Breaking News:

Sejarah dan Makna dari Pohon Natal Gunakan Cemara yang Dihias, Hidup Kekal dan Penuh Berkah

Memasuki bulan ke-12 di tahun ini, nggak hanya perayaan tahun baru aja yang dinanti-nantikan. Ada perayaan Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember.

Penulis: Leonardus Yoga Wijanarko | Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
TRIBUN JAMBI/ALDINO
22122016_pohon natal2 

Tanggung jawab baru Bonifasius sebagai seorang uskup di zaman itu, bukanlah hal yang mudah. Dirinya harus mengubah cara berpikir warga setempat yang masih kental dengan pemujaan kepada dewa Thor sebagai dewa mereka.

Dari perjalanan misionarisnya, Bonifasius tahu bahwa di musim dingin penduduk desa Geismar berkumpul di bawah sebuah pohon Oak besar yang didedikasikan sebagai tempat pemujaan untuk dewa Thor.

Acara pemujaan berpusat pada pengorbanan manusia dan biasanya yang dipilih adalah anak kecil. Bonifasius ingin mengubah desa tersebut dengan menghancurkan pohon Oak yang dijadikan warga sebagai tempat berkumpul untuk melakukan pemujaan.

Saat itu tepatnya di malam Natal, Bonifasius beserta beberapa rekannya melakukan perjalanan ke daerah Geismar, Jerman. Setibanya di daerah tersebut, mereka mendapati warga setempat tengah berkumpul di hutan, tepatnya di bawah pohon Oak untuk melakukan pemujaan kepada dewa Thor.

Baca: Hari Ini, Presiden Jokowi Resmikan 7 Ruas Tol, Bagian dari Tol Trans-Jawa, Begini Detailnya

Baca: Orang Tua Halika Harus Dirujuk ke RS Padang, Bus Terguling di Jalan Lintas Bungo-Tebo

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, tak ada hal lain yang bisa menyenangkan dewa Thor selain persembahan kurban manusia. Beberapa anak telah dipilih untuk dipersembahkan sebagai kurban pemujaan kepada dewa Thor.

Di bawah pohon Oak, warga setempat telah membangun sebuah api unggun yang sangat besar dan sebuah mesbah khusus untuk meletakan kurban kepada dewa.

Bonifasius kemudian mengambil kapak dan menebang pohon Oak tersebut. Di balik pohon Oak raksasa itu, tumbulah sebatang pohon Cemara muda.

Dengan dipenuhi sukacita, Bonifasius berbicara kepada banyak orang bahwa malam itu tidak akan ada kurban darah manusia, sebab malam itu adalah malam kelahiran Sang Juruselamat.

St. Bonifasius lalu menegaskan kepada warga setempat bahwa, “Pohon kecil ini akan menjadi pohon kudus kalian mulai malam ini. Pohon ini adalah pohon damai dan lambang kehidupan abadi, sebab daun-daunnya senantiasa hijau. Lihatlah, bagaimana daun-daun itu menunjuk ke langit, ke surga.

Baca: Kumpulan Ucapan Natal dan Tahun Baru 2019, Gambar dan Tulisan Ucapan Cocok untuk WA FB

Baca: Peningkatan Arus Penumpang di Pelabuhan LLASDP Kuala Tungkal Diperkirakan H-3 Natal

Biarlah pohon ini dinamakan pohon kanak-kanak Yesus. Berkumpullah di sekelilingnya, bukan di tengah hutan yang liar, melainkan dalam rumah kalian sendiri. Di sana ia akan kelilingi, bukan oleh persembahan darah yang tercurah, melainkan persembahan-persembahan cinta dan kasih.”

Berdasarkan kisah inilah di abad berikutnya, tradisi Katolik menggunakan pohon Cemara sebagai pohon Natal dan lambang untuk merayakan kelahiran Yesus. Tradisi ini kemudian menyebar luas ke seluruh Jerman, hingga saat ini.

Buat kalian yang merayakan Natal, sudahkah kalian mempersiapkan pohon Natal dengan hiasan-hiasan menarik dan lucu?

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved