Halte Air di Kecamatan Mendahara Dinilai Membahayakan, Dinas Perhubungan Membantah

Keberadaan halte sungai di Dusun Barokah, Desa Bakti Idaman, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur

Halte Air di Kecamatan Mendahara Dinilai Membahayakan, Dinas Perhubungan Membantah
TRIBUN JAMBI/ZULKIFLI

Laporan Wartawan Tribunjambi.com Zulkifli

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Keberadaan halte sungai di Dusun Barokah, Desa Bakti Idaman, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) dikeluhkan oleh warga. Menurut warga, selain bangunannya menjorok hingga ke tengah sungai, Halte itu juga tidak dilengkapi dengan fasilitas penerangan secara permanen, sehingga dikhawatirkan dapat memicu terjadinya kecelakaan.

Baca: Ivan Wirata dan Cik Bur Serius Garap Muaro Jambi

Halte sungai dibangun menggunakan dana bersumber dari APBN tahun 2018 oleh pihak Kementerian Perhubungan, Satker Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah V Provinsi Jambi. Bila diamati dari kejauhan, memang bangunan halte sungai tersebut terlihat menjorok hingga ke tengah sungai.

Sejumlah warga Desa Bhakti Idaman, Ardani dan Doni menuturkan, karena halte sungai menjorok hingga ke tengah sungai, hal tersebut bisa sangat membahayakan bagi alat transportasi air yang belum terbiasa melintasinya, terlebih disaat malam hari. "Kami menyayangkan belum adanya fasilitas lampu penerangan yang dibangun secara permanen di halte," sebutnya.

Warga menjelaskan, sebelumnya bangunan halte sungai ini sudah dilengkapi dengan lampu penerangan menggunakan baterai seperti di kapal kapal pompong, namun sudah dua kali ini lampu yang dimaksud hilang.

Hal senada juga diutarakan Kepala Desa Bhakti Idaman, Suroso. Diakuinya, desa tidak dapat berbuat banyak dengan komplain warganya. Namun, kedepan saya berharap halte sungai yang telah dibangun dapat dilengkapi dengan fasilitas lampu penerangan yang permanen.

Baca: Hari Terakhir Pendaftaran CPNS 2018, 4 Formasi di Kerinci Masih Belum Ada Pelamar

Baca: 30 ASN Pemkot Jambi Ikuti Pelatihan Bahasa Inggris

Sementara itu, Pihak Dinas Perhubungan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, melalui Kabid Lalu Lintas, Rizaldi, saat dikonfirmasi Tribunjambi.com, senin (15/10) membantah jika bangunan halte tersebut terlalu jauh ketengah dan membahayakan aktivitas pengguna trasfortasi air.

"Kalau melihat kondisi sungai yang cukup lebar ini sama sekali tidak berbahaya," ujar Rizaldi.

Dijelaskanya, sebelum mengusulkan ke Kementerian pihaknya telah menyusun perencanaan. Dalam tahap perencanaan sudah ada tahapan-tahapan yang diikutkan seperti meminta informasi dari warga.

"Kita berharap halte ini dibuat bisa dimanfaatkan dalam kondisi apapun. Baik kondisi air surut terendah maupun kondisi pasang tertinggi. Kalau dikatakan terlalu jauh ke tengah, itu tidak. Karena itu batas terendah air ketika air surut," jelas Rizaldi.

Namun diakui Rizaldi, ada kekurangan dalam pengusulan pembangunan halte tersebut yakni dari sisi penerangan maupun rambu-rambunya.

Baca: Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Terpadu Pembangunan Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi

Baca: Banyak Orang Kuat Maju Pileg, Muaro Jambi Jadi Daerah Tempur

Baca: Diasingkan dari Barisan, ini Alasan Mereka Tak Pakai Atribut

"Tahun ini Dinas Perhubungan mengaggarkan untuk rambu peringatan dan rambu petunjuk. Dan kami juga berharap, Semoga ditahun depan ini juga bisa dimasukkan anggaran untuk lampu penerangan halte menggunakan solar sel," pungkas Rizaldi.

Penulis: Zulkifli
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved