Soal Reuni 212, Effendi Gazali Sampai 3 Hal di ILC, Irma Suryani 'Jangan Provokatif & Berat Sebelah
Pakar Komunikasi Politik, Effendi Gazali memberikan pernyataannya terkait aksi 212 yang digelar di Monas 2 Desember 2018 lalu.
Effendi Gazali sampaikan 3 hal di ILC soal Reuni 212, Irma Suryani bilang jangan provokatif dan berat sebelah
TRIBUNJAMBI.COM - Pakar Komunikasi Politik, Effendi Gazali memberikan pernyataannya terkait aksi 212 yang digelar di Monas 2 Desember 2018 lalu.
Pernyataan tersebut ia sampaiakan dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang ditangkan oleh tvOne, Selasa (4/12/2018) malam.
Dilansir Tribunjambi.com dari acara Indonesia Lawyer Club, belum selesai penjelasan dari Effendi Gazali terkait aksi tersebut, Tim Kemenangan Calon Presiden Nomor Urut 1 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, Irma Suryani Chaniago memotong penjelasan Effendi.
Dikatakan oleh Irma, jika penjelasan yang disampaiakan oleh Effendi seakan menyudutkan satu pihak dan terkesan provokatif.
Baca: Pesona Priyanka Chopra saat Menikah dengan Nick Jonas, Hingga Detail Pernikahan yang Penuh Air Mata
Baca: Debat di ILC soal Politisasi dengan Boni Hagens, Dedi Gumelar Saya Boleh Pulang Enggak
Baca: Sudjiwo Tedjo Sindir Timnas dan Wartawan saat Acara di ILC, Ini Sambutan yang Didapatnya
Irma juga mempertanyakan peran Effendi dalam penyampaian penjelasan tersebut.
"Saya ingin mempertanyakan sesuatu kepada Bang Effendi Gazali, Anda berdiri di sini duduk di sini, untuk memberikan pencerahan kepada bangsa ini, atau bicara dari sisi sebelah, atau mau bicara sebagai orang yang berada di tengah" jelas Irma, Selasa (4/12/2018).

"Karena dari tadi, saya dengar, yang disampaikan itu justru provokatif menurut saya, terus terang saja, saya nggak sama sekali khawatir dengan 212, bahkan kami santai-santai saja," lanjutnya.
Irma kemudian menjelaskan jika seharusnya, sebagai pengamat pollitik, Effendi Gazali harus menyampaikan hal yang jujur.
"Tapi, sebagai pengamat harusnya Anda bicara jujur, Anda bicara jangan berat sebelah, Anda jangan mengarahkan opini kepada masyarakat, ini nggak baik juga Bang," jelas Irma.
Baca: Kesaksian Jimi - Selamat dari KKB di Nduga Papua Dijemput Paksa & Ditembaki dengan Tangan Terikat
Baca: Disiarkan RCTI Online, Buka Link Live Streaming PSCS Cilacap vs Persib Bandung, Lihat Prediksi
Baca: Musim Hujan, Muncul Kolam Dadakan di Kantor Bupati Muarojambi
"Itu menurut saya harus didudukkan dulu disini sehingga apa yang keluar dari pencerahan yang anda sampaikan untuk rakyat indonesaia ini, memang betul-betul ingin mempersatukan, bukan malah ingin memprovokasi" pungkas Irma.
Dalam acara ILC yang mengusung tema "Pasca Reuni 212: Menakar Elektabilitas Capres 2019" tersebut, diketahui jika Effendi Gazali menyampaikan tiga point terkait pelaksanaan aksi Reuni Akbar 212 di Monas.
Effendy Gazali, Pakar Komunikasi Politik (Akun youtube Indonesia Lawyer Club)
Effendi mempertanyakan terkait lembaga survey yang melakukan survey terkait elektabilitas dari kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Ia menanyakan terkait sumber pembiayaan dari lembaga survey tersebut.
"Siapa sih sebetulnya yang bayar lembaga-lembaga survey itu, dan menyampaikan hasilnya dalam rangka apa, itu sangat penting" tanya Effendi.
Menurut pemahaman Effendi, selama ini lembaga yang melakukan survey menggunakan dana pribadi untuk mendapatkan hasil survey terkait elektabilitas kedua pasangan calon.
"Anda kalau mengekspos elektabilitas pasangan capres, selalu bilang dibayar dari dana sendiri, betul kan? Pertanyaan saya, sudah berapa kali anda mengeluarkan dan dibayar dari dana sendiri? Dengan jumlah berapa?," jelas Effendi.
Selanjutnya, Effendi juga mengungkapkan jika ada semacam kekhawatiran terkait elektabilitas sehingga terdapat media yang mencoba untuk menyembunyikan acara 212, dan tidak mempublikasikannya.
"Coba tanyakan, apakah ada acara sebesar ini barangkali yang etrbesar di dunia, ada nggak yang mengajarkan jika media boleh blok dan menutup hak infomasi publik dan seakan akan itu tidak terjadi," terang Effendi disambut tepuk tangan penonton.
Baca: Kisah Mandor Jembatan Ndunga Pura-pura Mati Saat KKB Papua Tembaki Sandera, Lari Pontang-panting
Baca: Mata Najwa Edisi Rabu (5/12) Angkat Tema Barisan Para Mantan, Deretan Politisi Pindah Gerbong
Yang terakhir, Effendi menyampaikan jika aksi tersebut berakhir apda pengukuran elektabilitas dari kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Lalu ia menanyakan apa dampak dari naik atau turunnya elektabilitas tersebut pasca aksi 212 yang digelar.
"Nah, setiap pertanyaan elektabilitas pasti muncul di belakangnya kalau dia naik mengapa, kalau dia turun mengapa ? itu jauh lebih penting," jelas Effendi.
Effendi lantas menjelaskan jika Reuni 212 tahun ini menarik, tapi tidak dijelaskan secara jelas maksud tujuan massa datang sebenarnya untuk apa.
Effendi membandingkan dengan tujuan aksi yang pertama digelar pada 2016, yang mana para peserta melakukan aksi karena ada penistaan agama.
"Namun saya tidak melihat pintu masuk yang luar biasa, mengapa orang datang pada aksi kemarin, semua jawaban yang diberikan mengatakan jika islam itu indah islam itu damai" terangnya.
Effendi lantas mengungkapkan satu hal penting yakni ketidakadilan.
"Saya menemukan kata ketidakadilan, jadi itu diungkapkan, tapi ketidakadilan seperti apa, itu harus diliat dari beberapa sisi" terangnya.
Sekilas Tentang Reuni 212 di Monas
Diberitakan sebelumnya, dilansir TribunWow.com dari WartaKotaLive, Senin (3/12/2018), Ketua Panitia Reuni Akbar Mujahid 212, Ustaz Bernard Abdul Jabbar menuturkan jumlah peserta reuni 212 yang ikut berpartisipasi.
Menurutnya, berdasarkan informasi dari media, peserta aksi 212 mencapai 8 hingga 10 juta jiwa.
"Kalau dulu sekitaran tujuh juta, tapi sekarang menurut informasi dari media yang menggunakan drone, itu hampir sekitar 8-10 juta yang hadir," ujar Bernard di Monas, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (2/12/2018).
Lanjutnya, Bernard menduga itulah penyebab sejumlah peserta membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mencapai kawasan Monas.
Menurutnya peserta bahkan harus berdesak-desakan untuk mencapai Monas, meski berjalan kaki.
"Ya secara signifikan, kendalanya mungkin karena banyaknya jumlah peserta sehingga menyebabkan desak-desakan, mereka yang datang tidak kebagian pintu masuk, sehingga mereka berada di jauh.
Dari reuni terebut, sejumlah Tokoh Politik juga turut menghadiri acara reuni akbar 212, salah satunya adalah Calon Presiden Nomor Urut 2, Prabowo Subianto.

Walaupun sebelumnya, dikabarkan panitia akan mengundang Presiden Jokowi, namun akhirnya diputuskan jika Jokowi tidak diundang lantaran berbagai pertimbangan.
Sebelumnya, panitia reuni 212 kabarnya mengundang kedua pasang capres-cawapres.
Ketua umum persaudaraan alumni 212, Slamet Maarif menyatakan, pembatalan undangan untuk Jokowi diputuskan Jumat sore (30/11/2018) dengan sejumlah pertimbangan.
"Ada masukan dari ulama-ulama serta imam besar, akhirnya panitia memutuskan tidak mengundang secara tertulis ke Pak Jokowi dengan berbagai pertimbangan yang ada," kata Slamet Maarif, seperti dilansir Tribunjambi.com dari KompasTV.
Slamet Maarif malah meminta agar Jokowi untuk tidak datang pada acara tersebut.
"Kami sarankan tidak hadir untuk kepentingan beliau juga. Sekali lagi, panitia memutuskan tidak undang Pak Jokowi karena enggak diundang ya kami sarankan tidak hadir. Doakan saja mudah-mudahan acaranya sukses," kata Slamet, Sabtu (1/12/2018), ditemui di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat seperti yang dikutip dari Tribunnews.
(TribunWow.com/Nila Irdayatun Naziha)