Usaha Dodol Buah Naga di Tebo, Terkendala Daya Tahan Produk
“Dua kelompok ini sudah kita beri pelatihan, cuma belum juga ditemukan resep agar dodol buah naga prodak kita bisa bertahan lama,“ ujarnya.
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Deni Satria Budi
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM, TEBO - Dinas Perindustrian Perdagangan dan Ketenagakerjaan (Disperindagnaker) Kabupaten Tebo, berambisi mempekerkenalkan komoditas buah naga menjadi produk olahan.
Disperindagnaker melalui Usaha Kecil Menengah (UKM) mencoba memperkenalkan dodol buah naga.
Sayangnya upaya ini masih terkendala daya tahan produk. Pasalnya, buah naga yang telah diolah menjadi dodol buah naga, tidak bertahan lama.
Baca: Di Rimbo Ilir, Warga Buat Dodol dari Buah Naga, Segini Harganya Perkilo
Kabid Industri Disperindag Naker Kabupaten Tebo, Ridwan mengatakan, jika dodol buah naga hanya dapat bertahan maksimal 10 hari, padahal makanan olahan yang memiliki daya tahan lebih lama memiliki pasar yang luas.
“Kalau untuk prodak sudah lumayan bagus. Namun kita terkendala pada ketahanan produk. Dodol buah naga produksi kita paling lama bisa betahan 10 hari,” ujar Ridwan.
Baca: Bangkrut Sejak Suami Ditahan KPK, Sherrin Tharia Kini Jualan Jilbab, Zumi Zola Sampai Lakukan Ini
Di Tebo, kata Ridwan, ada dua kelompok UKM yang fokus mengelola buah naga menjadi dodol. Masing-masing kelompok beranggotakan 20 orang.
“Dua kelompok ini sudah kita beri pelatihan, cuma belum juga ditemukan resep agar dodol buah naga prodak kita bisa bertahan lama,“ ujarnya.
Baca: Jelang Piala AFF 2018 - Jadi Lawan Pertama Timnas Indonesia Berikut Profil Lengkap Timnas Singapura
Pihaknya berniat meningkatkan pelatihan atau magang untuk kedua kelompok usaha dodol tersebut.
“Bakal kita magangkan. Lokasinya kemungkinan di Garut atau Kudus, atau di Kerinci. Soalnya prodak dodol disana tahan lama, “ bilangnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/buah-naga_20180311_112823.jpg)