Hari Sumpah Pemuda 2018, Presiden Jokowi Sentil Politikus Sontoloyo Ini Pesannya Untuk Pemuda

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali sentil politisi sontoloyo dalam pidatonya terkait Hari Sumpah Pemuda.

Editor: bandot
Presiden Joko Widodo menyampaikan paparan pendahuluan ketika memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/10/2018). Sidang kabinet paripurna tersebut membahas evaluasi penanganan bencana alam. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/hp 

TRIBUNJAMBI.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali sentil politisi sontoloyo dalam pidatonya terkait Hari Sumpah Pemuda.

Jokowi sebelumnya geram dengan ulah para politisi yang menurutnya berupaya memecah belah.

Di hari Sumpah Pemuda Jokowi menyebutkan pentingnya persatuan dan kesatuan sebagai aset terbesar bangsa Indonesia.

Sumpah pemuda adalah satu tonggak utama dalam zejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia yang diperingati setiap 28 Oktober.

Dalam kunjungannya ke Surabaya, Jawa Timur, Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergandengan tangan menjaga persatuan, persaudaaraan, perdamaian dan kerukunan.

Baca: Sumpah Pemuda 2018 - 10 Kata Soekarno yang Mendunia dan Membakar Semangat Pemuda Indonesia

"Di hari yang bersejarah ini (hari sumpah pemuda), jangan sampai karena hal-hal kecil kita menjadi terpecah, terbelah," kata Jokowi usai memberi pengarahan kepada Kader Partai Demokrat di Surabaya, Minggu (28/10/2018).

Jokowi meminta agar masyarakat tidak mudah dibohongi dan terpengaruh dengan isu-isu yang belum jelas kebenarannya.

"Jangan rakyat dibohongi dengan data-data ngawur, itu yang saya sebut kemarin politikus sontoloyo, ya seperti itu," ujar Jokowi.

Baca: Cocok Buat Kids Zaman Now Ucapan Sumpah Pemuda Dalam Bahasa Inggris & Indonesia, Buruan Dicek!

Baca: Live Streaming SCTV Barcelona Vs Real Madrid, El Clasico Tanpa Messi & Ronaldo Ini Prakiraan Pemain

Baca: Live Streaming Indosiar Arema FC Vs PSMS Medan, Siaran Langsung TV Online Liga 1 Hari Ini

Dalam persaingan global sekarang ini, menurut Jokowi, bukan negara besar mengalahkan negara kecil atau miskin.

Tetapi negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lamban.

"Oleh sebab itu, kita perlu cepat dalam merespons perubahan. Kita harus cepat dalam memutuskan setiap kebijakan," imbuh Jokowi.

"Sekali lagi, aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, persaudaraan dan kerukunan," sambungnya.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved