Breaking News:

Harga TBS Anjlok, Petani Sawit Tanjab Barat, 'Wajar Nunggak Motor, dan Bank'

"Petani hancur, sekarang musim penghujan, jauh sawit tidak keluar, harga anjlok. Hancur petani sekarang," kisahnya.

Penulis: Darwin Sijabat
Editor: Deni Satria Budi
tribunjambi/darwin
Petani sawit di Tanjung Jabung Barat 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Darwin Sijabat

TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL - Harga kelapa sawit di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, masih di bawah harapan petani. Harga kelapa sawit yang tergolong murah ini sangat mempengaruhi hidup sehari hari masyarakat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Seperti yang diungkapkan Samsuri, petani kelapa sawit di Desa Bram Itam Raya, Kecamatan Bram Itam, Tanjab Barat. Menurutnya, saat ini harga sawit masih terbilang anjlok.

Sehingga hal itu mempengaruhi kehidupannya. Sebab saat ini persaingan semakin ketat sementara harga komoditi murah sedangkan bahan pokok mahal.

Baca: Pemkab Muarojambi, Harap Petani Sawit Bermitra dengan Perusahaan

Baca: Harga Pupuk Mahal, Harga TBS Anjlok, Petani Sawit di Muarojambi Menjerit

"Sekarang ini payah, persaingan itu makin hari makin ketat. Pencarian semakin susah, bahan pokok sekarang bertambah mahal, harga pertanian murah," jelasnya, kepada Tribunjambi.com, Kamis (13/12/2018).

Diceritakannya jika saat ini untuk belanja bahan pokok seperti gula, bahan dapur dan semacamnya jika punya uang Rp 100 ribu tidak cukup.

"Jadi wajar-wajar aja kalau masyarakat itu menunggak uang motor, bank, wajar-wajarlah," ungkapnya.

Saat ini harga tandan buah segar sepengetahuannya mulai naik. Gambaran yang ia dapat harga saat ini dan Rp 650 sampai Rp 700 per kilogramnya. Sedangkan sebelumnya satu kilogramnya dihargai sekitar Rp 550 saja.

Harga sawit anjlok, sementara harga pupuk mahal. Keadaaan ini membuat petani sawit di Muarojambi menjerit
Harga sawit anjlok, sementara harga pupuk mahal. Keadaaan ini membuat petani sawit di Muarojambi menjerit (tribunjambi/syamsul bahri)

Hasil hitungan panennya saat ini misalnya sebanyak dua ton sekali panen, hasilnya sekitar Rp 1 juta.

Jumlah itu masih hitungan kotor, sebab masih dikurangkan dengan upah panen Rp 200 ribu per ton, dan upah melansir Rp 50 ribu per ton.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved