya hanya mencapai 1-2 meter.

Selain mangnetometer, KRI Spica juga memiliki sejumlah teknologi lain yang sudah dimanfaatkan pada pencarian black box medio Oktober-November 2018 lalu seperti multi beam echo sounder, side scan sonar, dan sub-bottom profiling.

Black box alias kotak hitam
Black box alias kotak hitam (Kolase Tribun Jabar)

Harjo menuturkan, teknologi-teknologi itu akan dikombinasikan guna menemukan black box yang diduga berada di area seluas 5x5 meter persegi.

"Kemudian dipandu lagi dengan magnetometer itu seharusnya secara teoritis harusnya bisa ketemu kecuali Allah menghendaki yang lain," ujar Harjo.

Selain alat-alat tersebut, 55 awak kapal, 9 petugas KNKT, 18 penyelam, tiga ilmuwan, dan tiga orang analis juga dikerahkan dalam proses pencarian lanjutan.

Baca: Baca Sampai Selesai Curhatan Ini, Sampai Selesai dan Dilarang Emosi Ya!

Baca: Luhut Ditagih Cium Kaki Fahri Hamzah, Sudjiwo Tedjo Ungkit Jalan Kaki Amien Rais Saat Pilpres 2014

Baca: Hanya Nama Artis Prostitusi Online Dibeberkan, Hotman Paris Bilang Penyewanya Tak Disebut

Sebelumnya, KNKT bersama TNI AL melanjutkan pencarian black box berisi CVR pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2019).

Pesawat yang membawa 189 penumpang dan awak kabin itu jatuh sekitar 13 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Fungsi Black Box VCR 

Kotak hitam atau black box adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi - umumnya merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang.

Penampakan Black Box Lion Air
Penampakan Black Box Lion Air (KompasTV)

Fungsi dari kotak hitam sendiri adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan.

Walaupun dinamakan kotak hitam tetapi sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam tetapi berwarna jingga (oranye).

Inilah Struktur 'Black Box', Sumber Informasi Penyebab Jatuhnya AirAsia QZ8501
Inilah Struktur 'Black Box', Sumber Informasi Penyebab Jatuhnya AirAsia QZ8501 ()

Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan.

Penempatan kotak hitam ini dilakukan sedemikian rupa sehingga mudah ditemukan.

Umumnya terdapat dua unit kotak hitam yang terdiri dari Cockpit Voice recorder (alat perekam suara di ruang kemudi pilot) dan Flight data recorder(alat rekam data penerbangan) dan di era abad ke 20 pabrik elektronik ini menggabungkan kedua alat ini yang kemudian populer sebagai nama Combi Box Recorder yaitu combinasi dari data dan suara.

Kedua alat tersebut memilki pemantauan fungsi dari ruang kemudi, namun data rekaman yang terletak pada recorder data tersebut umumnya diletakkan pada bagian ekor pesawat.

Baca: Daftar Terbaru Pemain Persib Bandung Usai Transfer Pemain Jelang Kompetisi Musim 2019

Baca: Tragedi Maut di Sirkuit Sentul, Biker Igbal Hakim Tewas, Naik Motor Jalanan Terkencang di Dunia

Baca: Harga Motor Ducati Panigale V4 S yang Kecelakaan di Sirkuit Sentul Hampir Rp 1 M, Powernya 2X Avanza

Editor: bandot
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved